Inilah Jalanku

Saat lulus dari Akademi Keperawatan (D3), aku merasa gembira sekaligus penasaran akan dunia kerja yang akan kuhadapi. Surat lamaran pun kutulis untuk kukirimkan ke beberapa rumah sakit. Bahkan tawaran menjadi perawat di luar negeri juga sempat kulirik, namun tidak jadi kuikuti karena yakin takkan mendapat ijin orang tua. Tiba-tiba aku dihubungi kampusku dan aku ‘ditarik’ untuk bekerja di kampus. Kupikir dari pada lama menanti jawaban atas surat lamaranku, lebih baik kuterima saja tawaran itu. Bukankah itu berarti bahwa ada sesuatu yang ‘lebih’ dari diri kita, sehingga pihak kampus ‘meminang’ kita untuk bekerja di sana?  Memang saat itu aku sedang memiliki kelebihan, yaitu kelebihan berat badan. :mrgreen:

Tak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya dulu aku merasa sangat terbebani saat bekerja di kampus. Tugas seorang calon dosen ternyata (menurutku) tidak mudah. Selain mengurus berbagai administrasi yang berkaitan dengan kemahasiswaan, aku juga dipersiapkan untuk menjadi dosen sesungguhnya, tentu saja bila aku nantinya memiliki jenjang pendidikan yang sesuai, yaitu minimal S1. Saat menghadapi mahasiswa, aku dituntut untuk pandai. Setidaknya memiliki pengetahuan yang setingkat di atas mereka. Inilah yang menurutku ‘berat’.

Aku harus banyak membaca dan melek informasi. Hanya dalam hitungan tahun, ilmu (terutama ilmu keperawatan) semakin berkembang. Apa yang dulunya kudapatkan saat kuliah, bahkan ada yang sudah ketinggalan dan tidak terpakai lagi. Saat mahasiswa bertanya tentang suatu ilmu padaku, tak jarang aku gelagapan. Ini sempat membuatku tertekan, yang berimbas pada menurunnya rasa percaya diriku. Kampus yang semestinya menyenangkan karena dipenuhi oleh mahasiswa yang bersemangat untuk kuliah, menjadi tempat yang (rasanya) ingin kuhindari saja. Aku bertanya-tanya, apakah sebenarnya aku pantas berada di kampus? Lalu pada suatu kesempatan aku menceritakan hal ini pada salah seorang teman kuliahku, Novi.

“Berarti Mbak harus belajar lebih banyak lagi. Mbak kan sudah berada (bekerja) di kampus, jadi Mbak harus berusaha sebaik-baiknya.”

Kurang lebih seperti itulah nasihat dari Novi. Meskipun sebenarnya kalimat itu sudah sempat terpikir olehku sebelumnya, namun ternyata lebih ‘nendang‘ lagi saat disampaikan oleh temanku itu. Aku jadi terhenyak dan menyadari bahwa ternyata selama ini aku belum melakukan apa-apa untuk kemajuanku. Aku hanya jalan di tempat dan meratapi ketertinggalanku.

Akhirnya aku tiba pada suatu kesimpulan bahwa sebenarnya aku tidaklah bodoh. Aku hanya telah bertingkah masa bodoh dan membiarkan rasa malas menguasai diriku. Lagi pula dulu pihak kampus memilihku tentu karena telah melihat potensi yang ada dalam diriku, sehingga mereka menganggap aku pantas untuk dipersiapkan menjadi pengajar nantinya.

Tidak ada pilihan lain bagiku, selain bangkit dan memperbaiki diri. Perlahan-lahan aku belajar, baik dari buku-buku literatur terbaru, maupun dari para dosen yang baru selesai meningkatkan jenjang pendidikannya. Saat itu penggunaan internet belum segencar sekarang. Aku perlu mengisi kepalaku dengan berbagai pengetahuan kontemporer, sedikit demi sedikit. Aku berharap aku bisa membantu mahasiswa dan tidak lagi merasa terbebani bila ada pertanyaan-pertanyaan sulit.

Namun Allah ternyata memberikan jalan lain lagi untukku. Setelah 4 tahun bergelut di dunia kampus dengan status sebagai pegawai honor, aku kemudian lulus tes CPNS dan penempatanku adalah di puskesmas rawat inap. Mau tidak mau aku harus meninggalkan kampus, meskipun aku sudah mulai merasa nyaman saat berada di sana. Tibalah saatnya aku memulai zero-ku yang baru, menuju hero-ku selanjutnya. :)

_____________________________

Tulisan ini diikutsertakan pada Lovely Little Garden’s First Give Away.

About these ads

30 thoughts on “Inilah Jalanku

  1. Bekerja di tempat yang menjadi panggilan hati setelah sabar menanti kesempatan datang.

    Trimakasih partisipasinya. Tercatat sebagai peserta Lovely Little Garden’s First Give Away.

  2. owh ternyata sekarang udah jd abdi negara ya mba hehe sama kaya istriku gak lama setelah lulus langsung diangkat jd PNS dan ngajar di SD negeri.. semoga sukses selalu mba :)

  3. hidup memang ibarat buku gambar yg masih kosong kak akin, dan yang membawa pena adalah diri kita, mau kita tulis atau kita coret, ya terserah kita

    yang menentukan baik buruk masa depan kita adalah diri kita sendiri ^^

  4. Ada kalanya kita harus beralih dari zona aman dan nyaman menuju zona penuh tantangan, itu pula yang sedang saya hadapi sekarang. Sepuluh tahun menjemput rejeki di sini, ternyata harus berakhir di penghujung bulan ini, Seorang rekan lama ‘meminangku’ untuk bergabung dengannya. Ada suka, mengharapkan masa depan yang lebih cerah, tapi ada pula duka, berpisah dengan rekan-rekan yang sudah bagaikan saudara. Tapi inilah hidup, tak ingin selalu berada di titik zero, sudah saatnya berjuang untuk menjadi hero.
    Semoga sukses di kontes, Kakaakin.

  5. Kaka………………. Apa kabarkah??? Kangennnn…..
    Dan daku masih bertanya apakah sekarang berada di jalan yang tepat? *sarjana pendidikan yang *terpaksa* jadi peneliti bidang komunikasi dan informatika* hehehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s