Tagged with fiksi

Anggrek yang Merekah (bagian 3)

Baru teringat, ternyata diriku belum memajang lanjutan cerpen kemarin Baiklah, inilah lanjutannya. Hmm.. rasanya, semakin kubaca, aku merasa aneh sendiri dengan tulisanku.   Bagian 1 ada disini. Bagian 2 ada disini. Lamat-lamat Hana mendengar suara orang berbincang-bincang dari dalam rumah. Sepertinya suara ayah dan ibunya. Hana merasa seperti berada di masa lalu. Saat ia tiba … Continue reading »

Anggrek yang Merekah (bagian 2)

(Bagian pertama ada disini) Halaman parkir rumah sakit pagi itu tampak ramai dengan pegawai dan mahasiswa keperawatan yang lalu lalang. Hana bersyukur karena ia dapat bangun pagi, karena semalam ia menelan sebutir Diazepam sebelum tidur. Dengan bantuan jam weker, alarm telpon genggamnya serta berkali-kali telepon dari Desi, akhirnya ia bisa terbangun juga. Hari ini adalah … Continue reading »

Anggrek yang Merekah (bagian 1)

Anggrek yang Merekah (bagian 1)

Cerpen “Anggrek yang Merekah” ini adalah cerpen ketiga (atau yang keempat ya?) yang kubuat sejak  aku melirik lomba-lomba atau audisi antologi, sekitar pertengahan Desember 2011 lalu. Saat itu aku menyertakan cerpen ini pada event yang bertema “Kehilangan” dan aku belum berhasil. Sebenarnya sudah berulang kali aku menyertakan cerpen ini pada berbagai event setelah gagal lolos … Continue reading »

Membaca Cerita Untuk Emak

Apakah Sahabat senang mendongeng atau membacakan cerita? Mungkin bagi sahabat yang sudah memiliki anak, kegiatan mendongeng sering dilakukan. Namun aku belum diberi kesempatan oleh Allah untuk mendongeng untuk anak-anakku. Semoga suatu saat nanti… Aamiin…

Secangkir Kopi dan Bayanganmu

Secangkir kopi hitam masih penuh di depanku. Kepulannya sudah hilang sejak bermenit yang lalu. Cangkir itu bukan pesananku, karena belum ada kata damai antara kopi dan perutku. Aku termangu memandang cairan hitam yang belum sempat tersentuh oleh pemesannya itu. Abiyan, kau masih sama seperti bertahun yang lalu, kopi hitam adalah teman setiamu.

Menyelamatkan Generasi Penerus

Furqon baru selesai mengajar kursus Bahasa Inggris malam itu. Ia bergegas pulang. Jam yang melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul 9 malam, namun jalan gang tempat tinggalnya masih ramai oleh beberapa kelompok orang. Furqon mempercepat langkahnya. Tak sabar ia ingin segera sampai di rumah dan memberi kabar gembira pada istrinya dan kedua anaknya.

Rahasia Kecil Kita

Sosok itu melambai-lambaikan tangannya ke arah simpatisan. Galih yang kebetulan lewat dalam perjalanan ke rumah sakit, hanya memandang dari tepi lapangan. Dia adalah Budi, sahabat Galih semasa kuliah Keperawatan dulu.

Kisah Seorang Ibu

Prolog Sesosok berpakaian putih menyembul dari balik pintu. Sudah pukul 6 pagi, saatnya suster memeriksa tanda-tanda vital pasien. Seorang ibu yang terbaring di sudut bangsal berisi 8 pasien itu, menunggu giliran untuk diperiksa. “Permisi, Bu Anik. Saya periksa dulu tekanan Ibu ya” ucap suster kepada ibu itu, kemudian memasangkan alat pengukur tekanan darah di lengannya. … Continue reading »