Kursus Singkat Membuat Kimbab

Pekan lalu salah seorang rekan kerjaku memberiku sebungkus kim. Katanya kim itu adalah oleh-oleh teman ibunya yang baru pulang dari Korea. Kim adalah rumput laut yang dikeringkan, berbentuk lembaran lebar. Aku sangat bersyukur, karena akhirnya aku nemu juga kim yang berasal dari Korea. Biasanya saat membuat kimbab, aku hanya menggunakan nori yang kubeli di supermarket. Pengalaman pertamaku membuat kimbab beserta resepnya pernah kutulis disini. Continue reading

Hanok

Majalah KOREA edisi November 2011 sudah kuterima beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa artikel yang menarik perhatianku, salah satunya adalah artikel yang cenderung selalu kubaca pada setiap edisi, yaitu artikel ‘My Korea‘ yang selalu menyajikan tulisan-tulisan yang merupakan catatan pribadi orang asing yang tinggal di Korea. Artikel My Korea pada setiap edisi memuat pengalaman yang berbeda-beda dari orang asing tersebut terhadap kebudayaan Korea. Continue reading

Ke Jakarta Lagi, Kopdar Lagi

Sebuah perjalanan yang tak terduga. Karena kakak ipar tak bisa mendampingi kakakku untuk menghadiri pernikahan saudara sepupu kami, kakakku mengajak diriku untuk berangkat bersamanya. Syukurlah, jadwal jagaku sementara bisa kualihkan ke rekan kerja. Kami merencanakan berangkat Minggu dini hari, sekitar pukul 03.00 WITA dari Samarinda, menuju bandara Sepinggan Balikpapan untuk keberangkatan pesawat pukul 06.00. Kemudian rencana pulang ke Kalimantan, pada hari Senin pagi. Continue reading

Episode Empat Belas: Rindu yang Berujung

Kisah sebelumnya ada disini.

Tak terhitung berapa tahun telah berlalu, Dimi memilih untuk berdiam diri. Beberapa pria pernah mencoba untuk mendekatinya, namun tak dihiraukan Dimi. Ainin pernah pula menasihatinya lewat telpon, agar ia membuka hati, karena Dimi kini bukan remaja lagi. Bahkan mungkin ia sudah harus serius memikirkan masa depannya. Dimi segera mengalihkan topik pembicaraan, saat Ainin masih berbicara. Continue reading

Buku Coretan

Sudah awal bulan, saatnya melakukan rutinitasku. Gaji pensiunan suami juga sudah masuk ke bank. Sebuah buku kerja bertuliskan Tahun 2005 pada sampulnya sudah kuletakkan di atas meja makan, beserta sebuah pulpen hadiah dari membuka tabungan di salah satu bank syariah. Sebuah kalkulator kecil juga sudah terselip dalam buku kerja. Tinggal kaca mata yang belum ada. Kutengok kiri-kanan, mencari sampai ke meja di ruang tengah, tempat biasanya aku meletakkan barang-barang, ternyata tak ada juga. Mungkin ada di meja rias di kamar, pikirku. Tidak tampak juga kaca mata itu disana. Tanpa sengaja aku memandang ke cermin lebar meja rias itu, aku tersenyum. Kaca mata itu ternyata bertengger dengan manis di kepalaku.  Continue reading