Suster Jahat

Sesaat setelah menuliskan sebuah komentar pada status fenomenal  Facebook Masbro Pada Bulan Sebelas dini hari tadi, aku berharap dapat memejamkan mata sejenak. Tidak ada persiapan istirahat kemarin membuat mataku lumayan berat sebelum mencapai waktu subuh saat giliraku jaga semalam.

Namun yang namanya jaga ya harus jaga. Orang tua salah seorang pasien anak, memanggilku karena badan anaknya yang sangat panas. Kuukur suhu anak itu, ternyata hasilnya 40, 1°C. Ia masih tertidur dengan kompres di kepalanya. Kemudian aku memberikan obat penurun panas sesuai terapi dokter, yang dimasukkan lewat anus. Anak itu jadi terbangun dan menangis sejadi-jadinya.

Ada satu kata yang diucapkan anak itu di sela-sela tangisannya.

“Pukul… Pukul…”

Aku mengerti bahwa yang dimaksud anak itu adalah ia meminta orang tuanya untuk memukulku karena telah membuatnya tidak nyaman.

Mungkin Sahabat pernah menemui hal seperti ini?

Aku tidak tahu apakah kebiasaan tersebut juga terjadi di daerah lain. Di daerahku seringkali kutemukan orang tua yang menggunakan cara “memukul yang bersalah” untuk menenangkan anak saat anaknya menangis karena sesuatu/seseorang yang (dianggap) salah tersebut.

Contohnya seperti ini, misalnya kepala seorang anak terbentur tembok saat ia sedang bermain dan menangislah ia. Kemudian Si Ibu berusaha membuat anaknya berhenti menangis, sambil mengucapkan kalimat yang kurang lebih seperti ini, “Sudah nangisnya ya, Nak. Siapa sih yang nakal… Temboknya ya yang nakal… Mama pukul ya temboknya…

Kemudian Si Ibu pura-pura memukul tembok itu. Lalu yang terjadi adalah anak itu berhenti menangis. Ternyata cara tersebut sangat efektif. Salah seorang temanku mengakui bahwa ia kerap menggunakan cara tersebut untuk menenangkan anaknya yang menangis. Seperti memukul boneka yang membuat Si Anak tersandung, memukul Si Bapak yang kadang iseng, atau memukul temannya yang jahat padanya.

Aku belum pernah membaca ulasan mengenai hal ini dari sisi psikologis anak. Namun kurasa hal ini dapat menimbulkan efek yang kurang baik pada perkembangan jiwa anak. Memang sudah sepatutnya orang tua melindungi anak-anaknya, meredakan tangis mereka, tetapi kurasa cara diatas membiasakan anak tidak rasional. Seperti menyalahkan tembok atau boneka, misalnya. Padahal, alangkah baiknya bila anak direngkuh dan diobati sakitnya, kemudian tak lupa dinasehati agar lain kali berhati-hati.

Wallahua’lam…

Mungkin ada diantara sahabat yang pernah membaca mengenai hal ini, dari segi psikologinya? Tolong informasikan ke diriku ya…🙂

Tetapi, tentu saja yang di bawah ini bukan suster jahat dong…:mrgreen:

49 thoughts on “Suster Jahat

  1. Di daerah saya juga sering yang mempraktekkan itu. saya pun tidak setuju, ini keknya akan punya efek yang kuranag baik bagi perkembangan anak. sayange saya aam di bidang psikologis jadi gak bisa komentar banyak2
    __________________
    kaka akin : Hmm… kalo kata teman saya, daripada repot menenangkan anaknya, mening gitu deh😦

    • Sependapat dengan Pak Alamendah. Seringkali orang tua salah kaprah, menganggap benar apa yang sebenarnya salah. Jadi berfikir, pernahkah saya melakukan hal ini pada Sabila? Semoga saja tidak.

      Saya percaya Kakak Akin bukan suster yang jahat. si bocah saja yang belum tau kebaikan dari tindakan yang Kakak lakukan.

  2. Kebiasaan buruk pola asuh orang tua jaman dulu memang masih banyak yang dipakai hingga sekarang, ulasan mengenai itu sudah sering ditulis pada tabloid2 keluarga.
    Dilingkungan aku tinggal juga masih menganut cara seperti itu, merubah pola seperti itu sangat susah karena sudah mengakar turun temurun.
    *** kakaAkin ngga jahat kan? resiko para yankes mendapat julukan “jahat, kejam, sadis atau raja tega” he he he..
    __________________
    kaka akin : Ooo… ternyata sering dibahas ya. Berarti saya yang kurang baca, hehe…
    Kalo ada yang ngomong “suster gak ngerti gimana rasanya disuntik”, mungkin saya akan nyahutin “eits, jangan salah. Kami dulu belajar menyuntiknya dengan saling suntik antar teman kok”😀

  3. kayaknya sama deh kak, di sebagain besar wilayah seperti itu juga..

    barti harus mulai diluruskan kayaknya nih..😀
    __________________
    kaka akin : Mungkin cara seperti ini hanya ada di Indonesia ya…?

  4. Aku malah terkenal “galak” pada petugas di Rumah Sakit, gara-gara mendamprat petugas di ruang Peri pasalnya aku melihat petugas tersebut secara kasar memasang infus pada bayi gagal sampe 3 kali. Juga mendampat petugas UGD yang lamban. Hihiks..
    __________________
    kaka akin : Hoho… memasang infus itu gak mudah, apalagi pada bayi😀 #membela diri

  5. Pengamatan yg jeli kak ….
    Dan jujur saja hal memukul yg bersalah itu juga dulu pernah kami lakukan …

    Saya tidak tau bagaimana yg benar …
    Namun saya rasa dengan berkembangnya si anak menjadi semakin besar … Akan mengerti juga … Asalkan kita mulai memberikan pengertian secara bertahap

    Salam saya
    __________________
    kaka akin : Hmm… bener juga ya, Om. Kalo anak terus memahami dengan cara yang salah, ntar kayak Bernard Bear. Kejedot tembok, tembok yang salah, akhirnya tembok yang ditendang. Sakit sendiri kan jadinya, hehe…

  6. Kalau menemukan kejadian seperti ini sering kak.
    aku jg sering mempraktekkan..hehe klo momong keponakanku🙂
    __________________
    kaka akin : Hehe… Keknya aku juga pernah deh dulu kek gitu, Mel. Maksudnya sih bercanda juga ya…😀

  7. Kayaknya hampir semua begitu kak…saya sendiri pernah melakukan hal semacam itu demi menenangkan adik juga ponakan.yang sedang dinakalin atau apa aja boleh…
    __________________
    kaka akin : Kebayang deh kalo Riez terus kek gitu sampai adik/keponakannya gede… Riez bisa sekalian jadi bodyguard-nya😀

  8. Bener mbak, cara begini gak pas IMO.
    ungkin krn dianggap msh kecil jd bisa digituin
    tapi kalo makin besar malah taunya kalo salah itu harus dipukul alias main kekerasan? Piye?

    Baca ini jd ngelus dada
    __________________
    kaka akin : Hmm… saya jadi mikir, apakah karena cara ini, jadinya banyak anak yang tega memukul teman sepermainannya ya??

  9. Aku punya buku tentang pendidikan anak yang full ngebahas hal ini, judulnya salahnya kodok, suka banget dengan ulasannya. Tapi aku coba cari kok ndak ada ya, semoga ntar ketemu😉

    Inti dari buku tersebut, dalam mendidik anak kita jangan mengajarkan tabiat “kambing hitam” misal kalu anak jatuh trus meraung, orang terdekatnya akan bilang, yaaa kodoknya lariii… atau seperti ilustrasi Kaakin diatas. Dikhawatirkan akan membuat mental anak biasa menyalahkan orang lain. Gagal ujian karena nggak belajar, malah dibilang dosennya pelit nilai. Ya gitu-gitu dech…

    *psssttt, itu suster baik hati, tidak sombong, suka menolong, blaaa…blaaa….🙂😉
    __________________
    kaka akin : Pengen nyari buku itu ah…😀
    Mencari ‘kambing hitam’ memang paling gampang ya, Mbak. Yang salah adalah orang lain, bukan kita😀
    Ehm… tidak sombong, rajin menabung juga tuh susternya, haha…

    • Balik lagi nich, jadi dalam buku itu dijelaskan juga bagaimana sebaiknya, misal pada kasus anak jatuh maka disarankan untuk menenangkannya, utamakan memastikan cidera yang mungkin timbul. Ini penting agar anak tahu bahwa kita peduli dan ini adalah modal awal untuknya menjadi peduli. Dan bila ia sudah tenang ajak ia menganalisa kemungkinan penyebab jatuhnya, misal karena ada genangan air/kesandung maka sampaikan padanya dengan bahasa yang dimengertinya untuk lebih hati2.

      Dan pada kasus diatas, mestinya ortu menjelaskan pada anak bahwa itu justru mengobati dirinya. Walau sedikit membuat tak nyaman tapi justru untuk kesembuhan nantinya. Ya gitchu dech… sangat indah teorinya, prakteknya? Tentu lebih indah bukan, karena harus melibatkan banyak rasa. Rasa cinta, kesabaran dll😉
      __________________
      kaka akin : Keseringan ortu malah lupa atau nggak memperhatikan kondisi anaknya. Yang penting anaknya sudah diam, ya sudah.
      Dooh, gimana kalo nanti saya praktek pas punya anak sendiri ya..? Hehe..

  10. Masa suster yang cantik di pukuli..teganya..

    Aku pernah punya temen kaya gitu,setiap anaknya nangis,mama pukulin itu,atao mama cubitin itu..!!
    mamanya suka mukulin tembok atau orang yang membuat nangis anak tsb.
    Ahh,itu salah pengasuhan aja menurutku,lagian orang tua mau aja di suruh anaknya nyubit/mukul..,ke..bi..a..sa..an..
    __________________
    kaka akin : Oh iya ya, Mbak… Jadinya anak kebiasaan ‘nyuruh2’ orang tuanya. Gak sopan deh😀

  11. bundo juga pernah lihat kejadian begitu, Kin.. malah mungkin melakukannya thd ponakan. mencarikan sesuatu untuk disalahkan..🙂

    dan yg paling sering adalah justru pertengkaran anak dan orang tua di dalam ruangan bundo. anaknya takut dicabut gigi, orangtuanya malah ngamuk.. hihihii… klo udah gitu bundo bilang nanti aja datang lagi klo udah gak takut.🙂
    __________________
    kaka akin : Hehe… Balik lagi gak anak itu, Bundo?😀

    • ada yg gitu mak, anaknya dicubitin
      disuruh pulang dulu ibunya nggak mau, jadi si ibu yang kumarahi dan nasehati cara mendidik anak he..he…, jadi sok ngajarin

  12. Gak kebayang deh, kalo anaknya kesandung duren..
    Trus mamanya bilang, “Durennya nakal, Nak… Nih mama pukul, durennya…”
    :mrgreen:
    __________________
    kaka akin : Hahaha…

  13. Mbak, saya juga suka prihatin kalau ada orang tua yang menyalahkan orang atau benda lain yang membuat anaknya menangis…heran deh, kenapa menyalahkan sesuatu itu dilakukan terlebih dahulu sebelum introspeksi…
    Bukankah dalam hidup sesungguhnya nant si anak akan menemukan banyak rasa sakit? jatuh bangun dalam berbagai ujian? Apa masih tetap yang harus disalahkan adalah orang lain bahkan takdir…?

    Ah, ah…jadi emosi gini nih komen saya, maaf ya!
    Intinya adalah anak memang harus diajarkan buat memahami bahwa sakit itu ada dan bisa diobati, bukan malah menyalahkan orang atau benda lain yang membuatnya sakit…🙂

  14. iya, kadang malah lebih aneh..misal anak kesandung, trus ibunya bilang.. kodoknya diinjek yaa.. cup cup cup… *pura-pura injek tanah*. trus anaknya berhenti nangis. wakakakak..

    ooh kirain pantatnya anaknya minta dipukul😛

  15. Iyaa percaya itu bukan suster jahat.. Susternya baek.. Hehehe…

    Jujur nih Kak dulu aku sempat spt itu wkt vania msh kecil dan lg belajar jalan, sering kesandung trus ubinnya dipukul, hehe.. Abis lucu..
    Sampe kemudian aku ditegur Papaku bahwa cara itu nggak baik, ngajarin anak gampang mukul orang jg nanti besarnya… Jd aku kapok gak pernah begitu lg…

  16. bunda jelas2 bukanlah ahlinya dlm hal2 yg melibatkan unsur psikologis, Kak
    ‘namun begitu, dr pengalaman anak2 yg terbiasa ”dicarikan kambing hitam” seperti contoh diatas, kelak besarnya selalu akan begitu terus, mencari2 kesalahan orang lain.
    padahal, sedari kecil justru saatnya kita sebagai ortu menjelaskan dgn kasih sayang dan bahasa yg mudah dimengerti oleh anak, insyaAllah akan membuat anak kelak bisa membedakan mana yg baik, buruk, jahat dll dsbnya.
    salam

    Kalau foto suster yg dibawah itu , yakin banget suster yg paling baik hati🙂

  17. Wah kok kata-kata ‘pukul’ yang nempel di otak tu anak. Hemh… mestinya si org tua tidak mencekoki anaknya dengan dengan kata2 kurang baik seperti itu. Bagaimana jadinya kalau kebiasaan itu kebawa sampai dewasa nanti.

  18. anakku sebenarnya klo liat suster pake baju putih , pasti nangis …
    takut katanya….
    kayaknya klo liat kaka pke baju putih, ga nagis dech…
    habis susternya cantik sich…hehehe

  19. mencari kambing hitam itu nggak baik. kalau memang si anak merasa nggak nyaman dengan kedatangan kakakakin, si ibu harus pakai cara lain supaya kata “pukul.. pukul..” itu nggak terucap lagi.

    hmm, ibu bisa mengatakan, “sebentar ya Nak, susternya mau kasih obat dulu nih.. biar badan kamu nggak panas lagi. nanti kalo panasnya udah ilang, kita pulang ke rumah deh.” (dsb..)

    dan bener nah apa yg dibilang tmn2, kalau mengkambinghitamkan ‘pihak lain’ dikhawatirkan si anak akan mudah menyalakan orang lain..

    # lagian, kasian si kambing hitam juga, dia nggak tau apa-apa tapi malah ‘digosipin’ begini😀

  20. Itu memang kebiasaan turun temurun dan akhirnya sering terbawa juga dengan anak kita.
    Kalau saya, pernah kemarin itu begitu juga. Waktu ada badut kan si vaya ketakutan, jadi saya bilang nanti mami pukul badutnya biar gak ganggu lagi. Tapi saya pikir ah ini tak efektif krn vaya tetap takut dan dia malah menagih saya utk beneran mukul badut hahahaa…
    Akhirnya sekarang tak pernah lagi. Saya katakan, nanti badutnya mami suruh pulang.. gitu:)

  21. aku juga suka kayak gitu deh kalo ada anak kecil nangis, udah kebiasaan soalnya ya.

    eh btw, aku pernah tuh demam dan dimasukin obat pake cara “itu” pas waktu SMP, sumpahnya gg mau lagi deh😦 sehat begitu berharga😀

  22. saya bukan ahli psikologi juga Kin,
    Teman saya yang punya anak seumuran anak saya, menerapkan pola pengasuhan seperti ini kepada anaknya, jatuh dari sepeda, sepeda yang salah, terpeleset dilantai, lantai yang salah, akhirnya anaknya jadi tidak mau “disalahkan” alias selalu mencari alasan untuk kekeliruan yang dibuatnya, laporan ke ortunya sudah pasti bertolak belakang dengan kejadian yang sebenarnya. # sekarang sih itu yang terlihat efeknya.
    Suster yang dibawah, bukan jahat, tetapi sedang memberikan senyum terbaiknya🙂.

  23. Sering melihat…aku pun sempat mempraktekkan dulu ketika dini kecil, tapi seingatku aku tidak sering melakukannya..
    Karna Dini jarang main dan selalu dirumah..

    Untuk kebanyakan orang tua mungkin tidak memikirkan sampai jauh, yang diapikirkan saat itu anaknya segera diam dan tidak menagis lagi.

    Suster tidak jahat kok, tapi suster sedang melakukan tugas untuk kebaikan sang anak.

  24. mbak akin, judulnya g nyambung dg isinya😀 tp mbak akin mmg jeli deh, krn judul itu, aku tertarik untuk membaca jurnal ini pertama kali di sini. yuk lanjut baca yg lain lg:)

  25. Sepertinya cerita diatas pernah terjadi pada saya deh Kak hehehe, tapi saya gak suka cari kambing hitam lo, mungkin tujuan orang tua tersbut baik cuman caranya yang keliru…

    tapi kalau lihat suster yang ada di foto itugak jahat kok, malah baik banget heheh #pesen sarungnya Kak🙂

  26. kalo saya salah satu korbannya loh mba,,,diajarin orang tua begitu..hehehehe
    jadinya masih kebawa sampe sekarang, cuma bukan ke orang, tapi ke benda…misalnya kesandung, kadang responnya marah-marah sendiri sama batu…*udahmulaigila
    bayangkan kalo ada orang yang salah langsung saya pukul..hahaha….
    harusnya gak baik yah mba..tapi gimana lagi mba,,,semuanya terjadi di luar kesadaran saya..

  27. Bukan hanya di daerah mbak saja, tetapi rata-rata kayak gitu semua. Mau gimana lagi, kayak udah jadi tradisi. Tapi kalau memang gak dirubah mau kapan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s