Samarinda is Very Hot

Cuaca Samarinda hari ini benar-benar panas. Lihatlah langit cerah itu… Sebenarnya bukan hanya hari ini, beberapa pekan terakhir ini tak ada hujan mengguyur Samarinda. Kontras dengan daerah lain, seperti di Jawa, Sumatra atau Sulawesi yang malahan mengalami hujan terus-menerus hingga banjirpun datang. Lumayan juga selama hujan nggak turun ini, aku jadi nggak perlu repot-repot nyuci motor, karena motor ku tetap terjaga kebersihannya🙂

Panas memang terik, namun aktivitas tetap jalan. Siang bolong tadi aku harus mengantar ibuku ke pasar. Peralatan pendukung naik motor seperti penutup wajah, sarung tangan enggan kupakai, karena memang tidak terbiasa. Gosong, gosong dah… Sepertinya bintik-bintik yang sudah menghiasi wajah ku sejak aku kecil, akan bertambah banyak lagi:mrgreen: Celingak celinguk nyari yang segar-segar, alhamdulillah segelas es berhasil juga melalui kerongkonganku.

Setibanya di rumah ibuku aku tiba-tiba teringat pupur (bedak) dingin. Waktu aku kecil dulu, sering banget pake pupur ini. Mungkin sebagian sahabat sudah ada yang tahu tentang pupur dingin ini. Pupur dingin biasanya dipakai di kulit untuk menghindari sengatan matahari bila akan keluar rumah, atau bila ingin mendapat efek sejuknya. Perempuan-perempuan kampung biasanya banyak yang memakai pupur ini. Pupur dingin ini biasanya terbuat dari beras yang direndam, kemudian ditumbuk bersama bahan-bahan lain seperti pandan dll. Adonan kemudian dibentuk bulat kecil seperti mutiara lalu dijemur.

Pupur dingin biasanya juga telah ada yang dijual dari hasil olahan pabrik, seperti yang dijual ibuku. Iseng-iseng aku minta ke ibuku sebungkus pupur dingin  ini, dan memakainya. Kuambil sebutir pupur, kutaruh di telapak tanganku, lalu kutambah sedikit air. Mungkin karena ditambah air, jadinya terasa sejuk dan nama lain dari pupur ini adalah pupur basah. So, bagaimana penampakan wajah saat memakai bedak ini?? Persis  tampang suku pedalaman yang sedang in action dengan cemongan warna putih yang memenuhi wajahnya🙂 Masih mending geisha yang bedak putihnya lebih merata ke seluruh wajah… hahaha….😆😆😆

*lanjutan ngakak* hahahaha…. Inilah wajah wanita kampung yang sedang memaki pupur dingin alias pupur basah. Percayalah sodara-sodara… tampangku sangat mengerikan:mrgreen:

*****

Sore ini aku juga ke Mall Lembuswana Samarinda, karena pengen nyari kado untuk ultahnya anak rekan kerjaku, sekalian ngadem sih…😛 Tiba-tiba kudengar suara jrang jreng yang nyaring dan kulihat serombongan kecil pemain barongsai sedang beraksi. Barongsainya mengelilingi mall, memasuki toko satu persatu untuk mengambil angpau yang tergantung di langit-langit. Mungkin ini ada kaitannya dengan hari raya Imlek.

Hmm… kasihan juga mas-mas yang membawa barongsai itu… tampak kelelahan dan kepanasan🙂

Ini nih, rombongan musik pengiringnya…🙂 Jrangng…. Jreengng…

Haapp!!! Dapat deh angpaunya…🙂 Entah siapa yang menyediakan angpau ini, karena kulihat masih banyak banget angpau yang bergantungan di masing-masing toko🙂

*****

Inilah kisah kegiatan yang kujalani hari ini, langsung kulaporkan dari lantai 3 Mall Lembuswana, ditemani segelas es teh yang menyegarkan dan nebeng wi-fi gratisan di Food Point. So, sekarang… lanjut nyari kadonya, karena tadi masih belom nemu yang pas (di dompet)…:mrgreen:

62 thoughts on “Samarinda is Very Hot

  1. di sini masih beku akin.. mau ditularin dikit biar ngga kepanasan?😉
    iya betul, seperti kata mas alam, kalo pupur dingin itu buat bayi kalo di Jawa.

  2. seharian ini kota saya yg berada di timur jakarta hujan dan mendung, ke arah barat dikit pd kebanjiran akibat meluapnya sungai.
    **rencananya besok siang ada gelaran acara barongsai dan liong akan karnaval keliling kota.. mdh2n cuacanya cerah..soalnya saya mau nonton🙂

  3. hahaha…bedak itu mengingatkan aku waktu kecil.. kepalalu benjol karna sukses nabrak pintu.. habisnya, pas keluar kamar..pas liat wajah seram putih pucat.. gak taunya itu cuma kakakku yg pake bedak gituan…hehe *kok jadi ngelantur yaa*

    sekarang, si musim juga ikut2an bingung kayaknya..cuaca tdk merata dan tak normal…🙂

  4. samarinda teh ibukota kalimantan timur ya mbak akin??
    kalau ke bontang masih jauh ga???
    sil punya teman yang kampung halamannya di bontang…
    foto langitnya indah banget mbak..
    selalu saja sil suka liat foto2 itu..

  5. Memang sejuk kalau siang-siang panas gitu pake pupur dingin. di kampungku nenek biasa membuat pupur dingin sendiri. Karena aku di rumah nenek itu masak pake kayu bakar, nenek sering marah dan memerintahkan aku agar memakai pupur dingin. Kata nenek biar kulit halus dan tidak menjadi hitam akibat terkena panas api tungku. Haha.. itu pas aku masih gadis.

    sekarang sudah jadi ibu-ibu, sudah nggak disuruh-suruh makek lagi.

    di tempatku sini, kadang bertemu dengan ABG yang keluyuran di jalan dengan muka cemongan pupur dingin. Biasa saja pemandangan seperti itu di sini.

    Samarinda panas sekali, sumurku mulai surut airnya, lama nggak hujan. Biasanya rawan kebakaran, ya Kin..

  6. ingat waktu kecil dulu, nenek paling sering memakaikan kami, cucu2nya, bedak dingin ini, katanya biar gak kena biang keringata krn udara yg terlalu panas.
    Dari sampingpun fotonya Kakaakin tetap cantik :d
    salam.

  7. jkt udah mulai hujan terus, musti ingat2 besok mau bawa baju ganti lengkap, jaga2 aja , tadi pagi sepatu dan kaus kakiku lepek basah kuyup, sepanjang hari jadipake sendal jepit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s