Ada Apa dengan Pizza?

Saat melihat iklan di tv tentang sebuah resto pizza yang sedang mengadakan promo tambahan daging ekstra 30% pada topingnya, aku langsung menawarkan pada rekan-rekan kerjaku untuk buka bareng di resto itu. Lumayan kan, bisa urunan buat bayarnya, soale harganya udah muahal banget sekarang, hehe… Beberapa antusias mendengar tawaranku, sementara yang lainnya ada yang tidak setuju.

“Aku nggak doyan makan pizza, Mbak. Aneh rasanya”. Kata Siti, salah seorang rekanku. Seingatku dulu ia memang pernah menyatakan ketidaksukaannya pada pizza. Kalau tidak salah, katanya rasa pizza yang pernah dicobanya dulu itu seperti rasa jamu😀

Banyak orang yang menyukai pizza, baik itu pizza yang dijual resto terkenal, atau pizza paling sederhana buatan sendiri di rumah. Biasanya komponen pizza terdiri dari roti lembut yang diolesi saus, diberi beraneka toping termasuk daging-dagingan, kemudian diberi parutan keju, lalu dipanggang. Banyak resep cara membuat pizza yang bisa kita temui di media cetak atau online. Yang pernah kucoba buat di rumah adalah pizza ikan sarden, rasanya unik. Pas banget buat penyuka ikan😀 (gambar dari sini)

Bila banyak yang menyukai pizza, maka banyak pula yang tidak menyukainya. Aku jadi teringat beberapa orang yang kukenal yang juga tidak menyukai pizza. *ngelirik pak satpam*. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa mereka tidak menyukai pizza.

1. Tidak suka keju

Tidak semua orang menyukai keju. Jadi yang tidak menyukai keju, biasanya juga takkan menyukai pizza.

2. Tidak bisa makan daging

Beberapa keluarga jauhku tidak bisa makan daging, termasuk hasil olahannya. Sebagian besar jenis pizza yang dijual-jual adalah menggunakan toping daging.

3. Rasa yang aneh

Siti mengatakan pizza yang dimakannya dulu rasanya seperti jamu. Mengapa demikian? Dugaanku mungkin saja dari rasa basil dan oregano yang menjadi campuran pada saus olesannya. Mungkin mendiang bikin sendiri dengan saus yang tidak menggunakan campuran basil dan oregano🙂

4. Harga yang mahal

Hehe… Ini sih gue banget. Dulu sih aku masih tega ngeluarin duit buat beli pizza yang medium atau large. Favoritku adalah meat lover di PH. Tetapi sekarang tentu saja berat banget buat bayarnya. Jadi nunggu traktiran aja deh😀 Harganya memang mahal menurutku. Untuk harga dengan jumlah yang sama dengan saat membeli pizza ukuran medium, kita bisa membeli 2 buah martabak telor ukuran besar dengan isi daging yang banyak. Tentu lebih pas di lidah, apalagi bila dimakan dengan acar dan cabenya, hmm… *eits gak usah dibayangin, lagi puasa!*:mrgreen:

Sekarang pizza lebih merakyat di Indonesia. Banyak toko kue/roti yang juga menjual roti dengan toping ala pizza dan biasa disebut pizza mini. Harganya juga lebih terjangkau, karena ukurannya yang lebih kecil atau dijual perpotong.

Gambar dari sini.

Oiya, aku baru belajar  membuat slideshow. Baru tahu dari Mbak Monda bahwa ternyata di WP slideshow bisa langsung dibuat dengan memasukkan beberapa gambar.:mrgreen:

Gambar di bawah ini adalah saat aku dan ibuku makan di PH beberapa bulan yang lalu. Lumayaann, beli paket untuk berdua, udah bisa nge-date bareng ibu di resto, hehe…

This slideshow requires JavaScript.

65 thoughts on “Ada Apa dengan Pizza?

  1. tahun kemaren puas banget makan pizza mbak, ada kakak yang bayarin makan soalnya.. sekarang berhubung si kakak udah pergi, yowes puasa makan pizza.. yuk mbak, kita patungan aja sesama blogger trus makan pizza bareng.. hehe😀

  2. Waahhh …
    Menu makanan dengan ibu itu sungguh yummy sekali …
    Ibu pasti senang …

    Bukan karena makanannya …
    tetapi lebih karena bisa makan berdua dengan putrinya …
    ditraktir putrinya …

    salam saya Kakaakin …

  3. Ya sebenarnya Pizza kan gak bisa dibandingin sama martabak telor toh mbak hueheuee…
    Tapi saya udah jarang makan pizza. Sekali-sekali saja kalau udah pengen banget. Soalnya kalau makan disanak kan pasti rame2… berarti anggaran akan lebih besar lagi keluar😀.

    • Hahaha… Cuma dibandingin harganya doang, Mbak😀
      Kalo rasa sih, masing2 punya keunggulan:mrgreen:

      Ke resto pizza memang gak bisa sendirian ya, Mbak. Seandainya bisa cuma pesan 1 slice aja gitu, soalnya kan kalo sendirian juga gak sanggup makan seloyang pizza😀

  4. saya termasuk yang ga begitu suka pizza., soale saya ga makan daging. Padahal kebanyakan pizza topping pasti ada daging..
    Btw, si ibu seneng makan pizza juga ya??

  5. Pizza memang mahal, tapi enak! Saya suka!:mrgreen:
    Jujur aja, makanan italia, seperti aneka pasta dan pizza, sangat enak sekali.😀

    Saya sih makan pizza pake tangan. Cuek aja ama orang-orang.:mrgreen:

    Mbak, kalo mau pizza yang sesungguhnya, jangan makan di Pizza Hut. Pizza Hut itu seperti makanan fast food (agak condong ke junk food juga sih). Makanlah pizza sesungguhnya di restoran pizza selain PH.:mrgreen:

    Pizza yang beneran itu ketebalannya tipis. Juga nggak terlalu mengenyangkan.🙂

  6. saya suka pizza.. paparon pizza kuta malah ngasi promo bonus satu pizza ke pengguna XL, pizza yang dikasi ukurannya sama pula. jadi beli satu dapet 2! di PH pegawainya unik-unik, terlalu ramaaaaaah banget, saya jadi agak gimana gitu. tapi kalo di PH saya beli paket berdua untuk 2 orang jadi masing2 bisa lebih puas makan😀

  7. Sama seperti kata Asop, jangan cuma PH coba Italian pizza, yang rotinya tipis, menurutku jauh lebih enak dan nyaman (gak terlalu mengenyangkan)

  8. Pizza ya….dulu pertama kali saat di ajak traktir ma teman saya ga mau ikut…kebayang donk banyak ranjaunya *bawang bombay (tidak suka semua jenis bawang-bawangan)

    Ternyata tidak semuanya pakai bombay, eh setelah mencicipinya enak juga ya dan ketagihan, tapi tidak terlalu sering, kecuali kalau sering itu juga ditraktir pas kebetulan ada acara # eh

    Salam ^_^

  9. Saya sangat heran loh mbak, kepada orang-orang dengan pantangan aneh kayak gitu..
    emang keju ga enak apa? emang daging ga enak?
    Hhehe.
    Mungkin karena mereka tidak biasa makan roti+keju+daging+tomat.
    Padahal enak.

  10. Walah makanan segitu ludes hanya berdua dengan ibunda😕
    **geleng-gelen kepala**
    Saya sendiri mempunyai alasan klasik tentang pizza, karena lidahku terlahir dari perpaduan lidah Jawa maka kalau dikasi makanan versi lidah Italia jadi enegh dan gak selera😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s