Apa Kabar Dapur Ibuku?

Kemarin aku ‘pulang’ ke kampung seberang untuk menengok ibuku. Setiap aku libur kerja atau bila sempat, insya Allah aku selalu pulang. Kampung seberang ini namanya Samarinda Seberang yang hanya berjarak tempuh sekitar 25 menit dari rumah omku. Ibuku adalah seorang wanita yang lahir di tahun 1941, kini usia beliau hampir kepala 7. Sudah lansia memang. Namun ibuku masih produktif hingga kini. Warung sembako yang telah dirintis keluargaku sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, tetap digeluti beliau hingga saat ini,dibantu oleh salah seorang tanteku. Warung sembako, walaupun kecil-kecilan namun telah lumayan membantu perekonomian keluargaku, karena almarhum ayahku dulu hanya seorang buruh pabrik plywood.

Aku berbincang-bincang dengan beliau mengenai keadaan warung dan perekonomian masyarakat di sekitar RT kami, dimana terdapat sebuah mesjid tertua di Samarinda, yaitu Mesjid Shiratal Mustaqiem. Aku memanggil ibuku dengan sebutan mama (bukan mamah :P ). Bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah bahasa banjar, kurang lebih beginilah terjemahannya :)

Mama : “Warung sekarang sepi… Biasanya mama bisa dapat lebih dari 500 ribu sehari, sekarang cuma 200 ribu aja” (aku tau, jumlah segitu adalah harga barang yang terjual. Paling keuntungannya hanya beberapa ribu saja)

Akin   : “Hmm… berkurang juga ya, Ma. Tetangga sebelah juga buka warung.”

Mama : “Iya, sekarang ini orang yang punya rumah di pinggir jalan kebanyakan pada jualan sembako atau bikin konter pulsa. Kalo yang jualan banyak gitu, siapa yang beli jadinya. Mama lebih bersyukur, karena di warung lain ada yang cuma dapat 10 ribu aja seharian…”

Akin   : (manggut-manggut) “Iya ya, Ma. Kasihan juga…”

Mama : “Memang ekonomi warga sekitar sini terasa berkurangnya. Biasanya beli beras beberapa kilo, tapi sekarang beli beras cukup untuk sekali masak aja. Tapi, mama nggak sedih… banyak-banyak memohon sama Allah aja, ibadah dan amalan-amalan juga terus dijalankan.”

Akin    : “Iya, Ma. Kasihan mama sama acil(tante), sudah tua. Jangan terlalu capek. Gimana dengan minyak tanah, Ma?”

Mama : “Sekarang mama jual 9 ribu seliter. Tapi di warung lain ada yang jual 8500 aja. Mama ndak bisa jual segitu, modalnya aja lebih. Tapi yang beli minyak tanah sekarang sepi. Sudah banyak yang pake gas atau kayu bakar aja…”

Akin     : “Oo…”

Hmm… memang perekonomian kampungku kini tak seindah dulu. Perusahaan plywood yang dulu jadi primadona kini telah banyak yang gulung tikar, yang tentu saja berujung pada PHK karyawan. Kemudian sempat beberapa bulan yang lalu marak terjadi pencurian batu bara langsung dari kapal pengangkutnya, yang dilakoni oleh warga kampungku atau pendatang yang tinggal di kampungku. Saat itu kampungku seperti bersinar, tiba-tiba konter pulsa bermunculan, butik (atau sesuatu yang mirip) pun tak ketinggalan, tentu saja warung mamaku ikut-ikutan ramai karenanya. Alhamdulillah, kini pencurian batu bara itu telah dihentikan oleh pihak kepolisian, para pendatang pada pulang kampung dan ada yang sempat ditangkap polisi juga.

Kini, kembali sepilah kampungku. Konter pulsa tak seelok dulu lagi. Ibu-ibu yang memiliki keahlian membuat kue, berusaha berdagang kue untuk membantu ekonomi keluarga, namun tidak terlalu membantu ternyata.

Lesunya perekonomian warga berimbas juga ke rumahku dan langsung menuju ke dapur ibuku. Tabung gas dan kompornya yang telah dibagikan pemerintah hanya teronggok saja di salah satu pojokan rumah. Ibuku nggak berani memakai kompor gas, karena takut meledak. Jadinya kompor minyak tanah lah yang jadi andalan beliau.

Saat aku akan menggunakan kompor ini tadi malam, ternyata minyaknya kering kerontang. Jadi harus kuisi dulu dengan minyak tanah yang kuambil dari warung. Oiya, warna minyak tanahnya agak kehitaman, berbeda dari yang dulu. Kata ibuku, minyak tanah tidak bersubsidi warnanya memang kehitaman. Karena harga minyak tanah yang semakin mahal, ibuku juga menggunakan dapur lain untuk memasak. Yang ini nih…

Sebuah dapur sederhana, yang dibuat ibuku dari kaleng minyak goreng. Kayu bakar yang digunakan entah beliau ambil dari mana. Sebenarnya dapur ini memang sudah ada sejak lama, karena biasanya digunakan ibu untuk memasak masakan yang memerlukan waktu yang lama dalam pembuatannya, seperti merebus ketupat dll. Oh iya, setelah makan durian kami tidak membuang kulitnya. Kulit durian dijemur ibuku untuk kemudian dijadikan kayu bakar :) Hmmm… memasak dengan kayu bakar… mengingatkanku pada masa kecilku dulu, saat ibuku belum menggunakan kompor minyak tanah… :)

Kisah ibuku hanya satu diantara kisah warga  yang ada di masa kini, saat ketidakpastian perekonomian mengombang-ambing mereka. Sebenarnya aku dan saudara-saudaraku merasa bersalah, karena hingga kini kami masih belum sanggup membuat ibu kami ‘retire’ dari pekerjaan beliau, karena lagi-lagi permasalahan ekonomi yang kami hadapi. Lagi pula ibuku berkata, beliau  tetap ingin berkarya, agar bisa tidak bergantung dengan siapa-siapa. Oh… Mama… kami jadi malu :oops: :oops:

About these ads

60 thoughts on “Apa Kabar Dapur Ibuku?

  1. kisah ibu kita mirip :)
    toko kelontong milik kami adalah yg pertama di desa, tapi sekarang harus berbagi pembeli dengan toko-toko lain yang menjamur.

    Hidup yang keliatannya semakin sulit, tidak akan mengendurkan semangat kita kan?
    Itu artinya perjuangan kita harus semakin kuat^^

  2. Mama Akin sama dengan Mama-nya bundo.. ga mau bergantung pada anak-anaknya. di usianya yang sudah senja pun masih mandiri, pergi ke sana-sini atas keinginannya sendiri dan uangnya sendiri. Mengurus cucu, bukannya diurus.. padahal cucunya udah pada gede semua :D

    • Semua mama tentunya hampir sama. bahkan mama dari suami saya, yang pernah mengalami kecelakaan (Operasi pemotongan tulang belakang) tetap saja mau berjualan. Mamah saya juga masih berjualan di rumah sambil ngemong Mas rizi anak saya. Padahal kami sudah menyarankan untuk berhenti saja biarkan kami yang menggantikan. Hanya dengan alasan gak biasa diam, kamipun rela , kasian juga kalo diam di rumah hehehe seperti orang bingung.

  3. org pinter klo bicara ekonomi rumusnya sangat rumit dng indikator2 yg sulit dipahami. pdhl indikator paling nyata adalah kondisi ekonomi masyarakat, betapa rakyat kebanyakan menurun daya belinya.
    **pendapatan semakin sedikit, sementara kebutuhan hidup terus bertambah.

    • “Daya beli masyarakat” benar2 bisa jadi indikator ya Pak…
      Yang membingungkan, di kota saya penjualan sepeda motor tetap saja meningkat, motor2 plat putih masih bertaburan :(

    • Tinggalnya di Samarinda Sebereang ya? Kebetulan suami orang Samarinda. memang dulu Plywood adalah andalan utama di sektorindustri. Namun hutan semakin memberikan resiko jadi banyak yang dihentikan, apalagi banjir yang sering datang. Penggalian batubara menjadi biang juga. Semoga Samarinda menjadi lebioh baik kedepannya, apa lagi akana da pilkada lagikan???

  4. kadang aq merindukan dapur kek gtu kin… salam buat mama.. semoga senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan kasih sayangNya… aamiin

    • Amiinn… Insya Allah disampaikan…
      Psst… aku sering loh cerita ke mamaku tentang seorang teman bloggerku yang lagi tinggal di Saudi dan punya ulasan lengkap plus gambar2 pengalamannya berhaji :) Bahkan blog yang bergambar bunga matahari itu juga kuperlihatkan ke mamaku, beliau sangat senang melihatnya :)

  5. ibuku yang sudah lebih 70 tahun pun tak mau berhenti untuk istirahat tidak ke sawah dan mencari rumput untuk sapi, katanya kalau sapi dijual, tak ada lagi aktifitas yang bisa dilakukan

    • Betapa besar cinta orang tua…
      Mama saya berkata, beliau masih ingin memberi ke anak cucu… walau hanya sebutir permen :cry: :cry:

  6. Assalamu alaikum Wr wb.
    Sahabatku tercinta,
    Saya berkunjung untuk memperkokoh tali silaturahmi sambil membawa setangkai bunga tanda cinta dengan lilitan pita berwarna oranye berisi sebuah doa semoga sahabatku dalam keadaan sehat wal-afiat. Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rhmad,hidayat dan karunia-Nya kepada sahabatku beserta orang-orang tercinta.
    Demikian pula doa dan harapan saya semoga kesuksesan,kesejahteraan, rejeki yang halal dan barokah serta kebahagiaan yang hakiki yang ditopang oleh keimanan dan ketaqwaan yang kokoh-kuat dicurahkan Allah Swt kepada anda sekeluarga.

    Bersama saya ikut juga si Bening, sebuah blog baru yang nuansanya berbeda dengan blog-blog saya yang lain. Sebagai new baby, si Bening masih memerlukan saran dan kritik yang membangun dari para senior agar blog cantik itu segera bisa berjalan bersama blog yang lain sambil tersenyum.
    Terima kasih sahabatku.
    Salam hangat dari Surabaya

  7. wah, nenekku jg sampai sekarang dapurnya msh begitu, dia gak mau pake gas, takut meledak katanya. tp gak apa2, kalo lebaran masak ketupat, ketupat nenekku yg paling enak, karena masaknya pake kompor minyak tanah.

    • Efek lain dari dapur beginian sih jelaga yang kemana-mana :)
      Dapur warnanya pasti hitam… :)
      Tentang kompor gas, mamaku nggak mau tawar menawar… pokoknya nggak mau pake, titik! Hehe…

  8. betul sekali Mama… walaupun kita dalam posisi apapun (senang ato susah) kita harus patut bersyukur dan selalu dekat serta memohon kepada Allah SWT, karena Dialah satu2nya harapan untuk kita semua.

  9. Hmmm … Ibu saya dah lama ‘retire’, dulu sempat juga jualan di pasar. Kasihan ngeliatnya, biasanya kecapean, kalo tidur sering kaget karena mesti bangun pagi-pagi. Huffhh … Tekanan darahnya bisa naik.
    Sekarang dah mesti istirahat.
    Salam sayang buat Ibunya … :-)

  10. Kisah ibumu mengingatkan aku pada nenekku, mungkin usianya sudah hampir kepala delapan, bahkan pendengarannya sudah berkurang. tapi tetep gak mau disuruh istirahat dirumah saja. Ada saja aktifitas yang dicarinya.

  11. idem seperti fety, aku juga kangen my momm :( akin, tetap semangat! biasanya orang tua kalau masih sehat memang selalu ingin ada kegiatan. yg penting mama akin jangan kecapean.. salam tuk mama Akin dan keluarga kalo ketemuan lagi ya ;)

    • Sebenarnya beliau sangat kasihan… :(
      Alhamdulillah, salamnya udah kusampaikan langsung dengan menunjukkan komen2 disini kepada beliau :)

  12. Meski kondisi perekonomian seperti ini, tetapi sepertinya masih lebbih baik dari warga amerika yang justru banyak kehilangan tempat tinggal ya…
    Bersyukur dan berdoa aja deh, supaya Indonesia lebih baik lgi kedepannya.
    Hmmm, mamanya seumuran Simbah saya.

  13. Hhm…..Mbak….aku jadi kangen ibuku yang berada jauh di kampung sana :(
    Keadaan perekonomian masyarakatnya tidak jauh lebih buruk dari tempat Ibunya Mbak Akin dech….

    Salam buat Ibu ya Mbak

  14. para pakar ekonomi, kalau bicara malah membingungkan kita.
    padahal indikator nya bisa dilihat langsung di masyarakat, apa yg terjadi kini, memang keterpurukan yg makin dalam.
    Salam hangat dan hormat untuk Mama tersayang, Kakaakin.
    Semangat beliau patut diteladani, yg selalu ingin mandiri.
    salam.

  15. kisah ibuku juga sama kin, beneran dech:D, tapi ibuku usaha katering gt,
    hmm…kapan yah bisa bikin katering ibuku jadi lebih bagus lagi

  16. Lengkap sekali catatannya berkait dengan Ibu. yah begitulah Ibu selalu bisa menjaga perasaan anak2nya walau anak2nya meras belum bisa membahagiakannya. kata orang sih, ibu sudah sangat bahagia ketika si anak sudah bisa mencari makan sendiri….kebhagiaan yang tak terhingga katanya….

  17. hehehe… ibuku juga masih memakai kompor biasa dan tungku meski sudah ada kompor gas tapi malah jarang dipakai

    berkunjung lagi

  18. nah, persaingan yag sperti ini memang jadi dilema. UKM jadi kalah sama anu itu toserba sekalian yang tampilannya lebih keren. gimana kalo ibu jual makanan ?? lebih repot si memang tapi katanya untungnya lumyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s