Titip Rindu Untuk Putri Mungilku

Pintu kamar pasien membuka sedikit. Kumengintip ke dalam. Tampak para penghuni kamar 2 telah tertidur lelap, karena sudah pukul 1 dini hari. 3 tempat tidur di kamar itu terisi lengkap oleh pasien, sementara keluarga mereka tidur di lantai beralaskan karpet yang dibawa dari rumah. Kemudian pandanganku tertuju pada salah satu pasien, yang ternyata masih membuka mata. Ingin aku menghampirinya, namun kuurungkan niatku, karena jalan menuju tempat tidur pasien itu terhalang oleh beberapa keluarga pasien yang sedang tidur di lantai.

Pasien itu adalah seorang ibu yang belum genap sebulan yang lalu melahirkan putri keduanya. Namanya Bu Yaminah. Sebelum dirawat, ia telah beberapa kali berobat ke puskesmas dan selalu menolak anjuran petugas agar ia dirawat inap.

” Anak saya masih kecil, Suster. Nggak bisa ditinggal…” Sahutnya dengan mata berkaca-kaca. Selalu itu jawaban yang diutarakannya kepada kami, perawat di puskesmas.

Akhirnya Bu Yaminah menyerah juga, setelah kondisinya semakin lemah dan demam yang dideritanya tidak berangsur turun.

Melihat Bu Yaminah malam ini membuat hatiku bersedih juga. Aku berusaha menyelami perasaan seorang ibu yang terpaksa meninggalkan bayi mungilnya di rumah dengan pengawasan orang lain. Tak terasa jari-jariku menari di atas keyboard lappy tercintaku, yang sengaja kubawa ke tempat kerja karena kuingin membuat puisi untuk disertakan pada lomba Parade Puisi Cinta (PPC) yang diadakan oleh Pakde Cholik. Puisiku telah selesai kutulis, namun kini aku merasa ingin mengungkapkan gambaranku tentang perasaan Bu Yaminah malam ini.

_____________________________

Nak…

Maafkan ibu yang tak ada di sisimu kini

Sesungguhnya ibu sangat merindukanmu

Senyumanmu yang merekah dikala ibu menatapmu sayang

Pipimu yang memerah hingga membuat orang lain gemas

Jari-jari mungilmu…

Ya, jari-jari mungilmu yang menggenggam erat jari ibu

Seolah-olah kau takut ibu pergi meninggalkanmu

Maafkan ibu…

Kini ibu tak di sampingmu

Ah, payudara ibu terasa berat dan penuh

Ibu tau kau kini sangat merindukan ibu

Karena ibu juga tengah merindukanmu

Kau sedang menangis menginginkan air susu dari ibumu

Namun sayang, ibu tak bisa memberinya

Ibu berharap susu lain bisa mengobati dahagamu

Ah, kini ibu sulit tuk memejamkan mata

Sesungguhnya ruangan ini lebih indah dari kamar kita

Sesungguhnya kasur ini lebih empuk dari kasur kita

Namun tiada kau disisi ibu

Namun aroma sucimu tidak menghiasi penciuman ibu

Betapa sulitnya memejamkan mata ini

Ah, kini hati ibu sedang gelisah

Ibu merasa kini kau sedang berhias tangis

Menanti hangatnya dekapan ibu memeluk erat

Menginginkan tuk tertidur di empuknya dada ibu

Maafkan ibu yang tak dapat menyamankanmu

Berharap eyang dapat memberimu kehangatan

Putri mungilku…

Tunggulah sebentar lagi

Insya Allah beberapa hari lagi ibu akan sembuh

Demam ini masih menghampiri ibu

Ibu harap kau belajar bersabar sejak sekarang

Hingga kelak kau besar dapat menjadi muslimah yang tangguh

Putri mungilku…

Ibu sangat merindukanmu

_____________________________

Ah… mataku juga ikut berkaca-kaca jadinya😥😥😥 Namun rasa kantuk telah menghampiriku. Sudah pukul 3 dini hari. Berharap dapat meluruskan badan sejenak sambil memejamkan mata, hingga subuh tiba.

Bismillah…

Bismika Allahumma ahya wa amuut…

Pukul 5.00. Sebuah suara membangunkanku dan juga teman jagaku.

“Suster, mau berobat…”

Baiklah… It’s show time…

46 thoughts on “Titip Rindu Untuk Putri Mungilku

    • Honestly…
      Saat menebak-nebak isi kepala Bu Yaminah di malam itu, mataku berkaca2.
      Kerinduan si ibu akhirnya terobati setelah keesokan harinya sang putri dibawa membesuknya, dan di sore harinya ibu itu dapat tertidur lelap.

    • Hahaha…
      Aku memang panday membaca dan rajin menulis:mrgreen:
      Baiklah… mari kita bertarung… keluarkan jurus pamungkasmu anak muda:mrgreen:

  1. Jalan2 ke tempat para sahabat, dan banyak bertemu dgn tema seorang ibu…. Jadi pingin selalu dekat di sisi ibunda…
    Semoga cinta ibu, dan semua cinta yg ada diantara sesama, dapat menperindah hidup dan kehidupan ini…
    Moga sukses dgn kontesnya yaaa…
    Salam hangat dan damai selalu…🙂

    • Plis welkam to… Rian… *tepok-tepok*
      Sama, aku juga nggak ngerti puisi… nyoba nulis aja:mrgreen:

      Ibu itu alhamdulillah sudah sembuh. Dan udah balik lagi ke puskesmas untuk kontrol. Alhamdulillah gak ada keluhan…🙂

  2. selamat pagi. kakaakin.

    cakep nih puisinya. ibu yg begitu menyayangi putrinya.
    semoga bisa sukses mengikuti lombanya Mr Guskar,

    mari minum teh bersama ibu.
    terima kasih dan mohon maaf😮

  3. duh, Kakaakin benar2 bisa memahami apa yg dirasakan bu Yaminah terhadap anaknya.
    bunda jadi ikut2an menangis……hiks………hiks………
    semoga bu Yaminah cepat sembuh agar segera bisa mendekap lagi bayi mungilnya, amin.
    Semoga sukses utk lomba ini ya Kakaakin.
    salam.

  4. Catatan Menjelang Karnaval Blog MTBI
    Pertama, saya wajib mengucapkan terima kasih kepada teman-teman narablog yang telah mengirimkan artikel untuk meramaikan acara Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu. Artikel yang masuk cukup banyak, yaitu 50 naskah. Artikel yang dikirimkan ada yang berupa, Esai, Fiksi, Puisi, atau Ringan Interesan. Semua bagus, dan itu telah membuat saya kesulitan mana yang akan ditampilkan dalam karnaval nanti.
    http://guskar.com/2009/12/13/catatan-menjelang-karnaval-blog-mtbi/

  5. Aduh…puisix bener2 menyentuh..hampir2 sy menangis bacax..maklumlah sy sgt bs merasakan perasaan ibu tsb krn sy jg ibu dr seorang balita yg “cangat lutu…” Lam kenal y mba, sy jg bermukim d Samarinda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s