Anggrek yang Merekah (bagian 2)

(Bagian pertama ada disini)

Halaman parkir rumah sakit pagi itu tampak ramai dengan pegawai dan mahasiswa keperawatan yang lalu lalang. Hana bersyukur karena ia dapat bangun pagi, karena semalam ia menelan sebutir Diazepam sebelum tidur. Dengan bantuan jam weker, alarm telpon genggamnya serta berkali-kali telepon dari Desi, akhirnya ia bisa terbangun juga. Hari ini adalah hari pertama Hana untuk praktek lapangan di rumah sakit pada semester 4.

Hana memarkir sepeda motornya di tempat parkir karyawan, karena ada atapnya sehingga sepeda motornya tak akan kepanasan siang nanti. Ia merapikan ikal rambut pendeknya dan menyematkan sebuah kap kecil berwarna putih diatas kepalanya. Tiba-tiba sebuah mobil yang sangat ia kenali melintas di depannya dan berhenti di dekat pintu masuk. Sebuah jip kuning milik ayahnya.

Seorang perempuan cantik berseragam putih-putih dengan jilbab yang rapi keluar dari pintu penumpang mobil jip kuning itu. Perempuan itu adalah Mbak Wita, perawat di ruang ICU. Seseorang yang sangat Hana kagumi karena kecekatan dan kepandaiannya dalam bekerja. Kini Mbak Wita adalah orang yang paling ia benci. Hana mengenalnya tahun lalu saat praktek lapangan pada semester 2. Mbak Wita melambai ke arah pengemudi mobil, sebelum kemudian berjalan memasuki gedung rumah sakit.

Hana hanya tertegun melihat pemandangan itu. Ia juga masih terdiam saat ayahnya turun dari mobil dan menghampirinya.

“Apakah ada kabar dari ibumu, Orchid?”

“Belum ada, Yah.” Jawab Hana sambil menggeleng. Sebuah panggilan sayang dari ayahnya yang sangat Hana rindukan. Hana merasa seperti kembali ke masa-masa kecilnya.

“Baiklah, ayah pergi dulu ya.” Ayah Hana diam sejenak menunggu reaksi Hana, namun Hana hanya terdiam. Ayah Hana lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

Puluhan kalimat yang ingin disampaikan Hana terhalang oleh gumpalan tangis yang hampir pecah di tenggorokannya. Mencium tangan ayahnyapun enggan dilakukannya. Kondisi keluarga mereka saat ini membuat segalanya berubah.

Ini semua gara-gara perempuan itu, Hana membatin. Hana sangat menyesali pertemuan kembali antara ayahnya dengan Mbak Wita yang ternyata adalah cinta pertama ayahnya. Pada suatu malam tahun lalu, saat Hana akan berangkat ke rumah sakit untuk jaga malam, ban sepeda motornya ternyata bocor. Ia lalu meminta diantar oleh ayahnya. Saat tiba di depan rumah sakit, ayahnya bertemu dengan Mbak Wita.

Rupanya pertemuan di malam itu adalah awal dari kemelut yang dihadapi keluarga Hana. Ia mengira Mbak Wita yang janda dengan satu orang anak itu hanya berteman biasa dengan ayahnya, hingga sekitar sebulan yang lalu Hana mulai menemukan fakta. Berawal dari pesan singkat ayahnya untuk Mbak Wita yang masuk ke telepon genggam Hana, yang berisi untaian kata cinta.

Wita sayang, maafkan karena hari ini aku tak dapat menemuimu. Ada proyek di luar kota yang harus kutangani. Tadi aku ingin menelponmu, tapi telponmu tak aktif. Aku ingin mendengar suaramu, Cintaku.

“Ayah, apa-apaan ini?” Hana langsung menunjukkan pesan singkat itu kepada ayahnya setelah ayahnya pulang dari luar kota. Ia merasa terluka. Ia masih merahasiakan hal ini dari ibunya.

“Apakah ayah sedang pacaran dengan Mbak Wita?”

“Itu…” Ayah Hana tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia diam dan terduduk di ruang kerjanya.

“Hana tak akan pernah memaafkan ayah!”

“Orchid, biar ayah jelaskan.”

“Tidak perlu, Yah.” Hana berbalik keluar dari ruangan ayahnya.

Hana merasa hancur. Ayahnya ia anggap sebagi sosok ideal sebagai seorang suami dan ayah. Ayah yang ia bangga-banggakan selama ini, ternyata memiliki wanita lain. Ia bertanya-tanya, apa sebenarnya kekurangan ibunya. Ibu selama ini telah berusaha menjadi istri yang baik, melayani ayah sebagai rajanya dan mengurus Hana dan adiknya dengan sangat baik.

Mendadak telepon genggam Hana berbunyi, membuyarkan lamunannya. Ia mengangkatnya. Suara Desi yang cempreng kemudian terdengar.

“Hana, kamu dimana? Jangan sampai kamu terlambat tanda tangan absen loh”

“Iya, aku sudah dekat bangsal bedah kok” Hana bergerak menuju bangsal bedah dengan setengah berlari. Ia bersyukur karena  tidak ada giliran praktek di ICU pada semester ini.

(bersambung)

About these ads

24 thoughts on “Anggrek yang Merekah (bagian 2)

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Akin…

    Rindu menghadirkan saya kemari menemui mbak Akin yang saya kira masih hiatus. Rupanya sudah aktif lagi. maaf mbak kerana baru menyapa.

    Sungguh memilu hati ya kalau ibu Hana tahu tentang ini.
    Saya yakin akan ada pengakhiran jalan yang baik untuk solusi dalam urusan cinta orang tua Hana.

    Salam mesra dari saya mbak. :D

  2. Pingback: Anggrek yang Merekah (bagian 3) « Try 2B cool 'n smart…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s