Menyelamatkan Generasi Penerus

Furqon baru selesai mengajar kursus Bahasa Inggris malam itu. Ia bergegas pulang. Jam yang melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul 9 malam, namun jalan gang tempat tinggalnya masih ramai oleh beberapa kelompok orang. Furqon mempercepat langkahnya. Tak sabar ia ingin segera sampai di rumah dan memberi kabar gembira pada istrinya dan kedua anaknya.

Tepat di muara gang tadi ia temui kelompok pemuda yang sibuk jrang jreng sambil bernyanyi dengan nada sumbang. Hampir setiap malam selalu demikian. Furqon bukan terganggu oleh sumbangnya suara mereka, namun dengan apa yang ada di dekat mereka yaitu beberapa botol minuman keras khas orang kampung, Topi Miring. Furqon melewati mereka begitu saja tanpa menyapa. Dalam hati ia beristigfar. Betapa dulu ia telah berusaha menarik mereka, merangkul mereka dengan berbagai kegiatan. Ibarat melukis diatas air, apa yang dilakukannya tak menghasilkan apa-apa.

Setelah berjalan beberapa puluh meter dari muara gang, Furqon melewati kelompok bapak-bapak yang sedang memegang kartu remi. Ia sangat bersyukur karena tidak mengenal kartu remi apalagi pandai memainkannya, karena dulu ayahnya sangat melarang keras hal-hal yang berkaitan dengan judi. Furqon sepintas melihat tumpukan uang kertas di tengah meja tempat bapak-bapak itu berkumpul. Lagi-lagi furqon beristigfar dalam hati. Siang hari mereka bekerja dan malam hari uangnya digunakan untuk bermain judi, meskipun kata mereka hanya ‘kecil-kecilan’.

Furqon juga melihat Pak Aji dalam kelompok bapak-bapak yang sedang bertampang serius itu. Pak Aji adalah seseorang yang dianggap tokoh di kampung itu. Banyak orang yang sering berkumpul di rumahnya dari yang muda hingga tua, tetapi Furqon tidak tahu pasti apa yang mereka lakukan. Hingga beberapa hari yang lalu, saat ia pulang cepat dari tempat kerja, ia melihat sandal anak sulungnya di depan rumah Pak Aji. Maulana adalah anak pertamanya yang masih duduk di kelas 6 SD, ternyata berada di rumah itu. Betapa terkejutnya Furqon saat melihat ke ruang tamu, Maulana sedang menghisap rokok bersama beberapa orang pemuda dan ada Pak Aji juga disana. Furqon segera mengambil rokok dari tangan anaknya dan mematikannya di asbak. Tanpa permisi Furqon meninggalkan rumah itu sambil menarik tangan Maulana. Betapa hancur hatinya saat itu. Sebenarnya Furqon ingin mengajukan protes kepada Pak Aji yang membiarkan anak di bawah umur mengisap rokok, namun ia enggan membuat masalah dengan sang ‘tokoh masyarakat’.

Beberapa meter lagi Furqon tiba di rumahnya. Di sekitar rumahnyapun masih ramai anak-anak bermain. Ia bersyukur karena tidak ada anak-anaknya diantara mereka. Jam segini sudah semestinya merupakan waktu tidur bagi anak-anak, namun tak ada yang melarang mereka. Bahkan orang tua mereka sangat tak peduli dengan pendidikan anak mereka. Bagi mereka penting anak-anak sudah disekolahkan di sekolah dasar, namun tak pernah dipantau apakah mereka punya pekerjaan rumah atau tidak, apakah ulangan mereka dapat 100 atau dapat nol. Istri Furqon pernah mengadakan les pelajaran SD secara gratis di rumah, namun bukannya beramai-ramai datang membawa anak, malahan istrinya dimusuhi oleh tetangga dan dibilang sok pintar.

Furqon bersyukur hari ini ia mendengar kabar gembira dan ingin segera menyampaikannya ke rumah.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam.”

Furqon mendengar sahutan istrinya dari kamar anak-anak mereka. Istrinya sedang mengeloni Fahmi anak kedua mereka yang masih kelas 2 SD. Furqon memandang kedua anaknya, yang menjadi curahan cintanya. Wajah polos mereka membuat sejuk di hati Furqon. Ia terlupa bahwa beberapa hari yang lalu hampir saja ia memukul Maulana yang ia dapati merokok, namun ia kemudian menyuruh anaknya mengaji 1 juz sebagai renungan atas kesalahannya. Fahmi yang semalam begitu ingin bermain bersama teman-temannya di malam hari pada waktunya tidur, namun ia larang hingga anaknya menangis.

Maulana dan Fahmi adalah buah hatinya yang harus ia jaga. Sedapat mungkin ia mempersiapkan anak-anaknya agar dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Jika bapak-bapak yang berkumpul untuk berjudi itu mengabaikan keluarganya, atau anak muda di muara gang itu tak peduli dengan masa depannya dan negaranya, maka Furqon akan berbeda. Ia tak ingin anak-anaknnya menjadi generasi yang hanya sibuk menenggak cairan memabukkan, atau menghabiskan waktu di meja judi. Ia tak ingin generasi penerus yang diasuhnya mendapat pengaruh buruk sehingga tak dapat berkembang dengan baik.

Lingkungan. Furqon ingin memberikan lingkungan yang baik untuk membentuk anak-anaknya menjadi penerus yang berkualitas. Menurutnya masih kurang cukup landasan yang ia dan istri berikan di rumah bagi kedua anaknya, bila pengaruh gempuran dari lingkungan yang buruk begitu besar.

“Bu, alhamdulillah ayah diterima mengajar di SDIT Asy-Syifa.”

“Alhamdulillah.” Sahut istri Furqon.

“Dan kita juga boleh tinggal di perumahan guru yang ada di dekat sekolah.”

Tak henti-hentinya istri Furqon mengucap syukur. Inilah yang mereka nantikan. Furqon ingin meninggalkan lingkungan yang telah didiaminya selama bertahun-tahun, karena ia khawatir lingkungan itu tidak mendukung perkembangan anak-anaknya. Karena ia tak dapat memperbaiki lingkungan itu, iapun memutuskan untuk hijrah saja. Pindah ke tempat yang lebih baik, demi menyelamatkan kedua anaknya, sang generasi penerus.

*******

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.

Sponsored By :

47 thoughts on “Menyelamatkan Generasi Penerus

  1. hmm ternyata lingkungan itu sangat dahsyat ya untuk merubah dan membentuk karakter,,,untung saja P Furqon sigap terhadap lingkungan sekitar…

    semoga menang Kak…

  2. Yipppieee….Kakaakin ikutan juga… *tari pompom*
    Iya ya Ka, terasa sama aku sekarang pas nyari lokasi rumah, hrs disurvey malem2, ‘aneh2’ ga lingkungannya, coz banyak perumahan/komplek/perkampungan yg ga kondusif buat anak kecil..

  3. Mudah-mudahan di kompleks guru itu tidak ada “Pak Aji” yang lain …

    karena yang namanya “pak Aji” itu tidak mengenal jenis profesi … Dia bisa ada di semua profesi …

    salam saya Kakaakin

    • Membaca Al-Qur’an sebagai salah satu pilihan…
      Beberapa orang tua juga memilih hal positif lainnya untuk menghukum anak, misalnya mengerjakan soal2, menulis, membersihkan WC, dll😀

  4. ikutan juga akhirnya…

    lingkungan sekarang rawan sekali menularkan hal-hal yg tidak baik pada anak-anak, jadi harus bener2 diperhatikan betul anak-anak dalam bergaul. pengawasan orang tua tidak boleh lengah

    • Kebayang deh, kalo penghuni lingkungan di sekeliling kita terdiri dari pemabuk, penjudi, pengedar narkoba, jago tawuran…
      Mendingan menyingkir aja deh😀

  5. kepindahannya itu bukan karena lari dari tanggung jawabkan kang?!?!
    gimana sii sebenernya jika emang demikian..?!?! apa kita lari dari tanggungjawab ketika kita dngerasa gag sanggup lagi ada di suatu komunitas dan kebetulan komunitas tersebut -begitu- dengan tanda kutip… saiia sii biasanya seperti tokoh di atas.. hijrah… tapi bukan karena lari dari tanggung jawab dsb😦

  6. cita-cita yang mulia😀 membangun pendidikan di lingkungan yang membutuhkan… memang sudah saatnya negara ini ada orang yang perduli akan pendidikan… atau mungkin banyak yang perduli hanya selalu di jegal?

    btw… semoga artikelnya menang ya🙂

  7. beratnya beban Pak Furqon, akhirnya bisa teratasi dgn pindah rumah ke kompleks guru ya Kak🙂
    alhamdulillah, semoga dgn begitu, keluarga Pak Furqon, terutama anak2nya bisa menjadi generasi penerus yg sukses ,aamiin

    Semoga sukses diacara ini ya Kak
    salam

  8. Lingkungan memang sangat mempengaruhi watak dan kepribadian seseorang jadi kita mesti berhati-hati terutama demi anak cucu kita kelak, sebagai generasi penerus. Kita yang bertanggung jawab mengenalkan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang mereka.
    sukses mba,🙂

  9. ya bener banget, lingkungan itu mempengaruhi perilaku anak-anak.. semoga banyak orang tua yang segera sadar ya kak ketika anaknya akan masuk ke lingkungan yang salah..

  10. wah komitmen furqon benar-benar seperti ikan tengiri di tengah lautan, biar air laut rasanya asin, tapi ikan tengiri rasanya tetap gurih (kecuali keasinan kebanyakan garam)…

    mental bapak seperti furqon inilah yang dibutuhkan di Indonesia, tidak tergiur korupsi, anarki, dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s