Naik Kapal ke Hulu Mahakam

Dear, Vania sayang

Met Milad ya…

Sebelumnya tante mau memperkenalkan diri dulu. Nama tante adalah Akin. Tante Akin tinggal di Kota Samarinda, kota yang dibelah oleh sebuah sungai besar, yaitu sungai mahakam. Kota Samarinda adalah ibukota propinsi Kalimantan Timur. Tante ngakunya sebagai anak sungai loh, karena sejak kecil tante tinggal di pinggir sungai mahakam dan hampir tiap pagi dan sore hari mandinya berenang di sungai. Seperti putri duyung gitu, hehe…

Setelah tante beranjak dewasa, ada satu hal yang tante lupa. Tante mengaku-aku sebagai anak sungai mahakam, sedangkan tante belum pernah sama sekali menyusuri sungai ini hingga ke hulu. Padahal banyak sekali daerah yang dilintasi oleh salah satu sungai terpanjang di Indonesia ini.

Tante sudah pernah menyeberangi laut Jawa dengan menumpang sebuah kapal PT. PELNI. Lah, meyeberangi laut Jawa yang luas itu saja sudah pernah, kok melintasi sungai mahakam yang lebih dekat ini belum pernah? Jadinya tante mengiyakan saat teman-teman tante mengajak liburan ke salah satu kabupaten di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Kutai Barat, yang terletak di bagian hulu sungai mahakam. Kami memilih untuk naik kapal pada perjalanan kami ke hulu mahakam.

Tante sangat suka naik kapal, Vania. Sampai-sampai dulu tante punya mimpi, kalau sudah ada om yang melamar tante, tante pengennya berbulan madu dengan naik kapal entah ke daerah manapun. Sepertinya romantis banget. Hehehe…:mrgreen:

Foto pinjam dari sini.

Vania, lihat deh gambar kapal diatas. Kapal seperti itulah yang tante tumpangi dalam perjalanan ke hulu. Kapalnya bertingkat. Bagian bawah biasanya untuk barang-barang, serta penumpang yang ingin membayar tiket lebih murah karena tidak bisa rebahan. Bagian atas khusus untuk penumpang, cukup untuk rebahan karena bentuknya seperti tempat tidur dengan tempat untuk menyimpan barang bawaan pada bagian bawahnya.

Perjalanan dengan kapal dimulai di Pelabuhan Sungai Kunjang, Samarinda, di pagi hari. Tante dan rombongan berencana menuju daerah Melak, Kab. Kutai Barat. Biasanya perjalanan ditempuh lebih dari 12 jam. Berada di tengah sungai di siang hari, meskipun panas, tapi sangat menyenangkan karena bisa melihat pemandangan.😀

Subhanallah… Pemandangan sepanjang sungai mahakam, sungguh indah. Dari tengah sungai kita bisa melihat hutan-hutan yang masih lebat dan tentu saja perkampungan penduduk. Pemandangan khas pinggir sungaipun tak ketinggalan. Itu tuh, yang mandi cuci kakus (MCK) di pinggir sungai.😛

Namun ternyata pemandangan itu tak melulu indah, Vania. Di pinggir sungai banyak juga terlihat hutan yang telah dibabat sebagai jalan untuk membawa batang-batang kayu hasil tebangan hutan. Gelondongan kayu itu dibawa ke sungai, untuk kemudian dibawa entah kemana. Ternyata, hutan lebat yang tante lihat di pinggir sungai itu hanyalah yang tampak diluarnya saja. Banyak orang yang berkata bahwa sebenarnya bagian tengah hutannya sudah gundul.😦 (Gambar pinjam dari sini)

Tante hampir berharap bisa melihat pesut mahakam berloncatan di tengah sungai. Namun tentu saja itu adalah hal yang mustahil, karena populasinya yang sudah sangat berkurang. Kata Om Alamendah, cuma tinggal sekitar 67-70 ekor saja.😦

Di sepanjang perjalanan, kapal yang tante naiki juga sering berpapasan dengan kapal ponton yang membawa batu bara. Vania, sungguh batu bara itu telah menyumbangkan kerusakan yang cukup besar di muka bumi Kalimantan. Tante merasa khawatir, jika Vania besar nanti dan ingin berkunjung ke Kalimantan yang katanya mempunyai hutan yang luas, ternyata hutannya telah habis akibat ditebangi dan tanahnya dikelupas untuk menggali batu bara. Duuh… semoga masih akan ada yang tersisa untuk generasi selanjutnya ya…🙂

Vania sayang, setelah berjam-jam kapal melaju, tante dan rombongan mulai membuka bekal yang kami bawa. Usai makan, tiba-tiba tante merasa ingin BAB alias buang air besar. Olala… saat tante menuju toiletnya yang berada di bagian belakang kapal, tante langsung mengurungkan niat. Dinding toiletnya cuma separoh, Vania! Bila ada kapal lain yang sedang berpapasan, orang lain yang berada di atas kapal itu pasti bisa melihat apa yang tante lakukan di toilet eh jamban itu. Oh, tidaaakkk!!! Ntar nunggu pas sudah sampai di darat saja deh….😦

Saat berada di Melak, tante dan teman-teman mengunjungi beberapa tempat wisata, antara lain jantur (air terjun) dan taman anggrek Kersik Luwai. Kondisi alam yang begitu indah, sangat kami nikmati. Air terjunnya tak kalah indah dengan air terjun yang ada di daerah lain. Sayang sekali pada taman Kersik Luwai, anggrek hitam yang langka itu belum berbunga. Kami juga sempat mencicipi naik perahu yang lebih kecil, kira-kira bermuatan 4 orang, mendatangi suatu daerah dengan menyusuri sungai mahakan lebih ke hulu lagi. Daerah Kutai Barat terkenal sebagai penghasil buah-buahan, terutama durian. sayang sekali saat  itu belum musim😦

Setelah beberapa hari berada di Kutai Barat, tante dan rombongan naik kapal yang membawa kami kembali ke Samarinda. Berbeda dengan saat berangkat dari Samarinda, saat pulang ini kapal beranjak meninggalkan pelabuhan di malam hari. Sehingga di perjalanan kami hanya tidur. Dan… Horeee!!! Ternyata kapal yang kami naiki ini memiliki toilet yang lebih baik dengan dinding yang penuh ke atas dan beratap. Ehm… jadi lebih nyaman deh😀

Alhamdulillah… bila ingin liburan asyik, ternyata nggak perlu jauh-jauh, apalagi sampai-sampai keluar negri. Masih banyak kabupaten di Kalimantan Timur yang belum tante kunjungi. Selain liburan, mengunjungi daerah sendiri ini juga bisa membantu kita untuk lebih mengenali dan membuka mata tentang daerah di sekitar kita. Ingin rasanya tante melintasi Propinsi Kaltim menuju arah utara, hingga ke daerah perbatasan dengan Malaysia untuk melihat apa sih sebenarnya yang sedang terjadi disana. Haha… Ayo, Vania… Mau pergi bersama tante?

__________________________

Tulisan ini diikutkan pada Vania’s May Giveaway.

57 thoughts on “Naik Kapal ke Hulu Mahakam

  1. kok yang diajak Vania aja😀
    saya juga mau klo diajak keliling Kalimantan hehehe

    pengalamannya keren, bikin mupeng

    good luck ya kontesnya🙂

  2. (Maaf) izin mengamankan KEEMPAX dulu. Boleh, kan?!
    Kirain emang ketemu beneran sama pesut mahakam. Sudah lonjak-lonjak pengen minta fotonya.
    Hehehehehe…

  3. Wah jadi penasaran sama Pesut Mahakam itu Tante… Mudah2an nggak akan punah yah… Ohya, kata Bunda Kalimantan itu paru2nya dunia yah… wah sedih sekali kalau hutannya ditebang…

    Perjalanan di Indonesia memang nggak kalah sama diluar negeri yah, Tante… baca cerita ini terbayang indahnya Sungai Mahakam… maka dari itu Vania ucapkan terima kasih atas ceritanya ya… Vania save dulu🙂

  4. Hmm … gak ngajak2 ya … *awas aja*

    btw memang sungai mahakam terkenal sungai yg terbesar dan terpanjnag di tanah air … begitu kan tante akin?
    ntar klo vania ditanya pak/bu guru di sekolah – jawabnya itu .. ok? 100 utk tante akin😛

  5. Perjalanan ke Hulu Mahakam ?
    Waaahhh menarik ini …
    Berarti melawan arus ya Kak ?

    Salam saya
    Semoga sukses di pagelarannya Thia Mama Vania

  6. semoga para penebang ilegal segera sadar, mau memikirkan bahwa di daerah sekitar hutan banyak masyarakat yang ingin hidup dengan aman dan nyaman

    tapi kalau cuma komen seperti ini bisa didengar ya??
    semoga aja ada yang bisa membuat mereka mendengar

    salam dari pamekasan madura

  7. seneng banget baca ceritanya Kakaakin utk Vania, tapi ada sedihnya juga pas lihat foto si kayu gelondongan itu, ini khan ya Kak, yg menyebabkan penggundulan hutan di kalimantan😦

    Semoga sukses ya Kak di acaranya Vania🙂
    salam

  8. mau donk jalan-jalan ke kalimantan apalagi aku penasaran pengen lihat anggrek hitamnya, sayang yach kaka akin kesana pas tidak berkembang….
    mudah-mudahan kaka akin mau ngajakin aku kapan-kapan jalan-jalan ke kalimantan…🙂 (ngarep.com)

  9. ternyata tante Akin pake nahan boker segala pas nyeberangin sungai Mahakam yah.. hehehe.. semoga sukses kontesnya,
    Nggak heran kalo butuh kapal segede bagong buat nyeberang sungai, karena ukurannya juga gede.

    btw saya belom ngecek kiriman cokelatnya karena dua minggu ini saya nggak ngantor.. lagi tugas lapangan di Makassar >.<
    tapi makasih banyak looh Kaka Akin..

  10. Pengalaman yang bermanfaat buat Vania, Indonesia memang luar biasa…
    Sayang sekali saya selalu mabuk laut, jadi kayaknya lebih milih naik mobi aja deh mbak, bisa nggak ya menyusuri Sungai Mahakam dengan mobil?😀

  11. Saat dua hari tugas ke Samarinda, setiap coffee break, hanya bisa memandang sungai Mahakam…andaikata punya waktu lama, ingin sekali berlayar menyusuri sungai tersebut…..membayangkan pasti menyenangkan sekali.

  12. Kutai Barat dan Tana Tidung adalah 2 daerah yang sampai saat ini belum pernah aku kunjungin. Pengen sih bisa kesana. Melihat hal2 yang masih alami rasanya mendamaikan. Tapi nggak bisa dipungkiri juga kalau kedamaian itu sebagian telah terusik oleh rusaknya lingkungan akibat pembalakan dan pengupasan lahan batubara

  13. Akiiiiiin…
    selain mabok darat…emak emak norak ini juga mabok laut lho..hihihi…pernah naik kapal yang nyebrang mau ke Bali itu lho Kin…apa sih…Gilimanuk ya?…langsung pusing dan jongkok…hihihi…

    Semoga sukses ngontesnya ya Kiiiiiin🙂

  14. selamat pagi

    luarnya aja masih kelihatan hutan, tapi dalam nya udah gundul😦
    ikan pesut juga tinggal dikit…. miris

    tapi kocak juga tuh, masak toilet nya dindingnya gak lengkap😆

  15. Seru Ka Akin pengalamannya!! Gw mah belom pernah anek kapal, padahal kan yang deket dari rumah Emak (Cilegon) adalah Merak-Bakauheni. Itu ajah belom pernah nyoba😦

    kalo speedboat mah udah sering, secara waktu di kalTim kan transportasinya pake itu🙂

    Sukses yah jeng lombanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s