Kisah Seorang Ibu

Prolog

Sesosok berpakaian putih menyembul dari balik pintu. Sudah pukul 6 pagi, saatnya suster memeriksa tanda-tanda vital pasien. Seorang ibu yang terbaring di sudut bangsal berisi 8 pasien itu, menunggu giliran untuk diperiksa.

“Permisi, Bu Anik. Saya periksa dulu tekanan Ibu ya” ucap suster kepada ibu itu, kemudian memasangkan alat pengukur tekanan darah di lengannya.

“Hmm… Ibu masih sulit tidur semalam?” Tanya suster dengan dahi berkerut. Ibu itu mengangguk. “Coba ibu tenangkan pikiran, supaya tekanan ibu bisa stabil” Ibu itu hanya tersenyum pada suster.

Hingga suster meninggalkan ruangan, ibu itu hanya terdiam menatap langit-langit. Meskipun suster tadi tak memberitahunya, ia tahu pasti bahwa tekanan darahnya naik lagi. Gara-garanya sejak semalam ia berusaha memejamkan mata, tapi tak bisa juga. Tak ada seorangpun yang datang selama ia dirawat, kecuali Tina.

Ponsel Tina berbunyi, terdengar suara serak milik Iwan Fals. Nada dering yang menadakan ada telpon masuk itu terus berbunyi karena Tina sedang berada di kamar mandi.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus  berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Setitik air mata mengalir di sudut matanya. Setiap kali mendengar lagu ini, ia jadi teringat akan anak-anaknya. Andaikan saja ia begitu disayangi seperti syair lagu itu. Hatinya semakin pilu.

Tina buru-buru keluar dari kamar mandi dan meraih ponselnya. Dari jawaban ‘ya’ Tina, ibu itu sudah bisa menduga telpon itu dari siapa. Pastilah Minuk yang telah berulang kali menanyakan kapan ia keluar dari rumah sakit.

“Tina, nanti kalau dokter datang, kita pulang saja” kata ibu itu kepada Tina yang duduk di sampingnya. Tina adalah keponakan jauh yang tinggal bersamanya dan menemaninya selama di rumah sakit.

“Iya, Bi” sahut Tina.

****

Minuk memarkir mobilnya di garasi. Ia baru pulang kerja sore itu. Ia langsung menuju dapur dan memeriksa meja makan, tak ada apa-apa disana. Dibukanya lemari tempat menyimpan makanan, tak ada pula masakan matang disana. Perutnya lapar. Sejak kehamilannya bertambah besar, ia jadi mudah lapar.

“Buu!” Minuk berteriak dari dapur memanggil ibunya.

Seorang wanita yang sudah keriput disana-sini, masuk ke dapur. Dia adalah Bu Anik. Di gendongannya ada seorang balita berusia 2 tahun.

“Oh, kamu sudah pulang toh, Nuk” Kata ibu itu, sambil mengusap-usap punggung anak di gendongannya.

“Ibu kok nggak masak? Minuk kan kelaparan, Bu. Gimana juga nanti kalau Mas Yus pulang dan nggak ada apa-apa di rumah”

“Ibu nggak sempat, Nuk. Tadi habis ibu cucian Si Andi rewel. Jadi ya ngemong dulu.”

“Kok nggak sempat sih? Mestinya Andi ibuh taruh saja di kamar. Biarkan saja dia nangis. Yang penting ibu masak. Aku kan nggak mungkin masak, Bu. Aku harus kerja di kantor.” Ucap minuk dengan nada meninggi.

“Iya, lain kali ibu akan masak.” Ibu itu menjawab dengan lembut. Ia tak ingin menerbitkan kemarahan putri sulungnya. Ia tak menceritakan bahwa kepalanya sempat sakit sekali pagi tadi saat cucian. Mungkin tekanannya yang naik lagi, apalagi belakang lehernya sempat terasa kaku.

Minuk bergegas ke kamarnya dan mengganti pakaian kantornya dengan pakaian rumahan. Ia mengambil telpon ponsel dari saku tas, kemudian membuat panggilan.

“Halo, Hadi”

“Halo, Mbak” terdengar suara pria dari seberang sana.

“Di, mbak sudah cek rekening tadi. Kok transferanmu belum masuk. Ibu sudah lebih seminggu keluar dari rumah sakit. Ingat loh, mbak bayar biaya rumah sakit ibu hampir 1 juta. Awas loh kalo kamu nggak gantiin duitku.”

“Iya, Mbak. Tempo hari aku lupa. Ntar deh  aku ke ATM” sahut Hadi, adik bungsunya yang tinggal di kota lain.

Minuk adalah putri sulung Bu Anik yang sehari-harinya bekerja di kantor. Minuk  masih memiliki 2 orang adik, yaitu Yati yang tinggal masih dalam satu kota dan Hadi, si bungsu.

Setelah ayah mereka meninggal, mereka memaksa ibu mereka untuk menjual rumah besar peninggalan keluarga. Mereka beralasan bahwa rumah itu terlalu besar untuk ditinggali Bu Anik dan Tina. Harta warisanpun telah dibagi. Sebuah warung kecil pada halaman depan rumah disisakan sebagai tempat tinggal Bu Anik.

Bu Anik hidup dari uang pensiunan almarhum suaminya, ditambah warung kecil-kecilan yang berdagang makanan kecil dan minuman. Namun beberapa bulan ini putri sulungnya memintanya atau lebih tepat menyuruhnya untuk tinggal di rumahnya, karena ia sedang hamil. Jadi Tina yang sementara menjaga warung Bu Anik.

*****

Pada suatu pagi akhir pekan, Yati datang ke rumah Minuk.

“Mbak, aku pinjam ibu sebentar ya” Pinta Yati kepada Minuk.

“Memangnya kenapa?” Tanya Minuk.

“Pembantuku lagi pulang kampung, Mbak. Toko lagi sibuk banget, sampai-sampai aku dan Mas Wisnu kewalahan. Kasihan anak-anak di rumah, nggak ada yang nemanin”

Minuk berpikir, bila ibunya dibawa ke rumah adiknya, bisa-bisa ia kerepotan sendiri di rumah. Apalagi sebentar lagi ia akan melahirkan.

“Jangan lama-lama ya, Yat. Nggak lama lagi mbak mau lahiran”

“Nggak kok, Mba”

Tanpa mereka sadari, dari balik tembok ruang tengah tempat mereka berbincang-bincang, Bu Anik mendengarkan pembicaraan mereka. Ia hanya mengelus dada.

Bu Anik masuk kekamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang. Ia sama sekali tak mempermasalahkan ia akan tinggal di rumah siapa. Meskipun ia diperlakukan bagai pembantu, ia tak keberatan. Ia sangat menyayangi anak-anaknya, apalagi cucu-cucunya. Ia menganggap mengurus cucu sebagai hiburan di masa tuanya.

Mungkin salahnya juga sebagai orang tua. Sejak dulu, ia dan suaminya sangat memanjakan ketiga anaknya. Ia jadi teringat dengan si bungsu Hadi. Dulu waktu masih tinggal serumah, Hadi bukanlah anak yang penurut. Saat disuruh untuk sholat, dia selalu membantah, hal ini sangat membuatnya sedih.

Bu Anik memegangi kepalanya. Sakit kepala mulai menyerangnya lagi. Kemudian ia mendengar seseorang membuka pintu kamar.

“Ibu kenapa?” Tanya Minuk, “masih pagi kok ibu tidur?”

“Kepala ibu sakit banget, Nuk” Jawab ibunya.

“Loh, belum sebulan keluar rumah sakit, kok ibu kambuh lagi?”

Minuk keluar kamar menemui Yati.

“Yat, ibu nggak usah dibawa ke rumahmu. Bawa ibu pulang ke rumahnya aja.”

“Emangnya kenapa, Mbak?” Tanya Yati.

“Ibu kambuh lagi. Bawa pulang saja. Mending ibu di rumahnya. Disana ada Tina yang bisa ngurusin. Kita kan sibuk semua” perintah Minuk pada Yati.

Akhirnya Bu Anik kembali tinggal di warung kecilnya bersama Tina.

______________________________

Bagaimanakah kelanjutan Kisah Bu Anik serta ketiga anaknya? Silakan ikuti kisah selanjutnya di blog Mbak YSalma yang berjudul Hati Seorang Ibu.

Tulisan ini disertakan pada pagelaran Kecubung 3 Warna yang diadakan di newblogcamp.com.

 

 

51 thoughts on “Kisah Seorang Ibu

  1. rasanya pingin nabok tuh minuk ama yati…buat mba Ysalma ditunggu kelanjutannya…

    I Love BeWe

    Kalo mau nabok, jangan ajak2 aku ya…🙂

  2. kasihan ibu anik…banyak fenomena diatas disekitar kita…kisah yang sangat menyentuh…semoga menang kontes di kecubung 3 warna…🙂

    Fenomena anak tak patuh pada orang tua…😦

  3. wah ceritanya kerenn..sangat menyentuh…dan banyak anak2 sekarang yg seperti itu terhadap ibunya…smoga dgn baca cerita ini mrk jadi sadar.

    Semoga kita nggak akan seperti itu ya, Mbak…🙂

  4. Ini Cerita sebelum dari mbak Ysalma ya? hehe..
    Tadi udah kesana duluan..😀

    Jadi kangen sama emak di kampung..😀

    Hehe… jadi bolak-balik bacanya🙂

  5. alhamdulillah semua sudah menyelesaikan jalan ceritanya masih-masing, saya sudah menyelesaikan akhir kisah ini, semoga berkenan

    Alhamdulillah, proyeknya udah kelar, Mah🙂

  6. Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Saya akan melanjutkan perjalanan ke kisah selanjutnya
    Daftar seluruh peserta dapat dilihat di page Daftar Peserta Kecubung 3 Warna
    di newblogcamp.com
    Salam hangat dari Markas BlogCamp Group – Surabaya

    Makasih ya, Pakdhe…😀

  7. hehe tadi mbaca punya mbak salma dulu, pantesan rada bingung, ternyata ini yang awal tho..

    sukses ya kakaakin untuk kontes kecubungnya..
    ceritanya mantabs

    Tengkiyu ya…

  8. dilema anak2 bekerja ,,menitipkan cucu pada neneknya, dan tanpa pembantu pula.seharusnya nenek hanya mengamati saja..tidak mengasuh cucunya sedetil itu..hiks,,,

    Trus mau nitipin anak sama orang lain juga susah percayanya ya, Mbak…?

  9. Sungguh sayang bila kita menyia2kan seorang ibu, karena kasih ibulah kekuatan anak yang paling besar, dan menghormatinya adalah kewajiban yang berbuah surga Allah…

    Sip, walaupun agak terlambat, Juri Kecub datang,, untuk mengecup karya para peserta,, mencatat di buku besar,, semoga dapat mengambil hikmah setiap karya dan menyebarkannya pada semua…

    sukses peserta kecubung 3 warna..🙂

  10. hayy akin… ceritanya mengharukan, palagi kalo di baca sambil dengerin lagu nya iwan fals heheheh
    kalo menang langsung nulis novel aja kin, kerenn…

  11. Nama tokohnya kok Anik, ya? Knapa nggak Akin aja… hehe…

    Nggak nyangka ternyata Kakak pintar mengarang cerita. Jangan-jangan ntar bakal jadi novelis, nih…🙂

    Aku juga sering terharu dengar lagu Iwan Fals.

  12. Sejak kecil Ibu relah mengasuh dan berkorban untuk kita. Dan ketika masa tua tiba masih harus mengasuh dan berkorban untuk cucu-cucunya😦

    Kisah telah disimpan dalam memori untuk dinilai.
    Salam hangat selalu.

  13. Ketulusan seorang ibu tidak akan tergantikan oleh balasan anaknya. Bahkan dengan hal-hal yang menyakitkan pun, ibu akan selalu berbuat baik kepada anaknya. Terharu dengan kisahnya, saya terhanyut
    Cerita sudah dicatat pada buku besar juri, terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s