Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Hampir setiap jam dalam sehari, pamanku yang tinggal di rumahku selalu menyetel saluran televisi lokal yang khusus menayangkan berita. Aku yang jarang menonton televisi, jadinya sekali dua kali ada juga mataku melirik ke arah tayangan televisi. Banyak berita yang terdengar, selain tentang kisruh masalah KPK, tawuran juga menjadi topik utama. Banyak orang yang diwawancara mengenai cara mencegah dan menanggulangi tawuran yang sedang marak terjadi hingga menimbulkan korban jiwa.

Andai aku yang diwawancara mengenai tawuran, pertama-tama tentu aku akan gugup terlebih dahulu karena demam panggung. Lalu aku akan mengeluarkan komentarku mengenai masalah yang ditanyakan, meskipun sebenarnya sudah banyak orang yang memiliki pendapat yang kurang lebih sama.

Aku akan menjawab pertanyaan mengenai bagaimana cara mencegah dan menanggulangi tawuran, seperti berikut ini.

Cara mencegah tawuran:

Lebih cepat, lebih baik. Itu adalah jargon yang sering diucapkan orang. Hal-hal yang baik tentu harus dimulai sejak dini, demikian juga tentang pencegahan terhadap tawuran. Tawuran bisa terjadi di mana saja, di kota maupun di desa. Antar anak sekolah/remaja, maupun orang-orang dewasa. Jadi, yang diperlukan adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri seorang anak, yang nantinya dia juga akan menjadi insan dewasa. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, maka ia juga akan terbiasa berkasih sayang terhadap orang lain. Jika anak dibesarkan dengan nilai-nilai negatif, dikhawatirkan inilah yang akan terus dibawanya hingga ia besar.

Namun sepertinya memulai pendidikan sejak masa anak-anak, masih agak terlambat, karena sebenarnya pendidikan bisa diberikan sejak anak dalam kandungan. Banyak orang tua yang kurang memahami hal ini. Contohnya saja seorang ibu hamil yang sedang mengidam. Ia meminta perhatian lebih dengan meminta aneka macam makanan, dengan dalih ‘ngidam‘. Padahal bisa saja itu merupakan akal-akalannya saja, supaya mendapatkan perhatian dari suami dan orang di sekitarnya.

Aku pernah mendengar sendiri pengakuan beberapa ibu yang menyatakan bahwa saat ia hamil ia pernah pura-pura ingin ini itu (dengan alasan bawaan orok) dan membuat suami sibuk memenuhi permintaannya. Menurutku, ini merupakan didikan awal pada anak dengan cara yang tidak baik. Anak sudah diajari ibunya untuk berbohong dan menipu orang lain. Kemudian sang ibu merasa puas karena telah berhasil mengelabui semua orang. Tentu saja tidak semua ibu hamil seperti ini.

Ada lagi ibu hamil yang suka mencicipi buah di supermarket, tanpa membayarnya. Perbuatan itu sama dengan pencurian. Sang ibu memberi makan anak dalam kandungannya dengan hasil curian. Tidak mengherankan bila kemudian anak yang dilahirkan memiliki sifat yang negatif. Memang, Allah jualah yang menentukan bagaimana kondisi anak itu nantinya. Namun aku beranggapan bahwa segala sesuatu itu harus dimulai dengan cara yang baik, agar dapat memperoleh hasil yang baik pula.

Cara menanggulangi tawuran:

Bila tawuran sudah terlanjur terjadi, maka yang dapat dilakukan adalah pemberian sanksi yang sesuai. Sanksi/hukuman harus diberikan, agar para pelaku menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah hal yang benar. Siapa yang menabur angin, dia yang akan menuai badai.

Hanya saja, bentuk hukuman bisa dimodifikasi. Misalnya pada anak sekolah, pihak sekolah bisa memberikan hukuman yang bermakna, seperti menyapu halaman, mengepel lantai dan membersihkan toilet selama 1 minggu. Selain menjadi hukuman, kegiatan itu juga bisa menjadi upaya untuk menjaga kebersihan sekolah. Siapa tahu, sekolah itu kemudian bisa memenangkan lomba kebersihan sekolah.

Lalu jika pelaku tawuran adalah orang-orang dewasa, hukuman yang diberikan bisa berupa bersih-bersih kampung, seperti membersihkan selokan, memangkas pohon-pohon yang terlalu lebat, atau melakukan kegiatan lain seperti yang biasa dilakukan warga saat sedang gotong royong atau Jum’at bersih. Hal ini bermanfaat sekali, selain membuat kampung menjadi rapi dan bersih, juga membantu mengurangi kesibukan polisi bila harus menahan mereka di sel. Lalu yang menjadi pengawas dalam pelaksanaan hukuman ini bisa dari ketua RT, pihak kelurahan, atau dari kepolisian.

Demikianlah uraianku mengenai cara mencegah dan menanggulangi tawuran. Namun aku yakin, tak ada saluran televisi manapun yang mau mewawancaraiku. :D

___________________________________________

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran.

About these ads

33 thoughts on “Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

  1. baru tahu mbak, ternyata ada wanita hamil yg ngidamnya akal-akalan. ada-ada saja. :D
    meskipun nggak ada yg mewawancarai, semoga menang dikontesnya pak Dhe mbak….

  2. Saya pernah punya pendapat kalo yang ngidamnya aneh2 itu sedang manja saja, butuh perhatian lebih, merasa sedang hamil, harus diperhatikan jadi berhak merengek seperti itu. Tapi kalo bohong … waaah baru tahu saya Kakaakin :D

  3. wah miris liat banyaknya dampak negatif akibat terjadinya tawuran ini apalagi sampai kehilangan nyawa. Semoga tawuran bisa berhenti.

    oh ya,
    saya ngadain kontes menulis berhadiah kecil2an nih, infonya bisa dilihat diblog saya.
    Ditunggu partisipasinya ya. :)

    thanks
    carameninggikanbadancepatalami.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s