“Saya sudah 20 tahun menjadi tukang jahit, Mbak.”
Rina mengangguk-angguk. Ia menatap lelaki paruh baya berkepala botak yang sedang berdiri tak jauh darinya itu, sambil mengira-ngira, sejak usia berapa bapak itu mulai menjadi tukang jahit.
“Sudah banyak pengalaman saya bekerja sama dengan kantor-kantor,” sambil mengerjakan sebuah celana kain, bapak itu melanjutkan kalimatnya. “Semuanya tidak jujur!”
“Maksudnya, Pak?” Rina tertarik mendengar ucapan bapak itu.
“Semuanya pakai pelicin.”
“Pelicin?”
“Iya. Kalau kita mau mengambil pekerjaan borongan seragam dinas, kita harus memberi uang kepada beberapa orang.”
Sepintas Rina memperhatikan beberapa potong pakaiannya yang akan dikecilkan oleh anak buah bapak itu. Penjahit ini memang menjadi langganannya untuk mengecilkan pakaian yang kebesaran. Rina lalu kembali melanjutkan pembicaraan dengan bapak itu.
“Kasihan tukang jahitnya ya, Pak. Biaya produksi jadi berkurang, supaya bisa memberi ke orang-orang itu.”
“Mbak, ada 3 tahapan yang harus dilewati. Pertama, kepala dinasnya harus diamplopi sekian persen. Kedua, adalah kepala panitia pengadaan. Lalu ketiga, adalah anak buah panitia pengadaan itu.”
“Oh, banyak banget, Pak,” Rina terbelalak mendengar ucapan bapak itu. “Tetapi… Bukankah sekarang pakai sistem online saat akan lelang proyek?”
Sedikit banyaknya Rina pernah mendengar dari sana sini, tentang cara pengadaan barang atau proyek di kantor pemerintah.
“Halah, semua bisa diakalin. Sistemnya masih sama saja seperti dulu. Lelang bisa diatur, pemenangnya sudah ada.”
Rina terdiam. Ia merasa miris.
“Itu, penjahit Aulia gulung tikar. Mereka terlalu berani memberikan persenan yang besar ke kantor. Dua puluh lima persen, Mbak! Apa yang dipakai untuk kerja jadinya? Akhirnya sekarang mereka bangkrut.”
“Loh, penjahit Aulia itu?” Rina pernah mendapat pakaian yang dijahitkan di penjahit itu.
“Iya, Mbak. Saya dulu pernah mengerjakan proyek pengadaan seragam untuk dinas X sepropinsi. Akhirnya, setelah selesai, mobil saya pun terjual. Tidak ada untungnya sama sekali, malahan saya rugi!”
Rina mengurut dada. Yang diceritakan bapak itu adalah contoh kecil dari segala macam muslihat yang terjadi di negeri ini. Tayangan-tayangan yang marak di televisi, mengenai berbagai proyek besar yang melibatkan anggota DPR, adalah contoh besarnya.
Anak buah bapak itu kemudian menyerahkan pakaian Rina yang sudah selesai dikecilkan. Setelah membayar sejumlah yang dipinta bapak itu, Rina lalu permisi. Rina menatap ke dalam kantung plastik yang berisi sepasang seragam kerjanya yang berwarna beige, untuk ia kenakan pada setiap hari Selasa dan Rabu. Seragam itu biasa disebut waskat. Rina bertanya-tanya dalam hati, mungkinkan riwayat seragamnya itu sama dengan yang diceritakan bapak itu tadi…






Idah Ceris
/ September 26, 2012Aku mau dapat pertamax di sini.
kakaakin
/ September 26, 2012Selamat, Anda dapat pertamax
Idah Ceris
/ September 26, 2012Gak mahal kaaan?
Idah Ceris
/ September 26, 2012Mbak rina atau Mba Ida?
Sepertinya sistem seperti itu memang sudah mendarah daging, mba.
Jangankan baju, pengadaan kaos kaki di MI yang ada di Sesaku saja sana-sini minta pelicin.
yang diuntungkan adalah produk Rapika, kan Rapika terbukti ampuh untuk melicinkan. . .
Semoga sistem yang seperti diatas segera terkubur ya, mba.
kakaakin
/ September 26, 2012hehehe… untung aja aku gak pake rapika… #eh
Rawins
/ September 26, 2012jangankan pns
ibue cit di rumah suka pake pelicin
malah pake pewangi dan pelembut juga
#kabuur…
kakaakin
/ September 26, 2012Hahaha… itu mah boros banget…
Rawins
/ September 26, 2012berarti bukan ibu hemat ya..?
hehe
kakaakin
/ September 26, 2012Pake yang udah jadi satu aja… #iklan
Lidya
/ September 26, 2012bukannya bagus pakai pelicin pakaian kak hahaha ikutan kabur sama mas rawins
kakaakin
/ September 26, 2012Hehehe… meskipun pake pelicin, kalo gak disetrika, gak bakalan rapi, Mbak.
Wong Cilik
/ September 26, 2012miris ya kalau melihat kenyataan seperti itu …
kakaakin
/ September 26, 2012Iya nih, Mas. Parah deh
Yunda Hamasah
/ September 26, 2012Pantes ya kadang pakaian dinas yang sering sampai ke PNS itu tak sesuai ya dengan anggaran yang tertulis, banyak potongannya, hiksss
kakaakin
/ September 26, 2012Hmm… karena anggarannya sudah banyak berkurang, jadinya kualitasnya juga berkurang ya, Mbak…
hilsya
/ September 29, 2012aku reply di sini aja.. secara pernah ngalamin dapet seragam yang ‘aneh’
katanya tangan panjang tapi kok cuma setengah lengan, hihi
atau punya temen, dapet celana panjang tp hanya 7/8..
Dewi Fatma Permadi
/ September 26, 2012Kalo berurusan dengan proyek seperti itu memang harus punya modal kuat ya, Ka. Soalnya seringkali biaya ‘pelicin’ lebih gede dari biaya produksi
Pengusaha kecil bakal diperas hingga kering, deh. Wong perusahaan2 gede di kawasan industri tempatku bekerja aja nyerah dengan segala kondisi birokrasi di negeri kita hingga banyak dari mereka memilih pindah ke negeri jiran
Dikit-dikit minta duit, dan herannya orang2 ini seperti nggak ada malunya lho, Ka..
Miris banget dan malu-maluin banget ya……
kakaakin
/ September 27, 2012Oh iya ya.. saya juga pernah dengar bahwa banyak pengusaha luar yang kabur, gara2 banyak lapisan di pemerintahan yang minta duit.
Semoga gak semua sperti itu ya, Mbak…
Orin
/ September 26, 2012Duh…lagi2 yg dirugikan memang rakyat kecil ya Ka..
kakaakin
/ September 27, 2012Mereka semakin diperas dan diperas…
Ely Meyer
/ September 26, 2012ngenes bacanya mbak
kakaakin
/ September 27, 2012Saya juga miris…
imambolli
/ September 26, 2012susahnya jadi orang baik, udah niat niat buatin baju buat PNS, malah gulung tikar
jadi bingung kalo jadi PNS, takutnya punya bayaran dari hasil korup juga, benar benar medeni
kakaakin
/ September 27, 2012Jangan2 saya ikutan korupsi juga.. Hiiiiii
alamendah
/ September 26, 2012Duh… semua lini telah terjangkiti penyakit ini. Bukan sekedar proyek2 besar, urusan jahit menjahit pun tidak ketinggalan
kakaakin
/ September 27, 2012Hampir di setiap celah sepertinya ada, Mas
prih
/ September 26, 2012Lini jahit seragampun tak luput dari ‘permainan’ persen potongan, trim berbagi permenungan berharga ini. salam
kakaakin
/ September 27, 2012Pada gak takut diperiksa KPK kayaknya
Resep Chinese Food
/ September 27, 2012mending jadi penjahit biasa aja, yg menerima orderan dari orang per orang..
kakaakin
/ September 27, 2012Mungkin kalo bekerja sama dengan swasta, gak segitunya ya, Mbak…
tunsa
/ September 27, 2012Alhamdulillah Rina nggak terlibat, hanya sebagai orang yang dicurhati. hihihi
kakaakin
/ September 27, 2012Tenaaang… Rina aman kok
choirul
/ September 27, 2012beuh ngeri banget ya.. apalagi proyek pembangunan ya…..
kakaakin
/ September 27, 2012Serem kalo ngelihat nominalnya ya…
fadly biluping
/ September 27, 2012Mungkin lain kali seragam PNS jahit sendiri-sendiri aja, tidak usah lagi ada tender-tender… yang mau pakai seragam, silahkan jahit sendiri, kalau tidak mau jahit sendiri “Wani Piro…. biar dibantu jahitin ”
sulunglahitani
/ September 27, 2012pr buat pemerintah dan para pekerja berpakaian dinas
Myra Anastasia
/ September 28, 2012uda kayak mendarah daging ya.. miris bgt liatnya
Pakde Cholik
/ September 28, 2012Sudah umum, semua harus ada pelicin ya.
kasihan rakyat kecil
yang kayapun masih lahap menilep
Salam hangat dari Surabaya
Promo Kartu Member Indomaret Minimarket Waralaba Indonesia
/ October 2, 2012blognya menarik, aplagi kalo gambar2nya diperbanyak, saya yakin pengungjung blog akan bertambah banyak, thanks
Tenang mandiri
/ April 23, 2013Doakan mudah mudahan penjahit Tenang Mandiri Jl.sultan Hasanuddin Samarinda Seberang selalu tenang dan mendapat berkah dalam menghadapi bahtera dunia penjahitan.