Ngobrol Bareng Bu Sri

Tadi malam aku makan malam dengan seorang ibu yang sudah kukenal lama. Sebut saja namanya Bu Sri. Dengan menu seadanya, kami menyantap makanan yang tersaji. Hanya nasi panas, ikan goreng dan sambal saja, namun alhamdulillah terasa nikmat.

Seperti biasa, agar suasana lebih cair, pembicaraan kecil berlangsung selama makan malam. Aku bercerita tentang tempat kerjaku dan kami juga membahas tentang keluarga kami. Kemudian pembicaraan mengarah ke kantor beliau.

Bu Sri adalah Kaur (kepala urusan) Keuangan di kantor beliau, salah satu kantor pemerintah yang ada di kotaku. Aku paham maksud beliu bercerita padaku bukan karena beliau ember, tapi karena beliau bermaksud membagi pengalaman beliau sehingga aku bisa menyerap hikmah dari kejadian yang beliau alami.

Mengabdi sejak sebelum aku lahir, kini Bu Sri menjelang masa-masa pensiun beberapa tahun lagi. Yang kutahu, beliau adalah orang yang jujur. Insya Allah sejak awal beliau menjadi pegawai negri sipil, beliau belum pernah melakukan penggelapan uang negara.

Dulunya Bu Sri adalah seorang bendahara yang menangani anggaran di kantornya. Sejak belasan tahun yang lalu beliau diamanahi jabatan sebagai Kaur Keuangan membawahi beberapa orang bendahara. Bendahara-bendahara beliau inilah yang menjadi salah satu sumber kepusingan beliau selama ini.

“Tadi ibu ngomel-ngomel di kantor” kata beliau.

“Kenapa, Bu?”tanyaku. Mulailah sang ibu bercerita tentang kejadian hari itu di kantor beliau.

Inti cerita Bu Sri adalah bahwa saat beliau sedang memeriksa berkas-berkas, ada salah seorang bawahan beliau, seorang ibu-ibu, yang mencoba meniru tanda tangan salah seorang rekan kerja, yang akan dibayarkan honornya. Bu Sri sangat yakin bahwa tanda tangan itu adalah palsu karena beliau sangat mengenal tanda tangan rekan-rekan beliau yang telah sekian lama bekerja sama.

Meskipun indikasi kecurangan telah ada, Bu Sri masih ingin mendidik bawahannya, jadinya beliau hanya ‘mengomel’ namun tidak secara langsung. Kukutip ucapan Bu Sri saat ‘mengomeli’ bawahan beliau mengenai tanda tangan palsu itu. Sebut saja nama bapak yang ditiru tanda tangannya itu Pak A.

“Hmm… Pak A ini gimana sih. Kalau tanda tangan kok beda-beda. Yang ini lain, yang itu lain. Tolong kamu kasih tau aja Pak A, kalau tanda tangan jangan beda-beda. Nanti kalau ada pemeriksaan kita bisa kena loh. Jadi susah kita… minta lagi aja ya tanda tangannya”

Kata Bu Sri, beliau kasihan juga dengan bawahan beliau itu dan masih menjaga perasaannya. Jadinya beliau menggunakan cara yang lain untuk menegur secara halus. Bila terang-terangan ditegur bisa aja ibu itu menjadi malu dan serba salah. Padahal, seandainya Bu Sri lalai memeriksa berkas tersebut, bisa saja jadinya hak rekan kerja yang lain ditilep oleh bendahara.  Alhamdulillah Bu Sri ternyata cukup teliti. Bu Sri jadi was-was, jangan-jangan bukan kali ini saja kecurangan terjadi, bagaimana dengan dana-dana yang lainnya?

Kecurangan, penggelapan uang negara merupakan salah satu bentuk tindakan korupsi. Sama aja dengan penggelembungan atau tilep-menilep. Tindakan ini bukan hanya dapat dilakukan oleh pada pejabat yang telah duduk di level atas, namun yang level bawah juga sangat mungkin terjadi. Seperti cerita Bu Sri ini. Mungkin saja karena kehidupan bawahan beliau itu yang membutuhkan biaya besar, karena kata Bu Sri yang mencari nafkah dalam keluarga hanya ibu itu saja, suaminya adalah seorang pengangguran serta gaya hidup yang lebay dan gaya banget. “Entahlah, ini mungkin saja loh,” kata Bu Sri.

Namun apapun keadaannya, Bu Sri tetap tidak mengijinkan kecurangan terjadi di kantor beliau, paling tidak di lingkungan bagian keuangan. Ternyata Bu Sri telah berulang kali mengganti bendaharanya.

“Sangat sulit mencari orang yang jujur” kata Bu Sri. “Si Anu memakai uang anggaran, Si Ini memakai uang potongan utang pegawai kantor yang mestinya disetorkan ke bank, belum lagi Si Itu…dst”

“Beratnya jadi atasan ya Bu” kataku.

“Iya… Menjaga orang supaya tidak curang juga susah.” Kata Bu Sri.”Setiap ada kesempatan, ibu selalu menekankan pada bawahan ibu agar mereka bekerja dengan benar dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah ibu berikan. Karena sekali bawahan ibu berbuat curang, ibu tidak akan mempercayainya selamanya, langsung ibu ganti saja.” Setuju, Bu!! sahutku dalam hati.

Dari pembicaraanku dengan Bu Sri aku menyimpulkan 3 hal mengenai cara beliau untuk menghindari tindak kecurangan pada bawahan beliau, yaitu :

1. Lakukan Pengawasan Ketat

Dokumentasi kegiatan dan berkas-berkas yang ada harus diperiksa dengan teliti. Kecurangan bisa terjadi dengan cara mengakali berkas, misalnya tanda tangan yang dipalsukan atau uang anggaran diakal-akalin supaya bisa ditilep.

Memang sih akan lebih repot, memeriksa dengan seksama setiap berkas yang potensial mengandung unsur kecurangan, namun demi hasil yang baik, tak mengapalah. Kata Bu Sri, bendahara beliau yang memegang anggaran, bertanggung jawab penuh atas uang yang ada. Bayangkan aja, berapa besar anggaran tahunan di suatu kantor pemerintah, yang bila dicuil dikit (mungkin) nggak akan ketahuan. Kalo nggak diawasi, bisa lewat deh.

2. Beri Teguran

Bila ditemukan indikasi kecurangan, bisa diberi teguran. Cara memberi teguran bisa secara langsung maupun tidak langsung. Mungkin awalnya bisa secara tidak langsung, seperti yang kusebutkan diatas. Bu Sri secara tidak langsung menegur bawahan beliau tersebut. Karena Bu Sri adalah seorang wanita, jadi teguran beliau mungkin mirip omelan. Bu Sri juga bercerita beliau pernah menegur bawahan beliau dengan cara menegur bawahan yang lain. Menyindir maksudnya. Dengan harapan semoga si pelaku membatalkan niatnya untuk menyimpang. Mudah-mudahan mempan.

Bila memang nggak mempan, bisa dilakukan teguran langsung. Bu Sri juga mewanti-wanti agar bawahan beliau bekerja dengan benar dan terus memegang kepercayaan beliau. Dengan demikian bawahan beliau akan sungkan untuk melakukan kecurangan.

3. Ganti Personel

Bila ternyata teguran tidak mempan dan kecurangan telah terjadi juga, mau tidak mau harus mengganti personel, yaitu orang yang lebih kompeten dan jujur tentunya. Dengan dilengserkannya bawahan tersebut dari jabatannya, maka ia tidak punya lagi kesempatan untuk berbuat curang.

Hmm… berbincang-bincang dengan Bu Sri memberiku pencerahan bahwa jangan memberi celah untuk kecurangan dan pemimpin yang jujur akan menciptakan bawahan yang jujur pula. Insya Allah…

*****

Tulisan ini kusertakan pada Anti Korupsi Blogpost Competition yang diadakan oleh Cerita Inspirasi.net.

29 thoughts on “Ngobrol Bareng Bu Sri

  1. Wah Akin buat dua tulisan untuk kompetisi Anti Korupsi, hebat akin! Bundo semakin terkagum-kagum dengan kemampuan akin menulis, kreatif dan tak kenal lelah.

    sukses ya Kin..!

    • Kebetulan dapat ‘pencerahan’ dari bu sri:mrgreen:
      Saya nyadar banget, ternyata saya nggak bakat menulis dengan baik. Tata bahasa yang jelek…
      Hmm… tebal2in muka aja buat ikutan lomba🙂

    • gak kerja di pemerintahan.. jadi semua laporan jelas dengan bukti yang jelas. Insya Allah semua bawahan saya gak berbuat hal seperti itu…. tolong sampaikan salam hormat saya ke Ibu Sri semoga keindahan menyertai hidupnya selalu……

  2. sip… 2 tulisan Akin diikutkan dalam blogpost compt.
    sebetulnya klo kita jeli, banyak juga kok aparat pemerintah yg idem dito dng ibu sri, di mana mereka jarang diekspos oleh media sbg contoh teladan yg bagus.

    • Hehe… bener banget Pak…
      Mungkin baik juga bila tokoh seperti bu sri ini diangkat ya…
      Hiks… ternyata tulisan saya nggak cukup 1000 kata😦

  3. aku kl ngomongin masalh korupsi kepalaku lgs pusing, pengalamanku kerja dibag keuangan walaupun bkn ktr pemerintahan tp tetep ada ada korupsi…yg nyebelin nya itu bos2 ku sendiri yg ngelakuin…jdnya diriku cm bisa diam aja, dilema mmg, tau tp gak bs melarang….itu salah satu yg bkn aku mutusin pindah kerja…

  4. 1. Lakukan pengawasan ketat
    2. Beri teguran
    3. Ganti personil
    ========================
    1. emang kita gak boleh lengah harus dilakukan pengawasan ketat walau sebenarnya diawasi itu gak nyaman.
    2. Apalagi kalo ditegur, tentu akan lebih menyakitkan
    3. Yang ini tentu lebih menyakitkan lagi

    Pilih osi A atau C sama saja beresika bgitu kata pak surya, bagaimana dengn pak hata : “saya adalah ketua tim sukses, mana mungkin saya berkhianat.
    Komennya nyambung gak yah ?😆😆😆❓❓

  5. Subhanallah…..melalui komentar ini kami mengajak sahabat untuk bergabung di aggregasi web kami,cukup memasang banner kami,insya Allah setiap sahabat posting terbaru akan muncul di web kami..syukran

  6. sebenarnya mungkin banyak orang2 yang seperti Bu Sri ini, hanya saja tidak di ekspos sebagai contoh yang baik bagi masyarakat, krn berita ttg korupsi justru lebih heboh dan seru dibanding memberitakan orang2 seperti Bu Sri ini.
    Selamat ya Kakaakin, semoga beruntung di lomba ini.
    salam.

  7. Ini semacam warning untuk diri saya pribadi Kak …
    Janganlah perilaku “cemen” ini … merasuki kami …
    merasuki kita …

    Salam saya Kak …

  8. Amanat itu susah menjaganya..
    sekalinya kita diberi amanat, apakah itu jabatan, kepercayaan atau uang, sudah selayaknya kita mempertahankan amanat tersebut dengan sebaik baiknya.

    Kisah kakaakin dan Bu Sri adalah sebuah pelajaran yang baik untuk dapat menjaga amanat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s