Dia Baik-baik Saja

Sebuah memori tentang peristiwa 13 tahun yang lalu….

“Dia baik-baik saja.” Kata Hasan sambil tersenyum. Ia duduk di kursi plastik di samping bed-ku. Kondisiku yang lemah dengan kaki terbalut dari paha hingga pergelangan kaki, membuatku tak dapat kemana-mana. Namun aku sangat penasaran dengan kondisi Adhi, sahabat terbaik kami.

“Dia ada di ICU, lagi tidur. Nggak ngerti mengapa kok belum bangun-bangun juga.” Lanjut Hasan.

Aku tersenyum dan mengangguk. Mestinya sih aku memikirkan makna di balik ucapan Hasan, tapi aku terlalu lelah untuk berpikir. Kecelakaan sepeda motor yang menimpaku dan Adhi lumayan menguras tenagaku. Patah tulang pada paha kiriku yang mencederai pembuluh darah besar, telah sukses membuat kadar haemoglobin dalam darahku berada pada level 7 mg/dl.

Hari-hari selanjutnya juga sama, aku selalu mendapatkan jawaban yang kurang lebih sama dari teman-teman yang membesukku. “Adhi masih belum bangun juga”. Bahkan para pegawai rumah sakit tempatku dirawat, yang mengenalku dan Adhi, juga memberikan jawaban serupa saat kutanya bagaimana kabar Adhi di ICU sana.

Hingga sepekan kemudian saat aku sudah diperbolehkan keluar rumah sakit usai menjalani operasi pemasangan plat, aku diberitahu bahwa Adhi telah meninggal. Kepala ruang rawat bedah yang menyampaikan sendiri kepadaku. Beliau mewakili teman-teman untuk memberitahuku tentang kematian sahabatku itu. Keluargaku yang berembug dengan teman-temanku untuk menyembunyikan fakta tersebut hingga yakin kondisiku sudah stabil dan mampu menerima ‘pukulan’.

Meskipun kurasa konyol, tapi kemudian aku memahami. Kebohongan keluarga dan teman-temanku adalah demi kebaikanku. Mereka semua menyayangiku. Mereka tak ingin kondisiku menurun bila mengetahui salah seorang sahabat terbaikku telah tiada.

*****

Cerita ini diikutsertakan dalam Kontes Bahasa Cinta di Atap Biru.

57 thoughts on “Dia Baik-baik Saja

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    Subhanallah, saya sangat terharu membacanya mbak.
    Kerana sayang, semua orang tidak mahu kita bersedih setelah apa yang menimpa sehingga sanggup menutup kebenaran buat sementara.

    Alfatihah dari saya buat sahabat baik mbak. Mudahan kenangan 13 tahun itu bisa kekal hingga akhir hayat yang tentu sekali banyak nastolgia telah tercipta.

    Semoga berjaya dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru. Bahasa cinta mbak dalam penulisan singkat sempat membuat mata ini jadi gerimis. Mengesankan.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

  2. saya pun pernah melakukan hal itu kak saat almarhumah adik saya meninggal,,
    dengan sangat2 terpaksa saya berbohong untuk tidak membuat orang2 di rumah panik…

    semoga sahabatnya diterima di sisi Allah SWT.. Aamiin

    • Berbohong demi kebaikan… Mungkin juga begitu ya😀
      Soale saat sempat masih di UGD, terdengar seseorang berkata Adhi meninggal dan aku pingsan seketika. Mungkin keluarga n teman2 gak mau aku drop, sehingga menciptakan kebohongan🙂

  3. rata-rata orang banyak mengambil jalan bohong ini buat menjaga perasaan, sampai diberitahukan kenyataan yang sebenarnya biar gak shock.
    semoga sukses diajang kontesnya ya Kin…😛

  4. sahabat baik dhe dulu meninggal karena leukimia mbak, mungkin benar kalo orang baik itu lebih cepat meninggal. wajahnya dulu damaaaai banget, seolah sedang tertidur sambil tersenyum, mungkin Allah sudah menghapus semua dosa’y karena kesabaran dia menghadapi penyakitnya. semoga Adhi dilapangkan kuburnya mbak, insya Allah nanti kalian akan bertemu kembali disana..🙂

  5. Huaaa…sedih mbak bacanya😦
    Iya ya, kalo kondisi lagi gak baik dan kabar gak baik pula, ntar yang ada kondisinya makin menurun😦
    Ah..turut berduka😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s