Pengalaman Pertama Menjadi Orang Ketiga

Lorong rumah sakit umum itu ramai dilalui oleh mahasiswa keperawatan yang sedang praktik lapangan. Waktu menunjukkan sekitar pukul 2 siang, saatnya pertukaran shift antara yang  jaga pagi dan sore. Tampak dua orang sahabat dengan seragam khas mahasiswa keperawatan berdiri di depan bangsal penyakit dalam. Yang laki-laki baru akan menuju bangsal anak di samping bangsal penyakit dalam, sedangkan yang perempuan sudah akan pulang karena sudah menyelesaikan giliran jaganya siang itu di bagian penyakit dalam.

Mahasiswa perempuan itu adalah Akin. Dia sangat senang bertemu dengan Adhi, sahabatnya yang  lucu, imut dan berkacamata itu. Kesibukan praktik di rumah sakit malah membuat mereka jarang bertemu. Berbeda dengan saat teori di kampus, mereka selalu bertemu karena memang sekelas.

Pembawaan Adhi ramah, banyak disukai orang. Ia dikenali oleh hampir seluruh pegawai rumah sakit umum, dari IGD sampai kamar jenazah. Berbeda dengan Akin yang pembawaannya kalem, sesuai dengan mottonya ‘try to be cool and smart‘. Kebetulan Akin dan Adhi kursus Bahasa Inggris di tempat yang sama, sehingga mereka juga kerap bertemu diluar perkuliahan. Akin juga kenal dengan Ayu, pacar Adhi yang tidak sekampus dengan mereka.

Adhi yang biasanya ceria, siang itu tampak diam dengan wajah yang serius. Akin menangkap sesuatu yang berbeda dari Adhi.

Ada apa, Dhi? Kamu baik-baik aja?” Tanya Akin khawatir.

Gak ada apa-apa kok

Beneran?”

Iya

Ya sudah. Aku masuk dulu ya. Nanti malam aku ke kosmu ya. Mau belajar komputer lagi nih” kata Akin. Ia ingat beberapa hari yang lalu tangannya masih belum lincah saat berusaha menggerakkan mouse. Adhi berlalu sambil melambaikan tangan.

Tanpa sepengetahuan kedua sahabat itu, ternyata di balik salah satu pilar lorong rumah sakit, ada seorang gadis yang menguping pembicaraan mereka. Emosi membucah di benak gadis itu. Dengan geram ia berlalu pulang ke kamar kosnya sambil menyusun rencana pembicaraan dengan laki-laki berkacamata itu.

*****

Pada suatu siang tersebar kabar yang mengebohkan diantara teman-teman Akin. Ayu, pacar Adhi mengiris pergelangan tangan kirinya dengan sebilah pisau. Untunglah ia selamat. Sekarang sedang menjalani perawatan intensif, bukan di rumah sakit umum, tetapi di rumah sakit jiwa. Rupanya stres tingkat tinggi telah melandanya.

Akin bertanya-tanya dalam hati, apakah tindakan nekat Ayu itu ada kaitannya dengan kemurungan wajah Adhi beberapa waktu yang lalu? Akin mencoba mengorek informasi dari Adhi, namun ia tak dapat menemuinya. Hanya selentingan kabar saja yang diperolehnya sana-sini. Ayu dan Adhi terlibat pertengkaran hebat. Ayu tidak terima karena telah diputus oleh Adhi, sedangkan penyebab putusnya mereka adalah kehadiran orang ketiga.

Akhirnya beberapa hari kemudian Akin mendengar kabar bahwa Ayu sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Ayu kembali ke kosnya bersama kedua orang tuanya. Meskipun masih lemah, namun Ayu sudah cukup tenang. Ia menolak untuk pulang ke kota asalnya karena ingin meneruskan kuliahnya. Teman sekos Ayu yang diandalkan untuk mengawasi dan menolongnya jika memerlukan bantuan.

*****

Pada 27 Agustus…

Akin sedang bercengkrama dengan teman sekosnya di balkon sore itu. Tanpa ia duga, ia kedatangan seorang tamu. Ayu, gadis berparas manis itu berdiri di depan pintu. Sepintas Akin memperhatikan sosok Ayu secara keseluruhan, masih tampak tempelan plester di pergelangan tangan kirinya. Akin mengajak Ayu naik ke kamar kosnya yang terletak di lantai 2. Mereka langsung terlibat pembicaran umum. Teman Akin yang lain juga bergabung dalam perbincangan itu. Hingga pembicaraan kemudian menjurus ke pribadi mereka.

Aku cemburu sama kamu” ucap Ayu.

Hah? Kok bisa?” Akin terkaget-kaget. Ini berarti dirinyalah yang dianggap sebagai sumber pertengkaran yang berujung kenekatan Ayu mencoba bunuh diri.

Kukira gara-gara kamu Adhi memutuskanku. Aku sering melihat keakraban kalian. Termasuk hari itu waktu di depan bangsal penyakit dalam.

Yu, aku hanya bersahabat dengan Adhi. Gak lebih.” Akin berusaha meyakinkan Ayu, sambil berpikir ternyata Ayu mengikuti mereka sampai di rumah sakit juga.

Iya aku tahu” sahut Ayu lemah.

Ayu terdiam sejenak sambil pandangannya menerawang.

Awalnya kukira aku bisa merayakan ulang tahunku hari ini bersama Adhi” kata Ayu.

Heh? Kamu ulang tahun hari ini? Kita sama dong. Aku juga ultah hari ini. Selamat ulang tahun ya, Yu.” Akin merasa senang dan tak menyangka, ternyata ia dan Ayu memiliki tanggal lahir yang sama, meskipun Ayu lebih tua setahun dibanding dirinya.

Selamat ulang tahun juga ya, Kin. Aku minta maaf ya, karena menduga kamu yang macam-macam

Akin dan Ayu berpelukan. Tanpa mereka sadari, sebuah ikatan terbentuk antara mereka. Mungkin diawali dari kejadian yang tidak menyenangkan, namun satu yang pasti, hari ulang tahun yang sama menciptakan sesuatu yang hangat diantara mereka berdua.

Keesokan harinya Akin menerima sebuah kado dari Ayu. Isinya sebuah kartu ucapan dan sebotol parfum. Akin merasa sangat senang karena ia jarang menerima apalagi memberi kado.

*****

Aku tidak tahan dengan sikapnya. Terlalu kekanak-kanakan.” Kata Adhi kepada Akin, dalam perjalanan mereka menuju kos Adhi untuk belajar komputer, sepulang kuliah.

Hmm… begitu rupanya.

Sudah berulang kali aku memberikan kesempatan padanya untuk berubah. Bahkan kami beberapa kali putus-nyambung karena ia memohon-mohon agar aku menerimanya kembali. Tetapi ia tak jua berubah. Akhirnya hal itu terjadi

Dia mencoba bunuh diri. Syukurlah dia nggak kenapa-napa.

Iya

Dia juga cemburu padaku” kata Akin sambil tersenyum pada Adhi.

Akhirnya mereka berdua tertawa lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berjalan berdampingan sambil sesekali melompat menghindari genangan air di jalan menuju kos Adhi. Bau sampah yang tertumpuk di salah satu sudut jalan, sangat menyengat hidung. Mereka tak peduli. Persahabatan mereka begitu indah. Seindah langit sore itu.

Tiada yang dapat menduga bagaimana ujung dari persahabatan antara Akin dan Adhi, karena Allah Ta’ala telah menetapkan kehendak-Nya. Pada tanggal 22 Juli di tahun berikutnya, Adhi meninggal dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan Akin yang turut remuk dalam kecelakaan itu. Kisahnya ada disini.

_______________________________

Tulisan ini disertakan pada My First Giveaway: Pengalaman Pertama yang diadakan oleh Sitti Rasuna Wibawa.

44 thoughts on “Pengalaman Pertama Menjadi Orang Ketiga

  1. Pertamax😀
    Sungguh, meskipun judulnya adalah pengalaman pertama menjadi orang ketiga, alhamdulillah tak ada pengalaman selanjutnya dan semoga takkan pernah ada. Hehe…

  2. Waaaahhh~ pasti rasanya gimana tuh dikira orang ketiga. Tapi tetep ya mbak try to be cool and smartnya hehehe…

    Sip sip segera kucatat yaaa🙂

  3. Untung tidak jadi bunuh diri ya Mba. Bila hal itu terjadi tragis sekali ceritanya. Semoga saja sekarang masih dapat bertemu dan menjadi persahabatan ya Mba.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  4. duh seperti di sinetron aja
    klo ga baca sendiri mah ga percaya dah ini …
    sedih
    mengharu biru banget😦
    pasti takkan pernah bisa lupa ya mba?!

    sepertinya banyak ya yang pernah mengalami jadi orang ketiga … padahal mah … hmm saya sih karena engga tau hehehe … posting ahhh😀

    • lengkap banget ceritanya mengalir dan nyambung kedua artikel walaupun jadi flashback..
      Kapan mau bikin buku juga seperti bunda Lily?

  5. Dear.

    waahhh ternyata bersahabat dengan ayu makin mantep setelah ada perceksokan sekejap…. apakah emang lelaki yang memutuskan hubungan pacaran harus memberikan kejelasan alasan??? kan bisa aja putus tanpa alasan…..???.. heee.. heee… heee… sorrryyy yaaa kalo beda sendiri…

    sukses buat kontesnyaa..

    regards.
    … Ayah Double Zee …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s