Ami menyibak tirai merah di jendela kamarnya. Sinar mentari pagi menerpa wajah Ami. Ramai suara anak-anak berseragam yang lewat di depan rumahnya menarik perhatiannya. Merah-putih, biru-putih, abu-abu-putih, kesemuanya menerbitkan rasa iri di hatinya. Sudah hampir 3 tahun ia menjalani masa SMA-nya di rumah, sesuai keinginan orang tuanya. “Dunia luar dangat berbahaya,” ucap ayah Ami pada suatu hari.
Sebenarnya Ami tidak mengeluhkan pilihan home schooling yang harus ia jalani, namun ia dilanda kebosanan saat Ardi pindah.
“Nanti siapa yang akan menemaniku belajar, Ar?” Ami sesenggukan di depan Ardi, saat pemuda itu menyampaikan kabar kepindahannya.
“Kan ada teacher yang selalu menemani, Ami.” ucap Ardi lembut.
Ami mengusap kedua matanya yang basah. Ardi adalah satu-satunya temannya yang juga bersekolah dengan cara home schooling. Hanya Ardi yang diijinkan orang tuanya untuk berteman dengannya, karena mereka juga kenal dengan orang tua Ardi. Ardi akan pindah dan ini membuat Ami sangat sedih. Dengan berat hati Ami melambai ke arah sahabat terbaiknya, bukan, satu-satunya sahabat yang ia miliki.
Perlahan Ami beringsut ke dapur. Ia hanya mendapati ibunya yang ada di sana. Rupanya ayahnya sudah berangkat ke kantor. Ami menyembunyikan luka hatinya. Ia tak ingin membuat orang tuanya kecewa. Ibunya telah mengajarinya banyak hal sejak ia masih kecil. Orang tuanya banyak belajar dari pengalaman orang lain. Hal-hal yang buruk dijadikan pelajaran, sedangkan hal-hal yang baik dijadikan teladan. Kedua orang tua Ami selalu mengajarinya agar menjadi cerdas dan ceria dengan cerita teladan.
“Hari ini kita masak apa, Bu?” ucap Ami usai mengecup ringan pipi ibunya.
“Ibu sudah lihat-lihat resep baru,” ibu Ami mengacungkan sebuah majalah kuliner, “kita akan membuat makaroni panggang dengan bahan-bahan yang ada di rumah kita.”
“Asyik!” Ami bersorak. Sudah lama ia ingin belajar membuat makaroni panggang.
Berada di dapur bersama ibunya, menjadi terapi duka bagi Ami. Ia tidak ingin terlarut dalam kesedihan akan kepergian Ardi. Belajar memasak, itulah kegiatan yang dipilihnya karena ia juga suka makan. Sudah berpuluh resep yang Ami dan ibunya coba untuk membuatnya. Lambat laun Ami terlupa bahwa ia telah kehilangan teman.
Beberapa jam kemudian aroma makaroni panggang memenuhi dapur dan seisi rumah Ami. Ia mengambil beberapa sendok makaroni panggang dari loyang pinggan tahan panas, lalu membawanya ke kamar. Ia berniat berselancar di dunia maya sambil mengemil makaroni panggang.
Ami tertegun memandang layar monitornya. Di antara beratus permintaan pertemanan di akun Facebook-nya, terdapat nama Ardi di tempat teratas. Segera saja Ami mengkonfirmasi permintaan dari Ardi itu. Hatinya terlonjak. Setelah lebih dari setahun tiada kabar dari Ardi, akhirnya ia kembali bisa terhubung dengannya. Terbersit kecewa di hati Ami karena ternyata Ardi tidak sedang online. Ami memperhatikan profil Ardi.
“Wow! Paris!” pekik Ami. Ia tak menyangka sahabatnya itu tinggal di Paris, salah satu kota besar di Eropa. Kota yang juga menjadi tempat impiannya untuk berlibur. Foto profil Ardi menunjukkan latar menara Eiffel. Senyum lebarnya membuat Ami kembali merindukan sahabatnya itu.
*****
Ami memperbaiki letak tripodnya. Meski ramai orang lalu lalang di taman sekitar lokasi menara Eiffel, namun ia tak mau merepotkan orang lain untuk membantunya memotret dirinya. Ami mengintip dari celah kameranya dan menentukan posisi yang pas untuk tempatnya berdiri, agar keseluruhan figur menara Eiffel bisa termuat dalam potretnya. Udara yang dingin membuat Ami menarik rapat jaketnya dan mengencangkan ikatan syal di lehernya. Dirapikannya topi rajut putih yang ia bawa dari Indonesia. Tak lupa ia mengenakan sebuah kaca mata hitam yang dibelinya di Paris Flea Market.
Ami bersyukur saat kedua orang tuanya akhirnya mengijinkannya untuk ber-backpacker ria ke Paris, sebagai hadiah kelulusan. Sudah beberapa hari Ami berada di ibu kota Perancis ini. Berpuluh pesan sudah ia kirimkan untuk Ardi, melalui kotak pesan Facebook. Ami menanti-nanti balasan dari Ardi, sejak ia masih berada di Indonesia, hingga beberapa hari ia ada di Paris. Tidak ada balasan barang sebuah pun. Ia berharap bisa menjadi lucky backpaker karena bisa bertemu Ardi di Paris. Namun sayang, sepertinya ia harus tetap sendirian saja dalam menjelajahi kota romantis ini.
Postingan ini diikutkan pada Kuis Duta Buku IIDN.






haris romantis
/ October 14, 2012wah semua judul bukunya jadi cerita ya
keren
kakaakin
/ October 14, 2012Entah, semoga pengaitan seperti ini yang diminta
yisha
/ October 14, 2012moga menang, kakaaaaaaaaa………..
kakaakin
/ October 15, 2012Makasih, Yishaaa
Erwin
/ October 14, 2012pengen baca Home Schooling itu.
semoga menang ya…
kakaakin
/ October 15, 2012Sama, penasaran dengan isi buku itu
Insan Robbani
/ October 14, 2012wah jagoin menang deh…
kakaakin
/ October 15, 2012Sama. Saya juga ngejagoin ini…
Hehe…
tunsa
/ October 14, 2012asiikkk kuis
kakaakin
/ October 15, 2012Yukk ikutan juga
imamboll
/ October 14, 2012semoga menang di kuisnya mbak nunu kak akin ^^
kakaakin
/ October 15, 2012Aamiin…
Ely Meyer
/ October 14, 2012ikut mengamini .. semoga menang ya mbak
kakaakin
/ October 15, 2012Aamiin…
Makasih ya…
prih
/ October 14, 2012keren, merangkum 3 tema buku dalam satu naskah yang mengalir lancar. Selamat terus berkarya, Salam
kakaakin
/ October 15, 2012Hayuk, ikutan juga, Bu
lozz akbar
/ October 14, 2012semoga menang mbak :p
kakaakin
/ October 15, 2012Mbak?
*ngikik
Gula Aren
/ October 14, 2012Wah keren Mbak Akin..Dari judul2 buku bisa merangkai cerita utuh,,Tak ada kesan dipaksakan sama sekali. Angkat topi nih aku…:)
kakaakin
/ October 15, 2012Hehe… Semoga tulisan saya sesuai dengan persyaratan kuis
intan rawit
/ October 15, 2012lagi ngontes ya kakak,,,xixi..sukses yah!
aku jg lg mikir2 apakah anakku akan dihomeschoolingkan?
hmmm…
kakaakin
/ October 15, 2012Jangan lupa, baca buku yang pertama itu ya… Hehe..
Mel Ara
/ October 15, 2012Good luck ya mbak, semoga kita menang lg hehe
Lidya
/ October 15, 2012jangan lupa aja aku kesana ya kakakin:)
narno3
/ October 15, 2012banyak yang ngedukung kakaakin, semoga berhasil
Idah Ceris
/ October 15, 2012waduuh, benar2 doyan nulis. . .
pinter beuuud si, kaaak.;)
Ibu-ibu doyan nulis. .
wah, aku bisa ikut gak ya? hihihihi
Orin
/ October 18, 2012Yahhh…ga ketemu sm Ardi ya