Sekali Lancung di Ujian…

Wanti mengusap dahinya yang berkeringat. Sudah lebih dari 30 menit ia berdiri di tepi jalan, namun tak satupun angkot yang lewat. Beginilah nasibnya setelah pindah ke rumah Si Mbah, ia kini tak diserahi sepeda motor lagi. Setiap berangkat dan pulang kerja, ia harus naik angkot. Jangan sampai ia ketahuan pulang diantar oleh seseorang, siapapun itu, atau si Mbah akan marah besar.

“Wan, ikut aku yuk…” Mbak Mar yang baru keluar dari parkiran dengan sepeda motornya, berusaha mengajak Wanti.

“Makasih deh, Mbak. Saya gak mau cari masalah” sahut Wanti. Tampak Mbak Mar memaklumi penolakannya.

“Ok deh, aku duluan ya. Semoga cepat dapat angkotnya…”

*****

Beberapa bulan yang lalu, sidang besar keluarga diadakan juga di rumah Si Mbah.

“Om sudah nggak bisa menampung kamu lagi!” Om Danu mengacungkan telunjuknya di depan Wanti. Wanti hanya tertunduk lemas, pasrah menerima hukuman apapun yang akan ditimpakan kepadanya.

“Kelakuanmu itu, sudah seperti perempuan setan. Kalau begini, kamu balik saja ke desa sana!” Lanjut Om Danu.

Wanti menangis tersedu. Belum genap 3 tahun ia merantau dari desa, kini ia sudah harus dipulangkan dengan tragis. Belum cukup banyak ia memiliki tabungan dan ia baru saja merasa nyaman di tempat kerjanya. Terbayang wajah sendu Si Mbok, Wanti yakin beliau sangat terluka mendengar perilakunya di kota.

Tiba-tiba Mbah Kung angkat bicara,

“Wanti tinggal sama aku aja. Aku yang selanjutnya akan mengawasi perilakunya. Biarkanlah dia sementara tinggal di sini”

Alhamdulillah, Wanti bersyukur dalam hati karena ia tak jadi dipulangkan. Sepertinya Si Mbah mau memaafkan perbuatannya. Ia merasa senang bila tinggal di rumah Si Mbah, karena lebih nyaman dibanding saat tinggal di rumah Om Danu.

“Tapi ingat Wanti! Mbah nggak akan membiarkan Kamu berbuat macam-macam. Jangan sampai mbah melihat atau mendengar kamu dekat dengan laki-laki, apalagi suami orang. Mbah akan langsung memulangkan kamu. Camkan itu!”

Wanti hanya mengangguk sambil mengusap air mata di pipinya. Ia menerima apapun persyaratan mbahnya, asalkan ia tak jadi pulang.

“Berikan HP-mu, biar Mbah yang simpan!”

Wanti bertambah lemas…

*****

Wanti menatap layar monitor, namun ia tak bisa melihat apa-apa. Penglihatannya terhalang oleh air mata. Mbak Mar yang melihat Wanti di sampingnya, terkejut.

“Wanti, kamu bukannya kerja, kok malah nangis? Ada masalah lagi ya di rumah Si Mbah?” Mbak Mar menyerahkan beberapa lembar tisu kepada Wanti.

“Tadi ada orang yang duduk di sepeda motor, tak jauh dari rumah Mbah. Mbah Uti yang melihat orang itu, langsung marah. Mbah Uti marahnya sama Wanti, Mbak. Padahal Wanti nggak tau siapa orang itu.” Wanti mengelap pipinya yang semakin dibanjiri air mata.

“Padahal wanti sudah bilang ke Mbah Kung dan Mbah Uti, Wanti sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Mas Agus. Apalagi sekarang Wanti nggak pegang HP, karena sudah disita Mbah Kung.”

“Mungkin sikap mereka itu wajar, Wan. Mereka khawatir kalau kamu terlibat lagi dengan pria yang sudah beristri itu” sahut Mbak Mar perlaha-lahan.

“Sikap curiga mereka berlebihan, Mbak. Pernah sekali waktu ada telpon nyasar ke rumah dari orang yang tak dikenal. Eh… Wanti kena marah lagi. Wanti capek, Mbak. Mereka belum percaya sama wanti”

“Mbak harap kamu bersabar. Semoga Mbahmu lama-lama akan berubah sikap terhadapmu”

“Mudah-mudahan, Mbak”

Wanti berpikir, inilah konsekuensi yang harus dihadapinya. Semula ia mengira, tinggal di tempat Mbah akan sangat menyenangkan. Gara-gara ulahnya sendiri, Si Mbah jadi bersikap protektif kepadanya. Ia mesti memperbaiki diri dan lebih bersabar lagi.

__________

Hikmah:

  1. Jagalah kehormatan diri.
  2. Sekali lancung di ujian, selamanya orang tak akan percaya. Karena itu, penting sekali untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.
  3. Tidaklah mudah mendapatkan kembali kepercayaan orang lain, karena itu tunjukkan itikad baik dan bersabarlah.

___________________________________________

Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

28 thoughts on “Sekali Lancung di Ujian…

  1. Hmm, cerita tentang Wanti dan hikmah yang tertulis, membuat saya berpikir kembali tentang arti sebuah kepercayaan. Bagus ceritanya Kak;

    Susah banget kalau nggak dipercayai lagi😦

  2. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Betul, Mbak. Sekali kita melakukan kesalahan fatal, menciderai keprcayaan, akan sangat sulit untuk mendptkan kepercayaan itu kembali.

    Semoga tak menimpa kita ya, Mas…

  3. Jadi inget lagunya roma irama: Jaga, jaga diiiiri… Jaga, Jaga diiiri… Jaga dirimu, jaga!😀

    Sukses…

    Pake acara goyang jempol gak? 🙂

  4. wah ni cerita sejarah mbak ya,,,, makanya jangan nakal-nakal jadi orang heeeeeeee kesalahan apa yang pernah dibuat seeee …. hiiiiii
    pulang aja ke desa biar kembali ke alam heeeeee …..
    ceritanya mengingatkan kita untuk selalu jaga kejujuran …

    Hehe… dilarang menuduh sembarangan…😀
    Kok Si Wanti menolak dipulangkan ke desa ya? Padahal di desa kan enak dan sejuk…
    *Emannya yang nulis cerita siapa??*:mrgreen:

  5. Berani berbuat berani bertanggungjawab. Atas stempel komandan blogcamp, JURI datang menilai. terima kasih atas cerita yang penuh hikmah. salam hangat

    Makasih, telah dikunjungi oleh JURI🙂

  6. Wah, artinya ini kepercayaan itu mahal…
    Sekali kepercayaan hilang, maka akan sangat sulit untuk dikembalikan…😦

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

    Karena itu, jangan sampai terjadi deh… 🙂

  7. saya mencoba melihat sisi yang lain, bisakah kita melihat orang yang ingin berubah… apakah hanya karena masa lalu yang buruk orang sudah tidak bisa dipercaya lagi. Ini sama saja juga menyusahkan orang yang ingin berubah. bagaimana???

    Karena itu, ia harus tetap menunjukkan itikad baik dan terus bersabar 🙂

  8. Kepercayaan memang sangat mahal harganya ya kak..🙂
    sip banget nih ceritanya kak.. moga sukses..🙂

    Seandainya ada dijual di pasar, meskipun mahal pasti akan dibeli deh…
    Sayang sekali nggak dijual…

  9. Kepercayaan memang sudah di dapat, saat sudah mendapatkepercayaan jangan sampai disalh gunakan karena akan menghilangkan keprcayaan itu sendiri. Sukses dengan kepercayaan nya dititipi cewrita oleh si Wanti😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    “Saya khilaf, Mas…” kata Wanti
    *halah* 🙂

  10. Hikmah yang luar biasa. Ini pun yang terjadi pada semua lini kehidupan. Satu orang yang berbuat salah, satu lembaga yang kena getahnya. Sampai akhirnya muncullah istilah oknum. (Halah, kok malah ngawur!) ^_^

    Suaminya teman saya juga bekerja di lembaga itu, kasihan banget dianya, sampai2 bilang ke orang2 “suami saya nggak kayak gitu kok”
    Hehe… semakin ngawur:mrgreen:

  11. Membaca tulisan ini menjadikan kita untuk bersikap hati dalam menjaga diri. Terima kasih banyak telah berbagi dan semoga sukses. Ohya, bila tiada berkeberatan silakan berkunjung ke blog kami. Semoga terjalin silaturahmi. Matur nuwun…

    Insya Allah segera berkunjung… 🙂

  12. Uho~ Uho~ tak kira itu cerita asli dari Kaakin😛 eh ternyata ikut kontes ya kak?

    Semoga tak menimpa diriku😀

    Owo, ceritanya bagus dan menarik. I can enjoy this story, so touch me *alah*😀

    Hehehe…

  13. tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan dan apalagi untuk menjaga sebuah kepercayaan yang telah diberikan kepada kita …
    salam.

    Kalo orang udah ilfill, susah menyembuhkannya… 🙂

  14. Whuaaaaa…
    Akin udah ngontest euy🙂

    Keren tulisan nya Kin….
    Kepercayaan itu emang mahal banget harganya…

    Daku masih merenung euy…
    Nulis serius ituh susah banget Kin…hihihi…

    Padahal kan Mbak paling jago dalam hal petik-memetik hikmah😀

  15. dengan menjadi diri sendiri, insya Allah kita bisa jaga kehormatan diri..penuh imajinasi…sukses dalam kontes ya… balesan kunjungannya ditunggu..

    Makasih ya😀
    Insya Allah akan dikunjungi balik🙂

  16. Salam Takzim
    Wanti mungkin kalau yang antar jemput pakai motor simbah gak setuju, gimana kalau sama batavusqu Insya Allah si mbah inget dengan masa laluny nutk bersepeda keliling sama mbah Uti.
    Sendu ceritanya kak, walau taktau muasal cinta wanti sama si agung, sukses ya kak dan semoga menang
    Salam Takzim Batavusqu

    Hehe… tambah nggak boleh, Pak…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s