Menggores Dinding

Bersepeda kini merupakan hobi yang sangat populer. Berbagai komunitas sepeda bermunculan dibeberapa daerah. Di Samarinda juga marak kegiatan bersepeda ini. Misalnya di kantor kakakku, pihak kantor bersedia memberi pinjaman ringan tanpa bunga, khusus bagi karyawan agar dapat membeli sepeda. Pada malam minggu, bila kebetulan aku sedang beredar di tengah kota,  biasanya aku berpapasan dengan konvoi anak-anak usia SD hingga SMP, menaiki sepeda, membelah keramaian ibu kota Kaltim ini.

Saat melihat  orang lain bersepeda terbersit rasa iri di hatiku, kapan ya…aku bisa punya sepeda. Celengan khusus tuk beli sepeda nggak penuh-penuh, karena kenanyakan jajan nih🙂 Makin iri aja saat mengunjungi tempat Pak Zipoer, sang onthelis sejati, yang kerap menyajikan pengalaman indah beliau saat menggowes. Bahkan saudaranya Batavusqu, si Humberqu yang lagi ngadain acara bagi-bagi pengalaman dalam bersepeda,  sukses banget memupuk rasa iriku akan sepeda🙂

Padahal pengen banget naik sepeda… Rasanya sudah cukup lama aku nggak naik sepeda. Kalo nggak salah terakhir kali kemaren waktu aku KKN di desa, minjem sepedanya penduduk🙂 Untungnya keterampilan bersepeda nggak akan hilang begitu saja dari diri kita. Walaupun sudah lama nggak naik sepeda, insya Allah kemampuan itu masih ada. Jadi nggak perlu belajar naik sepeda dari awal lagi deh🙂

Kalo mesti ngulang belajar naik sepeda dari awal lagi, pasti repot banget. Waktu aku kecil dulu, aku tergolong lambat dalam memiliki keterampilan naik sepeda. Aku terlebih dulu bisa berenang, dibanding bisa naik sepeda (maklum, dulu hampir tiap pagi dan sore mandinya di sungai mahakam😛 ). Sepeda roda lebih dari dua sih gampang dinaiki, lain halnya jika rodanya cuma dua… wah, aku jadi nggak bisa balance.

Mungkin sahabat dulu belajar naik sepedanya di lapangan atau halaman rumah, berbeda dengan diriku. Aku dulu belajar sepeda di dalam rumah! Dulu aku dan keluargaku tinggal di sebuah rumah sewaan yang tidak terlalu besar, namun lumayan panjang. Rumah kayu ini bentuknya kopel, sehingga posisi kamar adalah pada sisi yang ada jendelanya. Jadi terdapat jalur bebas hambatan dari ruang tamu hingga ruang makan, mungkin sepanjang ± 8 meter, yang bisa kugunakan sebagai tempat berlatih.

Karena aku dulu anak yang lumayan bandel tapi penakut, aku sama sekali nggak berani latihan naik sepeda dengan cara didorong oleh kakakku, kemudian dilepaskan pelan-pelan sambil belajar keseimbangan, bukan banget! Aku lebih memilih menyandarkan setang sepedaku ke dinding plywood berlapis kapur di rumah kami. Berapa lama nih, berlatih seperti ini? Lama, seingatku aku sangat lama baru bisa memberanikan diri menjauhi dinding secara perlahan-lahan. Jatuh-jatuh juga sih🙂

Terbanyang deh, berbulan-bulan rumah (sewaan) kami yang udah butut, dindingnya bergores-gores pula. Nggak tanggung-tanggung, goresannya full dari ruang tamu sampai ruang makan:mrgreen: Aku sih senang banget, karena belajar sepeda bisa indoor, nggak kepanasan, kalau jatuh dijamin nggak bakal lecet. Tapi kasihan orang tuaku, harus mengeluarkan budget untuk kembali mengapuri dinding rumah kami, agar goresan bekas ujung setang sepedaku bisa tertutupi😦

Kira-kira dulu goresannya mirip ini nih, cuma lebih parah🙂 Kalau yang ini goresan di dinding plywood rumah ibuku saat ini, akibat gesekan kursi tamu…

Alhamdulillah, setelah sekian lama berlatih indoor, akhirnya aku punya juga nyali tuk latihan di halaman Mesjid Shirathal Mustaqiem yang luas🙂 Tentu saja masih diawasi oleh kakakku. Hmm… pengalaman bersepeda memang menyenangkan🙂 Meskipun aku pernah terjatuh dari jembatan setinggi ± 1,5 meter, aku tetap nggak jera. Terus bersepeda🙂

*****

Ehm… Mudah-mudahan celenganku cepat penuh… Sudah kangen berat nih, pengen naik sepeda lagi:mrgreen:

36 thoughts on “Menggores Dinding

  1. bersepeda.. walaupun bertahun-tahun ngga naik sepeda lagi kita tetap akan ingat caranya. cara menyeimbangkan badan, feelingnya ngga akan ilang ya kin..

    tulisan akin menarik, sukses yaa..!

  2. hem… ketularan mister batavusqu, atau memang sedang ikut festival sepeda di blog mister batavusqu… semoga sukses…

    sedj

    • Bener banget tuh…
      Padahal di dekat tempat tinggal saya ada stadion loh, tiap sore atau wiken banyak yang bersepeda disitu🙂

  3. wow ini lagi pada ada pekerjaan rumah ya… wah mantabs… tapi kalo sepedanya ilang pernah ngrasain belum? ane pernah tiga bulan gak pulang kerumah karena sepedanya dicuri orang pas shalat maghrib… ish ish.. oreonking(nama sepedaku) i miss u….

    • Hehe…alhamdulillah, blum pernah ngerasain kehilangan sepeda. Cuma sepeda yang datang silih berganti sih pernah, artinya: saat ortu kekurangan uang, sepeda dijual. Saat punya uang lebih, beli sepeda lagi, walopun yang butut. Hal ini berulang terus🙂
      Hmm… tuh maling bukannya sholat Magrib, malah nyolong sepeda… ckckck… *geleng-geleng*

  4. wah kelihatannya sudah nabung yach….
    orang2 di samarinta doyannya pake speda yach…..,
    jdi pengen buat persatuan sepeda medan comonity nie….

  5. Bersepeda itu memang nikmat sangat …
    Bersepeda adalah satu-satunya olah raga yang aku jalani sampai saat ini …

    Saya mendoakan ..
    Agar celengan cepat penuh …
    dan Kakaakin bisa bersepeda …

    Salam saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s