Panu-ku Membuatmu Terpana

Biasanya pemuda-pemuda di kampung jarang ke salon atau tempat cukur rambut untuk memotong rambut. Kadang mereka saling bantu untuk memotongkan rambut temannya, atau minta tolong kepada seseorang yang tidak bekerja sebagai tukang cukur namun pandai dalam hal potong-memotong rambut. Perilaku tersebut entah dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, atau sekedar penghematan karena nggak mau ngeluarin duit Rp. 10.000 buat ke salon😀

Tak berbeda dengan di kampung Sila. Hari minggu ini adalah waktunya Sila untuk merapikan rambutnya, supaya dia tidak disetrap setelah apel Senin besok di sekolahnya. Pergilah Sila ke rumah Mang Udin, tetangganya yang pandai memotong rambut dan gratis pula. Mekipun ia sangat sayang dengan rambutnya yang bermodel poni lempar samping ala personil Kangen Band, tapi ia harus rela memotongnya karena sudah mendapatkan peringatan dari guru BP.

“Mang, tolong potongin rambut saya dong” pinta Sila kepada Mang Udin yang sedang mengelap sepeda motor kesayangannya.

“Boleh deh, La. Ntar kuambil senjataku dulu ya.”

Senjata andalan Mang Udin berupa sebuah gunting yang khusus dipakai untuk memotong rambut. Pemuda lain banyak yang memilih untuk dipotong rambutnya oleh Mang Udin karena gunting yang selalu terjaga ketajamannya ini. Kata Mang Udin, gunting itu diwariskan oleh almarhum ayahnya yang bekerja sebagai tukang cukur di pasar.

“Model apa, La?” Tanya Mang Udin sambil bersiap dengan gunting di tangannya.

“Biasa, Mang. ABCD” Sahut Sila pasti.

Mang Udin paham dengan ucapan Sila. ABCD alias ABRI Bukan Cepak Doang adalah model rambut yang sering diminta beberapa pelajar, karena sudah sering diuber-uber guru BP.

Sila sudah membayangkan pasti ia akan tampak gagah esok. Meskipun wajahnya nggak seberapa cakep, semoga rambut ABCD-nya mampu menarik perhatian Mimi, teman sekolah yang ditaksirnya. Dulu Mimi sudah mulai dekat dengannya, namun semenjak ia memiliki model rambut poni lempar, Mimi menjauhinya. Mungkin Mimi menganggap aneh model rambutnya.

Sila mengambil posisi duduk di bangku plastik yang ada di depan rumah Mang Udin. Segera dibukanya baju kaosnya, supaya nanti tidak terkotori oleh rambut. Biasanya setelah rambutnya dipotong, Sila langsung pulang ke rumah untuk mandi.

Setelah Mang Udin selesai beraksi, Sila berkaca pada spion sepeda motor Mang Udin. Ganteng bener, pikirnya memuji diri sendiri. Tiba- tiba sebuah suara cewek yang sangat dikenalnya terdengar dari balik punggungnya.

“Sila…” Sapa Mimi perlahan.

“Oh, eh… Mimi. Ada apa, Mi?”

” Aku tadi ke rumahmu, trus aku dikasih tau kamu lagi potong rambut disini. Tadi aku mau pinjam buku kamu, tapi nggak jadi aja deh.”

“Loh, kok nggak jadi, Mi?” Tanya Sila keheranan.

“Nggak papa” Sahut Mimi sambil menggeleng dan berlalu pergi.

Sila heran dengan sikap Mimi dan bertanya-tanya dalam hati apakah Mimi tidak menyukai gaya rambut barunya? Sila mengibaskan tangan untuk membersihkan potongan rambut dari kulitnya. Saat ia memandang dada dan perutnya, barulah ia tersadar. Kulitnya yang sedikit lebih gelap dibanding Tukul Arwana, ternyata bergambar beberapa pulau. Pantas saja akhir-akhir ini ia sering merasakan gatal pada kulitnya.

“Mang, di punggung saya ada putih-putih nggak?” Tanya Sila ke Mang Udin yang kemudian mengangguk.

“Banyak, Mang?” Lagi -lagi Mang Udin mengangguk.

Gambar pinjam dari sini.

Sila hanya tertunduk lemas. Ia menyadari, rupanya Mimi kabur gara-gara badan Sila penuh gambar peta pulau yang nggak jelas. Putuslah harapannya untuk menggaet sang pujaan hati.

Perlahan-lahan Sila melangkah pulang ke rumahnya. Saat melewati rumah Bang Mu’in yang bekerja di puskesmas, Sila tiba-tiba dapat pencerahan. Ia segera belok ke rumah Bang Mu’in untuk meminta petunjuk cara menghilangkan corak di kulitnya.

“Mimi, tunggulah aku” Ucap Sila dalam hati.🙂

___________________________________________________

Tentu saja tulisan ini bukan untuk disertakan dalam Kontes Aku Ingin Sehat😀

Sekedar mengingatkan, mungkin saja Sahabat memiliki pengalaman-pengalaman di masa lalu, atau mungkin kejadian mirip yang dialami Sila. Jangan sungkan-sungkan untuk menuliskannya dan tak lupa untuk mendaftarkannya pada Kontes Aku Ingin Sehat di blog ini. Masih ada waktu hingga tanggal 14 Februari 2011🙂

 

22 thoughts on “Panu-ku Membuatmu Terpana

  1. selamat pagi.

    wkwkwkw😆
    tulisan yang terinspirasi dari saya ini. haha
    tapi panu saya sewaktu kecil dulu cuma di bagian lengan aja, itu juga nggak banyak

    Heehe… kalo yang di foto itu nggilani tenan ya…😀

  2. (Maaf) izin mengamankan KETIGAX dulu. Boleh, kan?!
    Kebetulan saya juga punya panu, Mbak. Sedikit di lengan. Diolesi dengan Dakta**n sudah beres.

    Brarti iklannya gak bo’ong dong. Hehe…😀

  3. biasanya orang orang dulu kayak gitu
    misal lagi pada kerja bakti, ada bapak2 yang buka baju kerjanya, dan kondisinya kayak gitu,
    kadang jadi sungkan untuk mendekat hihihi…

    ada yang bilang ngilangin pake lengkuas ya

    Hahaha… Beneran bisa ngobatin panu ya?😀

  4. hahai,, dikampung ku dulu juga potong rambutnya begitu Kin, walaupun ga pernah kursus, tapi sepertinya semuanya punya keahlian memotong rambut teman,,
    Pulaunya kok bisa sampai banyak baru nyadar ya?? sila, sila😕

    Setelah selesai dicukur, trus langsung nyebur ke sungai deh buat mandi 😀

  5. Kayanya memang udah tradisi kalau anak2 muda di kampung suka minta bantuan temannya untuk motong rambut mereka yang sudah gondrong. Pastinya sih untuk penghematan alias kanker🙂

    Spertinya banyak yang berbakat buka salon ya…😀

  6. panu itu gatal ga sih? heran dengan foto itu kok bisa banyak ya

    Sama halnya dengan penyakit kulit lain yang disebabkan oleh jamur, rasa gatal pasti ada🙂

  7. Assalaamu’alaikum Kakaakin…

    kasihan pada si Sila yang sempat membuat Mimi kaget melihat sesuatu yang tidak dijangka selama ini. Mudahan kita selalu menjaga kesihatan keseluruhan tubuh agar selalu segar dan cergas sama ada fizikal, mental dan rohani kita.

    Kisah mengesankan mbak untuk ingatan bersama. selamat untuk istirehat di penghujung pekan ini.

    Salam mesra selalu dari Sarikei, Sarawak.

    Semoga kesehatan kita selalu terjaga… Terima kasih, Bunda😀

  8. Aiiih… panu rata.. kadang takut nular juga..
    Yang penting mandi rutin dan pakai sabun, pasti gak panuan lagi.. kecuali kalo udah ada “bakat” panuan.. hehe..

    Kadang di rumah tuh ada yang suka make handuk barengan, atau pinjam2an baju dll, jadi ketularan deh😀

  9. Obat panu paling mujarab. Tamasya ke kawah Ijen, terus kum2 (berendam) di sungai kalipait. Dijamin mbrodol panunya. Percaya deh, saya gini2 kan sering kena panu, hiyahaha…

    Obat penyakit jamur di kulit ya memang sulfur😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s