Kisah Menghias Tumpeng

Ini sih ikut-ikutan mengisahkan behind the scene pembuatan tumpeng.:mrgreen:

Sebenarnya tumpeng bukanlah hal yang baru bagiku. Waktu aku masih kuliah di Akper dulu, setiap kali dies natalis kampus selalu diadakan lomba membuat tumpeng. Setiap angkatan (ada 3) yang terbagi dalam kelas A dan B wajib turut serta. Jadi minimal ada 6 tumpeng yang dinilai. Tentu saja tumpeng yang dibuat bukanlah tumpeng super mini, melainkan tumpeng berukuran normal dengan beralaskan tampah yang lumayan besar😀

Biasanya kami membuat tumpeng di kos-kosan yang ada dapurnya, atau di rumah teman. Syukurlah beberapa orang temanku lumayan pandai memasak. Karena aku tak pandai memasak, aku cuma kebagian sebagai seksi sibuk ini itu, ngupas ini itu atau ngangkat ini itu:mrgreen:

Dalam 3 kali keikutsertaanku dalam tim pembuat tumpeng kelas, aku sedikit banyaknya mendapatkan pelajaran dalam membuat/menghias tumpeng yang ingin diikutkan lomba. Antara lain adalah nasi kuning yang dibuat tumpeng tidak boleh ditambah ketan. Membuat tumpeng mini, mungkin tak menemukan kesulitan saat membangun tumpeng yang berbentuk kerucut kecil itu. Namun saat membuat tumpeng yang berukuran besar, lumayan sulit. Meskipun tersedia cetakan tumpeng yang terbuat dari aluminium, namun bila nasi tidak pulen atau kurang padat saat mencetaknya, maka tumpeng akan rubuh atau tidak mulus sisinya. Karena itu ada yang berusaha menambahkan ketan pada nasinya, padahal ini akan mengurangi penilaian🙂

Pernah sekali waktu saat akan berlomba, kami tidak punya cetakan tumpeng. Temanku tidak kehabisan akal. Ia membuat cetakan tumpeng dari daun pisang. Kemarin ada salah seorang temanku bercerita, ibunya mencetak tumpeng hanya menggunakan kertas pembungkus nasi. Di bawah ini adalah cetakan tumpeng dari daun pisang yang kugunakan kemarin😀

Cetakan tumpeng mini

Jyah… Akin sudah mirip pakar pertumpengan, hahaha…😆

Baiklah, kulanjutkan lagi pelajaran berikutnya. Untuk menghias tumpeng dengan menggunakan daun pisang, pemakaian staples adalah sebuah kesalahan, nilainya langsung minus deh (sok tau). Seperti kita ketahui, staples bisa saja menjadi tidak aman bila ada yang terlepas dan tercampur dengan makanan. Sebaiknya gunakan tusukan yang dibuat dari lidi (apa itu namanya ya?). Kemarin aku menggunakan tusuk gigi untuk membuat takir, karena nggak punya lidi😀

tumpeng wannabe

Hehe… itu tusuk gigi membuat tumpengku tampak tidak seksi😀 Jadinya kuputuskan menambah hiasan dari cabe. Karena tumpengnya mini, jadi aku menggunakan cabe biasa (bukan cabe merah besar, lagian lupa beli😀 ) sebagai hiasan. Hasilnya adalah, tanganku terasa panas dan pedas hingga berjam-jam kemudian. Bahkan setelah mencuci peralatan yang kugunakan, tanganku kembali terasa panas.

Ini dia sumber permasalahan rasa panas dan pedas di tanganku. Keesokan harinya baru aku tau bahwa ternyata bila diolesi minyak goreng, maka rasa panas dan pedas itu akan hilang😀

Demikianlah kisah pengalamanku dalam hal pertumpengan Insya Allah besok adalah hari pengumuman pemenang Kontes Tumpeng Ngetril61 di BlogCamp. Menang nggak menang, yang penting terkenal, huahahaha…😆

40 thoughts on “Kisah Menghias Tumpeng

  1. hahahaa coba tanya saya, pasti tak kasih tau pake minyak goreng mba😛

    dan coba saya tanya mba akin bikin tumpeng biar ga usah kliling nyari cetakan tumpeng ya😛

  2. Yang jelas …
    Saya suka dengan ornamennya …
    ini ornamen khas kalimantan

    (burung engganonya mana Kak …)(belum dipasang ya …)

    salam saya

  3. Uhuy akhirnya bagi2 tips utk membuat tumpeng nih..ntar Umi aq suruh buat tumpeng wannabe aja ah hehe

    Semoga bsok menang Kak dan lngsung bsa ptong tumpengnya hehe

  4. Oohhh ternyata kalau tangan kepedesan bisa hilang ya kalau diolesi migor… baru tahu saya. Makasih lho infonya….
    Saya yg jarang masak begini tentu perlu banyak tips agar tidak kecelakaan saat masak hehehe..

  5. Eits…behind the scene sang juara 3 *kedip2*. Orin jg baru tau Ka soal misgor dan tangan kepedesan itu, so far kalo mau ngiris cabe banyak2 pake sarung tangan plastik😀

  6. waah keren..spertinya ga cuma skedar behind the scene tapi juga tips buat juri dan panitia lomba..tahun lalu ada lomba tumpeng di kntor sy..pengeeen skali ikut tapi ga bisa krn hrs jd panitia urusan lomba tumpeng… ^^

  7. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    Saya jadi lapar melihat tumpengnya yang lezat itu. Gimana rasanya ya. Nasi kunyit dan lauk pauknya sangat menyelerakan. Apakah itu makanan tradisional di Samarinda mbak ? dan khusus untuk majlis tertentu aja ya ?

    Semoga menang ya mbak. Keliatannya rame yang jadi chef buat tumpeng di majlis HUT Pakde Cholik ke 61. tentu kekenyangan Pakde mahu makannya.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawakl.😀

  8. difotonya gg ada cabe merahnya tante :O belum dipasangkah pas difotonya ?
    dulu setiap ada event bikin tumpeng ya minta tolong ke mama temen yang bisa dan ak cuma ikut ngupas bawang dan itupun baru dua siung udah diusir😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s