Kunjungan Walikota

Kemarin Puskesmas-ku kedatangan rombongan Walikota Samarinda, Syahari Ja’ang. Sebelumnya, tim dari kantor Dinas Kesehatan Kota (DKK) Samarinda terlebih dahulu tiba. Tim DKK melakukan supervisi terhadap tempat kerjaku. Setiap supervisi tak jarang membuatku dan teman-teman merasa berdebar-debar. Kami cenderung merasa seperti, “aduh, apa lagi ya yang salah…?”. Syukur alhamdulillah, kali ini kami mendapatkan pujian, karena kami telah memperbaiki beberapa teguran yang kami dapatkan pada supervisi sebelumnya. :D

Tempat kerjaku adalah Puskesmas ke-6 dan terakhir yang dikunjungi Walikota kemarin. Saat rombongan Walikota tiba, kami-para pegawai- menjadi heboh. Beberapa (termasuk aku) turut dengan walikota untuk melihat-lihat kembali kondisi Puskesmas kami, sementara yang lain berdiri menonton kesibukan yang ada. Pejabat-pejabat lain, termasuk Kepala-kepala Dinas yang turut dalam rombongan walikota, juga ikut berkeliling.

Walikota bercakap-cakap dengan pasien

Syukurlah ruangan pasien sudah dibersihkan semaksimal mungkin. Yang lebih bagusnya lagi, kebetulan kemarin ada pasien yang dirawat inap, jadinya ada yang diajak Pak Walikota untuk bercakap-cakap. Akhir-akhir ini kunjungan di tempat kerjaku menurun. Pemasukan jadi menurun, ini sih pendapat bosku. Kalau pendapat kami para pegawai sih, semakin sedikit pasien artinya masyarakat semakin sehat. Setuju kan?! Hehe… :D

Banyaknya pejabat yang menyertai kunjungan walikota kali ini berkaitan erat dengan pengembangan puskesmas. Dari hasil nguping-ku, beberapa fasilitas akan ditambah, bahkan mungkin bangunan puskesmas yang sudah berdiri sejak tahun 80-an ini akan diganti dengan yang baru. Horeee! :D

Ada satu kisah yang entah memalukan atau memilukan. Tempat kerjaku yang berjarak sekitar 20 Km dari pusat kota, ceritanya ingin dilengkapi fasilitasnya, untuk memudahkan warga yang ingin diperiksa. Jadinya sekitar 1 atau 2 tahun yang lalu pemerintah menyumbangkan sebuah alat USG. Alat tersebut diletakkan di ruang kebidanan. Seiring waktu berjalan, alat tersebut hanya menjadi pajangan karena tak ada dokter spesialis kandungan di tempat kerjaku, atau setidaknya tenaga yang mahir menggunakan alat USG juga tidak ada. Jadinya alat USG tersebut ditutupi rekanku dengan sehelai taplak meja, entah penutupnya hilang kemana, di atas monitornya dihiaslah dengan sebuah vas bunga.

Kemudian pada suatu hari tiba-tiba datang rombongan Wakil Walikota Samarinda yang melakukan sidak (inspeksi mendadak), kami kelimpungan. Wakil walikota, Nusyirwan Ismail, langsung menanyakan keberadaan alat USG yang tentu saja sangat mahal itu. Betapa terkejutnya beliau saat melihat USG yang bertutupkan kain taplak meja dan berhias vas bunga. Beliau langsung naik pitam karena alat mahal itu ternyata tersia-siakan. Berita ini langsung menghiasi koran terkemuka di Kaltim, pada keesokan harinya, lengkap dengan foto beliau berdiri di samping alat USG yang ‘berbunga’ itu. Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan? :D

Alhamdulillah, yang kudengar dari pembicaraan beberapa pejabat kemarin, katanya akan dianggarkan dana untuk pelatihan beberapa orang pegawai agar dapat menggunakan alat USG. Semoga nantinya alat USG kami tak nganggur lagi. :D

Kunjungan walikota kemarin ditutup dengan senyuman. Banyak rekan kerjaku (yang perempuan) yang mengajak Pak Walikota untuk berfoto bersama, seolah-olah Walikota Samarinda itu adalah seorang selebriti. Tentu aku tak melewatkan kesempatan foto bareng orang nomor 1 di Samarinda, sekaligus atasan tertinggi bagi seluruh pegawai Pemkot Samarinda itu. Sayangnya saat aku memeriksa satu persatu ponsel  teman-temanku, tak ada satupun yang memuat wajahku berada satu frame dengan Pak Walikota. Mungkin lain kali bisa lebih beruntung. :D

About these ads

27 thoughts on “Kunjungan Walikota

  1. itulah lika liku hidup lingkungan kerja PNS mbak

    ada baiknya ada juga resikonya

    btw, juga ingin bisa ngoperasikan USG, bisa ndetect dedek bayi yang ada di dalam perut ibunya ^^

  2. Mbak Akin, semoga janji pak walikota segera terelisiasi ya membayarkan pwlatihan penggunaan alat usg. mestinya dilakukan swsaat sebelum alat itu dibeli. tp mungkin mereka nunggu proyek berikutnya ya..tp baiklah..yg penting masyarakat terbantu dng kehadiran alat itu ya

  3. Kalau di perusahaan Audit ya Ka…kunjungannya cuma bentar tapi ributnya sampai berhari-hari.
    Alhamdullilah ya Ka, semua baik2 saja…dan Puskesmas tentunya seperti itu ya Ka., meskipun sayang banget alat USG ngak di pergunakan.
    Emangnya ngak ada yang periksa kehamilan di sana ya Ka.

  4. Iya setuju, terjadinya penurunan pasien itu tandanya masyarakat kita makin sehat ya :) Sama di PKM kami dulu banyak alat kesehatan yang hanya jadi pajangan, contohnya inkubator, wong listriknya saja sering ngejegrek kok, hehe…

  5. sayang banget mbak mubadzir tuh alatnya padahal banyak juga rs/puskesmas yang juga membutuhkan alat itu tetapi ketika terealisasi sdm yang ada belum memadai.. jadi harusnya seiring dianggarkan untuk pengadaan alat juga dianggarkan untuk sdm-nya.. :D hehhehe..

  6. hahah setuju bngt mbak..
    semakin sedikit yang msuk puskesmas atau rumah sakit kan berarti msyarakatnya pada sehat… kecuali orang sakit tapi mals berobat.. :D

    salam kenal yah mbak.. :)

  7. Pingback: 6 Strategi "Move On" dari Hubungan Tak Sehat | bijak.net

  8. Pingback: 6 Strategi "Move On" dari Hubungan Tak Sehat | inspirasi.me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s