Merajuk di Sudut Sepi

Hujan di luar sana sudah berhenti
Namun sisa dingin masih meresap
Bergulir tiada harap dapat berhenti
Sebait lagu yang lalu menusuk
Menyentuh setiap kepingan yang terburai
Tak tersembuhkan tak tersatukan
Tak guna cemburu pada tanah basah akan hujan
Rembulan yang indah di kala purnama
Menggenggam erat tiada daya
Mengais di diri lalu kemanakah pergi
Biarkanlah sejenak
Nikmati sepi ini…

_____________________________

Ehm… akhirnya ngakak sendiri saat membaca sesuatu seperti puisi diatas. Ingin seperti Arr Rian yang pandai berpuisi, namun apa daya, diriku tak pandai-pandai jua:mrgreen:

34 thoughts on “Merajuk di Sudut Sepi

  1. paling suka bau harum hujan yg baru turun pertama kali, dan di tangerang hujan sudah mau turun walau baru gerimis2..🙂
    dan semoga hujan selalu membawa berkah bukan bencana ya Kak🙂
    salam

  2. “Tak guna cemburu pada tanah basah akan hujan”
    suka kata2 ini Kak!…
    Kakak, saya masih belajar..
    jadi jangan banding2in ya..🙂

    ini persembahan buat Kakak.

    Rintik Sepi

    Aku menikmati sepi itu
    Sesaat setelah hujan pergi
    Hanya rintik yang tertinggal

    Pada dedaunan
    Pada sayap burung
    Pada kelopak mawar

    Lalu
    Kenangan tentangmu
    perlahan hilang
    tersapu angin.

    Aku
    Rindu kamu kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s