Tidak Sulit Sembuh dari TB

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini mengenai saluran pernapasan atau organ lain dan sangat menular. Seseorang bisa terkena TB bila ia tertular dari orang lain. Cara penularannya biasanya dari percikan liur saat penderita TB batuk atau bersin. Tanda dan gejalanya antara lain batuk lama (sekitar lebih dari 2 minggu), adanya darah pada dahak, keringat dingin saat malam hari dan kurang nafsu makan. Biasanya diperlukan juga pemeriksaan sinar X untuk memastikan adanya penyakit TB.

Mudahnya penularan penyakit TB, menyebabkan angka kasusnya masih sangat tinggi di muka bumi ini. Saat membaca tulisan di situs VOA Indonesia tanggal 24 Oktober 2012, yang berjudul WHO: Jutaan Orang di Dunia Masih Menderita Tuberkulosis, sebenarnya aku tidak terlalu terkejut. Artikel itu menuliskan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penderita penyakit TB berhasil dikurangi, namun tidak tersebar secara global. Peningkatan kasus-kasus baru TB di tahun 2011 turun lebih dari dua persen dibanding tahun 2010. Meskipun dikatakan jumlah penderita TB berhasil dikurangi dan kasus baru juga berhasil ditekan, namun tetap saja penderita TB di seluruh dunia masih jutaan jumlahnya, dengan prosentase terbesar ada di India, Tiongkok dan Afrika.

Di Indonesia juga banyak terdapat penderita TB. Sudah sejak lama pemerintah Indonesia menjadikan TB ini sebagai target untuk diberantas. Penyuluhan tentang TB kerap dilakukan oleh berbagai pihak, misalnya puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dari pemerintah. Aku melihat kesibukan rekan kerjaku di puskesmas yang bertugas di bagian program TB. Selain puskesmas, iklan layanan masyarakat mengenai penyakit TB juga ditayangkan di televisi, dengan harapan masyarakat semakin sadar akan penyakit menular ini. Bantuan dari media lain seperti koran dan majalah, juga sangat berperan. Banyak poster ditempelkan di tempat-tempat strategis agar bisa terbaca oleh masyarakat.

Gencarnya pemberitahuan tentang penyakit TB, ternyata masih kurang menyentuh seluruh elemen masyarakat. Ada sebuah pengalaman yang kudapatkan saat aku masih berstatus mahasiswa Akademi Keperawatan dulu. Pada mata kuliah Kesehatan Masyarakat, aku dan teman-teman dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok bertanggung jawab untuk membina wilayah tertentu, misalnya setiap 1 atau 2 RT di salah satu kelurahan di kotaku. Kebetulan di daerah binaan kelompokku ada sebuah keluarga dengan penderita TB. Aku kebagian membina keluarga itu.

Saat pengkajian, aku menemukan fakta yang mendukung bertambahnya penderita TB dalam keluarga itu. Rumah keluarga itu memiliki pencahaan yang kurang. Kepala keluarga adalah penderita TB dan sudah pernah menjalani pengobatan untuk TB, namun baru beberapa bulan, ia tidak datang lagi ke puskesmas. Padahal pengobatan untuk TB harus dijalani setidaknya selama 6 bulan. Bila penderita berhenti di tengah jalan, maka ia harus mengulangi serial pengobatan itu lagi dari awal agar bisa sembuh total. Ternyata ada mitos yang berkembang dalam keluarga itu, yang mengatakan bahwa penyakit TB yang diderita keluarga itu adalah karena kutukan/guna-guna.

Dari apa yang kutemukan selama ini, aku menyimpulkan beberapa penyebab tetap tingginya angka penderita TB, antara lain karena mitos/salah kaprah, kurangnya pengetahuan tentang TB, rasa malas, kurangnya dukungan dari keluarga.

Mitos/salah kaprah

Seperti halnya keluarga binaanku yang kusebutkan di atas, pengobatannya tidak lagi dilanjutkan adalah karena adanya mitos yang beredar dalam keluarga itu. Mereka yakin bahwa TB adalah penyakit akibat kutukan atau guna-guna, karena selain bapak itu yang menderita TB, ternyata orang tuanya juga. Setidaknya akan ada beberapa generasi dalam keluarga mereka yang akan terkena penyakit TB dan akan berhenti setelah jumlah tertentu yang terkena. Aku sangat menyayangkan hal ini. Urusan klenik yang masih sangat kental di negara kita, menjadi salah satu penyebab tertundanya seseorang dari kesembuhan akan TB. Padahal sangat jelas bahwa bapak itu tertular dari orang tuanya karena mereka tinggal serumah.

Contoh lain dari kesalahpahaman tentang TB adalah banyak yang mengira bahwa TB adalah penyakit keturunan. Misalnya sang ibu mendertita TB, maka bila anaknya terkena TB adalah suatu kewajaran menurut mereka. Ada lagi kesalahpahaman yang lain yaitu banyak yang mengira bahwa TB tidak dapat disembuhkan, sehingga penderita cenderung pasrah saja.

Kurang pengetahuan tentang TB

Meskipun informasi tentang TB sudah begitu luas dan melalui berbagai media, tetap saja ada yang tidak terpapar informasi. Misalnya warga yang dinggal di daerah pinggiran atau pelosok. Warga jadinya tidak mengetahui apa sebenarnya penyakit mereka dan tidak mampu mengenali gejalanya. Mereka juga tidak menyadari bahaya dari penyakit mereka bial tidak diobati.

Rasa malas

Masa pengobatan yang sangat panjang, tak ayal menjadi salah satu penyebab penderita drop out. Kira-kira setiap seminggu sekali penderita harus pergi ke puskesmas untuk mengambil obat. Lalu obat itu diminum setiap hari. Harus selalu begitu selama berbulan-bulan. Belum lagi bila fasilitas kesehatan yang ada letaknya jauh dari rumah mereka, serta rasa obat TB yang sering membuat mual, kedua hal ini kerap membuat pasien berhenti berobat TB.

Kurangnya dukungan keluarga

Keluarga sangat berperan dalam mengawasi keteraturan seorang penderita TB dalam meminum obat. Bila kemudian tidak ada anggota keluarga yang peduli, maka tidak ada yang memotivasi pasien,

Menurutku sebenarnya tidaklah sulit bagi penderita TB untuk sembuh. Hanya dibutuhkan kesediaan dari berbagai pihak. Langkah langkah yang bisa ditempuh antara lain:

1. Tiada jera mengadakan penyuluhan kesehatan mengenai TB. Hal ini bermanfaat juga untuk menghindari kesalahpahaman tentang TB. Sehingga bagi warga yang belum tahu menjadi tahu dan untuk menyegarkan kembali ingatan warga yang sudah pernah mendapat informasi tentang TB. Bila seseorang menyadari apa yang dideritanya, maka akan tumbuh semangat dalam dirinya untuk berobat dan sembuh.

2. Memastikan ketersediaan obat TB di lapangan sangat penting, agar penderita TB tidak terjeda minum obatnya. Masalah yang menjadi PR adalah bagaimana caranya agar pasien tetap bisa mendapatkan lanjutan pengobatannya meskipun saat puskesmas libur, atau saat penderita terlalu sibuk berladang.

9c54eadcb621a1a5b5339d93a86d30e3_petugas-puskesmas-dengan-pasien

3. Memanfaatkan peran serta masyarakat sebagai pengawas sekaligus pendukung bagi penderita TB. Seperti kader, tokoh masyarakat, dll.

Dengan ketiga hal di atas, tidaklah sulit untuk mencapai kesembuhan bagi penderita TB. Meskipun menurut WHO, jutaan orang di dunia masih menderita tuberkulosis, namun ada juga penderita yang sembuh. Aku yakin angka kesembuhan dari TB akan semakin meningkat dan jumlah kasus TB baru akan semakin menurun.

About these ads

86 thoughts on “Tidak Sulit Sembuh dari TB

  1. postingan yang baik dan bermanfaat
    aku dan blue suka
    makasih tuk berbagi y
    salam hangat dari bluethunderheart
    salam dari aku
    apa kabar sahabat

  2. Daerahku juga masih percaya sama mitos kayak diatas, kak.
    Diguna2.

    Kemarin ada tetangga yang terkena TB, tidak dibawa ke puskes. Malah dijorke. Selain malas, anggapan keluarga tersebut tuh karena mahalnya biaya untuk pengobatan.
    Kalau penyakit menular seperti ini koq ya ngeri. . .

    Semoga kita semua tetap diberi kesehatan. :)

    • Kalau ada yang bilan pengobatan TB itu mahal, salah banget. Karena pemerintah nyediain secara GRATIS kok di puskesmas. Cuma, yang sering jadi masalah adalah ongkos transportasinya yang lumayan berat bagi sebagian orang :(

  3. Mb Akin, di Cianjur ada sebuah dusun yg aku lihat penduduknya banyak yg TB. Kalau keseringan dekat2 mereka, kira2 aku bisa tertular gak ya?

    • Kalau terlalu dekat mungkin bisa tertular, Mbak. Misalnya saat ngobrol, trus ada muncratan kecil dari mulutnya yang terhirup kita. Kalau ngobrol, usahakan jangan berhadapan langsung, agak serong dikit :)
      Hindari orang yang lagi batuk. Kalo memang TB-nya aktif, sebaiknya penderita menggunakan masker…

  4. Pingback: Tidak Sulit Sembuh dari TB « Kontes Ngeblog VOA

  5. teman sebayaku dulu juga pernah kena TB, alhamdulillah dengan pengobatan yang panjang di puskesmas sekarang dah sembuh malahan lebih gemuk daripada saya

  6. Tanteku dulu kena TB, sayangnya sekarang sudah meninggal dunia
    Bukan karena TBnya sih, karena beliiau sebenernya orang yang konsisten berobat
    cuma memang takdir yang akhirnya mengharuskan berpulang

  7. kalo secara lab, saya pernah mendengar bahwa bakteri TB itu sudah termutasi mbak, jadi skrng udah banyak jenisnya, dan juga ada yg sangat resisten

    jadi kalo kena gejala TB mending langsung periksa aja, sapa tahu dapet MO yang kuat dan resisten ^^

    • Bener banget tuh. Si BTA itu sudah semakin cerdas gara2 banyak yang gak teratur minum obatnya. Ujung2nya mesti disuntik secara rutin deh. Beberapa hari yang lalu aku dengar ada seorang pasien TB di cakupan wilayah puskesmasku sampai meninggal :(

  8. Masyarakat kita terbiasa dengan klenik dan baru mulai melek dengan penjelasan medis. Setidaknya masing-masing dari kita mulai menyebarkan ke lingkungan sekitar tentang pendekatan medis..

  9. semoga dengan lebih seringnya artikel yang memuat informasi dengan TB juga bisa memberikan pemahaman bagi masyarakat yang doyan berselanjar di dunia maya ya…

    salam kenal sobat..

  10. betul, kalau makan obat teratur sah pola hidup diperbaiki insyaAllah sembuh.
    Saya pernah punya karyawan yg mengidap TB, kita bantu pengobatan bahkan sempat kita istirahatkan dia selama masa penyembuhan sekitar 6 bulan dan tetap digaji, semata-mata agar dia fokus dan mau sembuh. Tapi ternyata rasa malas minum obat dan gaya hidup membuatnya kembali sakit dan sakit lagi.

  11. Pembahasannya mantap kaka Akin, lengkap dengan pengalaman sendiri pula. Sy sempat menyasar topik ini utk ikut lombanya VOA tapi masih mikir2 dan mengumpulkan bahan eeh kaka Akin sudah buat, mantap sekali pula :)

    Mudah2an ada sisi lain yang bisa saya tulis dan sempat menuliskannya. Yg serem itu kalo kuman TB sudah bermigrasi ke organ lain. Saudari ipar saya misalnya kena TB usus, jadi selain di paru2 ada juga di ususnya. Sy pernah juga dengar ada yang kena TB payudara. Utk orang2 ini penanganannya sempat salah krn awalnya mereka bukan divonis TB jadi bisa salah penanganan. kao dokternya cermat ya bagus bisa segera diatasi tapi kalo tidak … alamak kasihan. Ipar saya tadinya divonis tumor kandungan karena perutnya membesar. Kemudian dioperasi kandungannya ternyata tak ditemukan apa2. Untung salah satu dokternya pernah mendapatkan kasus langka TB usus, barulah dibedah di bagian lain di perutnya. Jadi di perutnya ada 2 bekas sayatan.

  12. Pengobatan TBC memakan waktu lebih lama dibandingkan mengobati infeksi bakteri jenis lain. Jika terinfeksi TBC, penderita harus minum antibiotik setidaknya selama enam sampai sembilan bulan. Pengobatan penyakit tbc yang tepat dan lamanya pengobatan tergantung pada usia, kesehatan secara keseluruhan, resistensi obat, jenis tbc (laten atau aktif) dan lokasinya dalam tubuh.

  13. MItos TB ini mgk setipe dengan mitos ttg panyakit lepra, yg diangap penyakit menular dan tdk bisa sembuh. Saya masih ingt banget waktu kecil ada yg kena lepra kemudian di asingkan…

  14. Memang dulu begitu kata orang tua jika ada seseorang menderita TBC dan sudah berobat ke dokter tapi belum ada penyembuhan total,maka arahnya ke terkena guna-guna.Bagaimana mungkin terjadi ? Mungkin itulah kurangya kepercayaan kita karena sakitnya yang diderita sangat lama.

  15. ini penting banget mbak infonya, karena banyak orang yang masih minim tentang TB.. dan memang kebanyakan mereka malas dan kurang konsisten dengan pengobatan yang lama.. mungkin jenuh juga setiap hari harus minum obat..

  16. Dulu penderita TB banyak sekali dan mitos kalau TB itu penyakit turunan juga nyata adanya.
    Padahal itu cuma karena pola hidup.
    Kalau saya nggak salah mengingat kata2 guru saya, knapa TB kok sering diidap oleh anak dari orang tua penderita TB, salah satunya adalah kondisi fisik dan anatomis anak, yg memang kadang membawa sifat bawaan dari ortunya
    Jadi wajar saja kalau anak ikutan mengidap TB, apalagi jika pola hidupnya juga nggak jauh beda ama ortunya.
    Oleh krn itu, salah satu cara melawan penyakit itu adalah meninggalkan kebiasaan kurang baik dari ortunya, khususnya bidang kesehatan.
    Semoga saya nggak salah ingat

    • karenanya pasien mesti diberi penjelasan tentang TB secara detail. Misalnya diberi penjelasan tentang bagaimana bersikap saat di tempat umum, saat berbicara dengan orang, saat batuk, dll :)

  17. Itu lah ciri khas negara timur, selalu mengait-ngaitkan sesuatu dengan aroma klenik. Bagaimana pun, hal tersebut dapat dimaklumi karena minimnya informasi yang mereka terima, contohnya penyakit TB ini. Syukurlah ada artikel ini. Sehingga mitos yang melekat dengan TB bisa diserap oleh khalayak ramai ;)
    salam kenal ya

  18. pernah ada cerita yg beredar kak, ada seorang penderita TB yang sedang dlm masa pengobatan.. di tengah pengobatan, ada tukang sayur bilang ke dia, “bu gak bagus minum obat terus, nanti kenapa2 loh..”

    eh dia stop lah…

    bayangkan dia lebih “denger” tukang sayur drpd dokter & paramedis.. *gubrak*

    mgkn PDKT nya harus maksimal ke masyarakat jg ya Kak… tugasnya sungguh berat, sekaligus mulia… semangaaaat Kakakkk… :-D

  19. Pingback: Kontes Akbar Tinggal Empat Hari Lagi! « Langkah Catatanku

  20. Pengetahuan tantang TB memang harus selalu didengungkan bunda.. apalagi masyarakat yg hidup didaerah terpencil.. Mitos & kurang ilmu pengetahuan ttg TB harus segera dimusnahkan, biar rakyat kita hidup sehat & nyaman :)

    Terima kasih bunda atas ilmunya :)

  21. TB ini mudah sekali menular ya. Makanya kita suka cemas kalau anak sudah batuk berulangkali, apalagi kalau saling tular-menular dari teman2 sekolah yg batpil…. Semoga tidak kena sakit ini deh.

  22. kalau ada kemauan serta niat yang kuat untuk sembuh, maka TBC bisa segera disembuhkan,
    yang jadi soal adalah kalau niat untuk sembuh ternyata mudah rapuh… sehingga semakin merapuhkan tubuh yang tergerus oleh penyakit TBC :-)

  23. Halo, salam kenal ya, 2 bln yg lalu tiba2 saya batuk disertai dahak darah, sbelumnya.kira2 1 tahun trakhir tdk pernah batuk, langsung saya cek ( panik ) foto ternyata ada flek ( TBC katanya ) diberi obat skrng sdh masuk bln ke 3, dan dr hari saat batuk itu, sampai skrng tdk pernah batuk lg, ( aneh jg tuh batuk darah dtng tiba2 dan hny 1x) memang dr dulu badan saya sudah kurus, ya mudah2an sembuh dr TBC ini badan menjadi gemuk, ada hikmah dibalik musibah..

  24. Mau bertanya apakah lingkungan yg dingin atau lembab bisa mempengaruhi kesembuhan? Saya sudah rutin makan obat selama 2 bulan untuk tahap pertama, hasil cek dahak masih positif, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa dalam masa pengobatan merasakan di paru2 terasa dingin seperti ada es di paru2, dan juga seperti ditusuk2, nafas menjadi sesak dan jantung sering tiba2 berdebar2. Mohon penjelasannya, terima kasih

    • Thomas , kondisimu seperti temanku , uda minum obat 2 bulan cek sputum maseh positif trus skr km gmn , bole minta no hp ato pin bb biar bisa saling sharing

  25. tahun 2003 aku adalah penderita TB paru, setelah berobat rutin selama 9 bln alhamdulillah sembuh total, kunci nya jgn males minum obat dan semangat, berkeyakinan bahwa kita bisa sembuh

  26. ASS…. saya suadah batuk 2 bln.. kmarin tanggal 20/09/2013 saya di diagnosa TBC..
    hasil pemeriksaan BTA NEGATIF akan tetapi LED saya lebih tinggi..

    2 dokter mendiagnosa saya bronkitis..
    skarang saya sudah menjalan.i terapi..

    tp saya kurang yakin dengan keputusan dokter.. walaupun gejala2 TB sudah ada

  27. wah mengerikan ya… padahal aq dh berobat 40 hari…, terus brhenti karna tdak punya biaya ,dua ratus dua puluh lima rbu untuk 20 hari.. kata d0kter gk ada 0bat yg gratis dari pemerinth.., sudah 2 bulan ini aku gk minum 0bat spertinya sudah menyebar dipunggung dan d kepalaku terasa pusing tiap hari.. dan dh terasa nyeri di jantung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s