Menjaga Harimau

Foto diambil dari sebuah lukisan yang dipajang pada pameran di lobi Hotel Millenium, tahun 2010.

Siapa yang bisa menjaga harimau? Harimau adalah kucing besar yang bisa dijadikan sahabat manusia. Namun tak ada yang menyangkal bahwa harimau juga merupakan binatang buas. Ia sewaktu-waktu bisa saja menyerang orang yang menjadi tuannya. Tak ada yang dapat menjamin bahwa hal itu tidak akan terjadi.

Hal di atas mengingatkanku pada sebuah ungkapan  yang sangat populer, “mulutmu harimaumu”. Mulut adalah alat bicara yang kita miliki. Kemudian disamakan dengan harimau karena apa yang terucap dari mulut, bisa berbalik menyerang kita. Keceplosan, mungkin itulah awal permasalahannya. Kala kita sedang nyaman-nyamannya berbicara, yang ingin diucapkan terus saja keluar dari mulut tanpa melalui penyaringan di otak. Akhirnya, ada yang sakit hati kala mendengar ucapan kita, bahkan masalah bisa berkembang menjadi lebih besar. Inilah yang pernah kualami bertahun-tahun yang lalu.

Ada seorang teman yang baru kukenal selama beberapa bulan, namun menjadi cukup akrab denganku karena kami memiliki minat yang sama. Namanya Bayu (bukan nama sebenarnya). Ia seorang laki-laki yang gaya bicaranya lembut, namun ia tetap lelaki tulen. Setelah selang beberapa waktu aku baru mengetahui bahwa ternyata rumahnya dekat dengan rumah teman SMP-ku, sebut saja namanya Yati. Suatu ketika saat aku berbincang-bincang dengan Yati. Pembicaraan berjalan dengan ceria dan melebar hingga membahas tentang Bayu.

“Bayu itu agak gemulai ya…”

Itulah salah satu kalimat yang diucapkan Yati. Aku tidak masalah dengan ucapan itu, tidak mengiyakan tidak pula menyangkal. Bagiku, Bayu adalah teman yang baik dan menurutku selama ini tidak ada keanehan pada sikapnya.

Beberapa waktu setelah itu aku bertemu dengan Bayu. Usai berhaha-hihi, akupun terucap kalimat yang pernah dilontarkan oleh Yati tentangnya. Aku tak bermaksud apa-apa, karenanya kalimat itu meluncur dengan mudah dari bibirku.

“Yati bilang kamu rada gemulai…”

Duarrr! Aku merasakan seperti itulah gambaran emosi yang tiba-tiba menyeruak dari diri Bayu.

“Memangnya Yati itu siapa, berani-beraninya mengatakan aku seperti itu!”

Bayu marah! Ya, tentu saja ia akan marah bila dikatakan seperti itu. Ya Allah, bodohnya aku. Ingin rasanya kutarik kembali kata-kataku namun apa daya, yang sudah keluar tak bisa ditelan kembali. Memukul mulutku juga tak akan membantu.

Menenangkan Bayu dan meyakinkan dia bahwa mungkin sebenarnya Yati tidak bermaksud menyinggungnya, hanya itu yang dapat kulakukan selain meminta maaf yang sebesar-besarnya atas ucapanku. Aku sangat khawatir bila ia kemudian datang ‘menyerang’ ke kediaman Yati, karena rumah mereka yang berdekatan. Hanya gara-gara mulutku, hampir saja keributan terjadi. Bila memang keributan terjadi, akulah yang paling bersalah dan sudah dapat dipastikan aku akan mendapatkan berbagai macam label. Mungkin aku disebut penghianat teman, bermulut ember, tidak amanah dan entah apa lagi.

Syukurlah Bayu adalah lelaki yang baik. Aku jadi lega. Namun setelah kejadian itu aku merasa kurang nyaman terhadap Bayu. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hatiku. Aku tak pernah lagi menghubunginya, begitu pula dengan Bayu. Namun pernah sesekali kami bertemu, kami bisa bertegur sapa dengan riang. Pun dengan Yati. Aku juga jarang menghubunginya, Namun kami tetap berteman dengan baik dan hampir setiap kali lebaran, aku datang ke rumahnya.

Bila kita melihat ke sekeliling, atau mungkin dari pengalaman kita sendiri, banyak kejadian yang tidak mengenakkan akibat ketidakmampuan menjaga harimau ini. Persahabatan bisa melayang, bahkan tidak menutup kemungkinan ada yang  membawa persoalan tersebut ke meja hijau. Ini adalah salah satu pelajaran berharga bagiku agar aku pandai-pandai dalam menjaga mulutku, harimauku.

Bagaimana dengan harimaumu, Sahabat?

About these ads

31 thoughts on “Menjaga Harimau

  1. Kirain harimau beneran atau harimau jadi2an. Kalau harimau (mahluk halus) sih biasa jaga kampung saya hehe. Kalau soal mulut, memang saya gak pandai menjaganya nih, padahal dampak salahnya luar biasa ya mbak :)

  2. Lihat gambarnya aja saya udah takut Mbak :)

    Semoga kita bisa menjaga lisan kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelumnya saya juga mohon maaf apabila ada komentar saya yang kurang berkenan di hati Mbak Akin.

  3. Kak, bulan kemarin di TRMS Banjarnegara baru ada korban karena harimau. #serius dan sekilas info. :)
    Menjaga lisan itu memang lebih susah ya, kak.
    Ajining diri soko lati. . . ^_*

  4. Yah namanya kita juga manusia biasa mbak Akin, tak luput dari kesalahan. Yang paling penting kita telah menyadari kesalahan tersebut, take it easy..Bayu juga pasti ngerti bahwa Mbak Akin keceplosan…Tidak bermaksud menyakitinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s