Jalan-jalan ke Surabaya

Menapakkan kaki kembali di Kota Surabaya, adalah salah satu impianku. Dulu aku pernah ke Surabaya, namun hanya beberapa jam. Setelah turun dari kapal PELNI yang membawaku dan rombongan teman kampus dari pelabuhan Semayang Balikpapan, pelabuhan Tanjung Perak menyambut kami dengan segala keriuhannya. Kami dibawa ke agen bis travel yang akan membawa kami untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta, lewat jalur pantura. Di tempat mangkal bis inilah aku dan rombongan menunggu ketersediaan bis selama beberapa jam. Meskipun waktu untuk menunggu bis cukup lama, dari pagi hingga sore, kami tetap tidak sempat menikmati keberadaan kami di Kota Surabaya.

Aku sangat bersyukur karena pada bulan April tahun 2011 lalu, aku berkesempatan untuk kembali berada di Kota Surabaya, kali ini untuk beberapa hari. Karena jamannya sudah berbeda, dimana tiket pesawat sudah lebih mudah untuk diperoleh, kali ini perjalananku menuju Surabaya melalui gerbang pelabuhan udara, bukan pelabuhan kapal laut.

Berada dalam taksi sendirian selalu menjadi hal yang menakutkan bagiku. Karena tidak ada yang menjemput di bandara Juanda, aku harus memberanikan diri untuk naik taksi menuju tempat kost sepupuku yang berada di sekitaran kampus ITS. Sepupuku tak dapat menjemput karena ada suatu hal yang harus dikerjakannya. Mestinya Pak Supir lebih paham seluk beluk Kota Surabaya dong, ucapku dalam hati saat supir bertanya padaku arah mana yang harus ditempuh. Meneketehe! Dan aku mencoba menikmati pemandangan di luar taksi, mencoba mengenali wajah Kota Surabaya.

Alhamdulillah, setelah untaian do’a yang tak henti terucap dalam hati, termasuk do’a ibu bapak, do’a sapu jagad, tapi bukan do’a mau tidur dan do’a masuk kamar mandi, akhirnya aku tiba juga di depan rumah tempat sepupuku tinggal selama beberapa tahun ia menjalani perkuliahan di kampus ITS. Bulan Maret sebelumnya, ia sudah diwisuda untuk jenjang strata 1 yang diambilnya. Rasa senang menghembus antara kami berdua, karena hampir setahun kami tidak bertemu.

Karena aku sangat ingin jalan-jalan di Kota Surabaya, adik sepupuku itu berbaik hati mengantarku melihat-lihat. Sepeda motornya menjadi tunggangan kami dalam menyusuri Kota Surabaya. Dengan naik sepeda motor, detil-detil kota seolah-olah jadi lebih jelas. Penilaianku yang pertama tentang jalan di Kota Surabaya adalah lebar dan tidak ada tanjakan atau turunan, kecuali lewat jembatan layang. Banyak daerah yang pinggir jalannya di tanami pohon-pohon yang tumbuh besar, sehingga kesannya sangat rindang.

Sebenarnya bagian dari mimpiku ke Surabaya adalah kopdar. Bagi seorang blogger, dalam rangka mengukuhkan eksistensi persahabatan yang selama ini telah terjalin di dunia maya bagi sesama pemilik blog, kopdar adalah sebuah keharusan. Saat perjumpaan melalui tulisan di blog dan pengenalan sosok melalui foto-foto yang ada, berubah menjadi pertemuan berhadap-hadapan, inilah saatnya yang maya menjadi nyata.

Kopdar Surabaya

Karena kopdar menjadi agenda yang utama, kopdarlah yang kulakukan pada hari pertama menginjakkan kaki di Surabaya. Aku sangat berterima kasih kepada Pakdhe Cholik, blogger beken yang berdomisili di Surabaya, yang telah memprakarsai pertemuan kami, serta beberapa sahabat blogger lainnya, yaitu Kang Yayat, Mbak Yuni, Gaphe, Inge.

Usai kopdar, apalagi yang bisa dilakukan di Surabaya? Tentu saja berburu kulinernya. Aku tidak tahu apa makanan khas Surabaya, atau dimana pusat kuliner Surabaya. Beberapa sahabat maya memberikan referensi tempat makan yang bagus, atau merupakan ciri khas Surabaya, namun kata sepupuku ternyata cukup jauh. Jadinya aku hanya ikut arahan sepupu yang menemaniku di sela  kesibukannya mempersiapkan kepulangannya.

Karena aku adalah penggemar coklat, sepupuku mengajakku ke Dapur Coklat. Coklat pralin-nya sangat enak, jauh lebih enak dari coklat buatanku sendiri. Yang kusayangkan hanya masalah harganya, jadi tak berani mengambil banyak-banyak.😀

Bebek Mercon

Aku jadi sangat suka makan bebek, setelah pulang dari Surabaya. Berawal dari saat aku ke Gresik dan makan bebek di Warung H. Slamet, kemudian makan bebek mercon yang pedasnya meledak-ledak di mulut. Selama sisa hari di Surabaya, aku minta diantar makan bebek di warung mana saja yang ada di sekitar tempat kost sepupuku di kawasan Sutorejo. Sampai-sampai sepupuku bosan dengan permintaanku, lalu kami beralih ke menu yang lain.

Jamur Krispi

Iga penyet bakar Leko, menjadi salah satu pilihan kami. Aku pernah makan sup iga, atau iga masak asam, kali ini aku sangat menyukai iga penyet ini. Ternyata teksturnya lembut. Di lain kesempatan, sepupuku juga mengajakku makan di Keputih. Pilihan kami jatuh pada Saung Jamur. Kebetulan aku belum pernah makan jamur seperti yang dijual di saung itu. Aku memesan nasi bakar jamur dan sepupuku memesan Naruto (kalau tidak salah). Seporsi jamur krispi juga kami tambahkan pada daftar pesanan kami.

Es Krim Zangrandi

Yang paling mengesankan diantara tempat-tempat yang kukunjungi adalah Es Krim Zangrandi. Wadah makan es krim rumahan ini rupanya sangat terkenal. Terbukti dengan pengunjung yang datang silih berganti. Aku dan sepupu saja hampir tidak kebagian tempat duduk. Untung saja ada seorang yang sudah hampir selesai, cepat-cepat menghabiskan es krimnya, akibat jengah kami pelototin melulu.

Mendekati detik-detik kepulanganku dan sepupu, kami semakin sibuk dengan urusan packing barang sepupuku yang dimasukkan dalam tiga dus besar. Berat masing-masing dus mencapai puluhan kilogram. Kami mengirimkannya lewat pos yang menggunakan kapal laut, agar biayanya lebih murah. Karena cukup sibuk dalam pengepakan, kami tak dapat keluar untuk makan. Sepupuku membeli nasi padang untuk mengganjal perut kami. Menurutku harga Rp 8.000 untuk nasi padang yang enak, sangatlah murah. Di Samarinda, kini standar sebungkus nasi padang adalah Rp. 13.000.

Sepertinya cukup berat bagiku dan sepupuku meninggalkan Kota Surabaya. Terbukti dengan kami berdua ketinggalan pesawat yang seyogyanya akan mengantar kami kembali ke bumi Kalimantan. Ah, mungkin ini hanya alasan kami yang salah memperhitungkan waktu, belum lagi kemacetan yang terjadi sebelum memasuki tol menuju Bandara Juanda. Kami tiba di bandara beberapa saat sebelum pesawat tinggal landas, yang artinya sudah sangat terlambat. Alhamdulillah ada pesawat lain yang tidak terlalu jauh waktu keberangkatannya, meskipun kami harus merogoh kocek lagi lebih dalam untuk pembelian tiket.

Kesimpulanku, aku merasa nyaman saat berada di kota Surabaya. Rasanya bila diberi pilihan, kota mana di luar Kalimantan yang ingin kudiami, aku akan memilih Surabaya.

_____________________________

 

24 thoughts on “Jalan-jalan ke Surabaya

  1. Jamur crispy nya enak, mba… sama coklat juga enakk, hehe😀
    kalo bebek aq belum pernah nyoba, dan memang kurang suka daging. hihii..😀

    btw, makanan khas surabaya apa ya? aq lupa… kalo ga salah namanya lontong balap. iya ga ya, mbak?😕

  2. Wew, aq jadi ngiler nih Mbak baca..
    kalau ke Surabaya aq pernahnya maem Nasi bebek depan tugu pahlawan enyak enyak..
    kalau bebek mercon aku belum pernah
    pengen nyoba juga ah sama iga penyetnya
    *nglirik suami*
    sukses kontesnya yah Mbak..

  3. Hiks… aku udah gak pulang tiga tahun, Mbak… Ke Surabaya tentunya…😥

    Dan memang, saya sampe sekarang menyatakan bahwa Surabaya amat nyaman utk ditinggali. Gak apa2 meskipun panas. Hati saya tetap untuk Surabaya.😳

  4. Surabaya kota kelahiran saya …

    Dulu panas …
    Sekarang sudah semakin rindang dan banyak pepohonannya …
    setiap ada lahan kosong … pasti akan ditanami oleh tanaman-tanaman yang hijau asri

    Walikotanya patut saya pujikan …

    Salam saya Kakaakin

  5. Ngiler nih pas baca tentang kulinernya, hehe….

    Saya pernah ke Surabaya, tapi cuma transit di stasiun, trus langsung meneruskan perjalanan ke Jember. Tapi sempat mampir ke salah satu mal di sana, hehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s