Anggrek yang Merekah (bagian 1)

Cerpen “Anggrek yang Merekah” ini adalah cerpen ketiga (atau yang keempat ya?) yang kubuat sejak  aku melirik lomba-lomba atau audisi antologi, sekitar pertengahan Desember 2011 lalu. Saat itu aku menyertakan cerpen ini pada event yang bertema “Kehilangan” dan aku belum berhasil. Sebenarnya sudah berulang kali aku menyertakan cerpen ini pada berbagai event setelah gagal lolos pada event pertama itu dan belum berhasil jua lolos untuk diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan cerpen.

Aku memutuskan untuk menayangkan saja cerpen ini di blogku tercinta ini. Versi ini adalah versi asli, saat pertama kali aku membuatnya. Versi lainnya adalah cerpen yang sudah kuedit untuk keperluan event lain (menyesuaikan dengan tema yang dilombakan). Saat membaca ulang cerpen ini, terkadang aku merasa lucu atas terbatasnya diksi yang kumiliki.

Selamat menikmati cerpen ini. Insya Allah akan kubagi dalam beberapa postingan. ;)

______________________________

ANGGREK YANG MEREKAH

Praktek yang sangat melelahkan dan membosankan. Hana bertanya-tanya mengapa dulu ia mau kuliah di jurusan keperawatan. Di tahun pertama kuliahnya di Akademi Keperawatan, Hana sangat gembira dan antusias menjalani perkuliahan karena memang menjadi seorang perawat adalah pilihannya. Hana selalu menjadi yang terbaik di kelasnya. Tetapi kini di semester 4 Hana kehilangan semua semangatnya. Rasanya ia mulai membenci perawat.

Praktek resusitasi jantung paru kali ini semestinya sangat menarik. Satu per satu temannya menekan-nekan dada boneka dengan gerakan tertentu dan meniup mulut boneka, hingga lampu indikator menyala yang menandakan pijatan dan tiupan yang mereka lakukan itu sudah benar. Teman sekelilingnya serius memperhatikan, namun Hana hanya menatap kosong.

“Han, giliramu maju” Desi mengguncang halus bahu Hana, membangunkannya dari lamunan.

“Oh, iya. Terima kasih, Des.”

Perlahan Hana duduk di samping boneka resusitasi. Ia berusaha mengingat-ingat urutan tindakan yang harus dilakukannya. Kosong. Tak ada satupun yang bisa diingatnya dan iapun tidak tahu harus memulai dari mana.

“Hana, silakan dimulai” Suara Pak Ridwan yang menggelegar, tak mampu juga membuat Hana mengingat bahan ajaran teori resusitasi yang beliau sampaikan pekan lalu.

“Saya besok saja, Pak. Ikut kelas sebelah. Saya sedang tak enak badan.” Kata Hana beralasan. Kepalanya memang agak pusing dan badannya terasa seperti melayang.

“Kalau begitu, silakan istirahat.” Pak Ridwan kemudian memanggil giliran selanjutnya.

“Des, aku pulang duluan ya. Badanku lemes banget rasanya.” Hana membereskan tasnya, lalu melangkah keluar ruang praktikum.Desi mengiringi di sampingnya.

“Kalau lemes, kuantar saja. Motormu ditinggal saja, kita naik motorku.”

“Tidak usah. Aku bisa sendiri kok.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan ya, Han.” Desi melangkah kembali menuju ruang praktikum.

Di tempat parkir kampus Hana berusaha membangkitkan sensasinya. Pikirannya seolah-olah masih berkabut. Hana menyadari mengapa badannya masih terasa seperti melayang. Rupanya efek sebutir tablet kecil yang diminumnya kemarin sore masih ia rasakan hingga siang harinya.

*****

Anggrek bulan di halaman menyambut Hana dengan hangat. Namun berbeda dengan di dalam. Rumah sangat sunyi saat Hana melangkah masuk. Dingin ia rasakan seketika, tak ada kehangatan. Tak ada aroma masakan seperti biasanya. Sudah 3 hari ibu dan Rio,adik kecilnya, pergi ke rumah nenek di kampung. Hana harus menyiapkan makanan sendiri untuk dirinya dan kadang untuk ayahnya juga bila kebetulan beliau ada di rumah.

Perlahan Hana membuka pintu kamar orang tuanya. Pertengkaran kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu menyisakan kamar yang berantakan. Hana merasa tak memiliki tenaga untuk merapikan kamar itu. Saat pulang, biasanya ayahnya hanya tidur di ruang kerja.

Sambil berbaring di ranjang kamarnya sendiri Hana mencoba menelpon ibunya. Nada tut tut pendek-pendek menandakan telepon genggam ibunya masih tidak aktif. Nenek juga tidak memiliki telepon di rumah beliau. Genangan air kemudian menumpuk di pelupuk mata Hana.

Sepintas Hana melihat tulisan di dinding kamarnya. Sebuah tulisan yang dulu ditulisnya dengan maksud sebagai penyemangat hidupnya.

Hana Orchidah, kau harus bahagia! Semangat!

Hana berpikir, mungkinkah ia bisa bahagia? Dengan mata basah Hana tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi sedang bermain-main bersama kedua orang tuanya di halaman rumah nenek, saat ia masih kecil dan tinggal di kampung. Saat itu ayahnya memiliki waktu penuh untuk keluarga.

*****

About these ads

13 thoughts on “Anggrek yang Merekah (bagian 1)

  1. Pingback: Anggrek yang Merekah (bagian 2) « Try 2B cool 'n smart…

  2. Pingback: Anggrek yang Merekah (bagian 3) « Try 2B cool 'n smart…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s