Aku memicingkan mata, mengukur-ukur perempuan di depanku.
“Kamu Manis,” kataku. Tentu saja hanya di dalam hati.
Mata bulat itu menatap lembut. Warna coklat irisnya meneduhkan. Indah.Warna jingga samar menghias kelopak matanya, senada dengan baju yang dikenakannya.
Sapuan natural di wajah berkulit putih itu, membuat wajah itu semakin bercahaya. Aku yakin, siapapun tak akan cukup sekali saat memandang wajahnya.
Teringat aku saat akan keluar rumah tadi hanya berbedak bayi. Sepintas kulihat di pantulan kaca saat di toilet tadi, wajahku kusam tiada cahaya.
Satu kosong untuk perempuan itu.
Jika bentuk tubuh seperti bintang iklan produk pelangsing merupakan impian semua perempuan, maka aku yakin perempuan itu tak perlu bermimpi. Tidak tampak tonjolan lemak tak penting. Semua proporsional.
Rok yang kukenakan saja tak terkancing pada bagian pinggangnya. Tentu saja karena bobotku yang agak sulit terkontrol.
Dua kosong untuk perempuan itu.
“Saya pesan hot tea,” ucap perempuan itu pada pelayan cafe yang menghampiri kami, “Kamu pesan apa?”
Gelagapan aku menjawab. Ah, rasanya salah bila aku harus gugup saat ditanya minuman apa yang akan kupesan.
“Air mineral saja,” sahutku akhirnya.
“Jadi, satu hot tea dan satu air mineral ya, Mbak. Terima kasih.” Perempuan itu menyebutkan pesanan kami kepada sang pelayan.
Suaranya sangat lembut. Seperti perempuan Jawa dengan tutur lembut dan halus bahasanya.
Cempreng, kaleng rombeng, atau beberapa istilah lainnya, kerap digunakan teman-temanku untuk menjuluki suaraku yang sangat tak nyaman didengar.
Tiga kosong untuk perempuan itu.
“Namaku Indah.”
“Aku sudah tahu,” tanpa ia memperkenalkan nama, aku sudah tahu siapa dia sejak berbulan-bulan yang lalu, “rasanya kau juga sudah tahu siapa namaku.”
“Iya.”
Kediaman tercipta diantara kami. Ia tampak tenang. Ia menatapku dengan lembut. Seandainya ia menatapku sinis, dengan mudah aku akan membalasnya dengan sinis pula. Namun tatapan lembut itu membuatku gugup.
Empat kosong untuk perempuan itu.
Sebuah nilai buruk jika dibutuhkan seri dalam sebuah pertandingan sepak bola. Apalagi bila dibutuhkan nilai kemenangan.
Namun tentu saja aku tidak akan maju bila tidak memiliki persiapan. Itu bodoh namanya.
“Aku mohon kau meninggalkan suamiku.” Ada ketegasan di balik kelembutan suara perempuan itu.
Inilah yang kutunggu-tunggu.
“Tidak akan, Indah. Bahkan meskipun aku mau, ia juga tidak akan mau meninggalkanku.”
Kini nilai kami bukan seri. Namun aku menang telak.
“Kamu memang manis, Indah. Tetapi hatinya sudah terbagi untukku.”
Aku tersenyum puas.
ha? udah 4-0 buat dia tapi tetep aja kalah yak hiks ….
mba Akin bisa aja bikinnya, aku sampai harus 2x mbacanya
apa karena pikiranku sedang bercabang
di saat yg sama asisten yg ada minta mudik juga hiks
Apakah karena Mbak Nique kebanyakan bikin FF?
Hehe…
ckckckck….harus hati2 nih sm Indah #lho? qiqiqiqi
Hehe… kalo kita sih pasti kalah saingan sama Si Indah
jadi teringat seorang kawan setelah membaca cerita ini…bak dejavu
Jangan2 sering terjadi ya…?
perempuan itu kalah telak ternyata. kasian yah, udh cantik tp kok suaminya malah sm cewe lain *sedih* berarti cantik emg bkn nilai mutlak :p
Nah, itu dia…
Mari kita tanyakan pada si suami. Hehe…
wuah, kalimat terakhir bikin si indah kena “skak mat” tuh!
Indah kalah telak
wowww,
berasaa g’mana gtuu
Matab beer tuh kalimat terakhirnya..
Hmm…walau lembut dan manis tetap kalah ya Akin? Karena hatinya terlanjur ada yang memiliki secara sah.
haduhhhh akin…. tulisanmu makin apik aja. suka banget bacanya.
itu cerita rebutan suamikah…??
ga terlalu mudeng je…
telak dan miris heeee
ahaha..keren
baca ini jd inget acaranya Oprah, Kak.. klo nggak salah Oprah mewawancarai kenapa suami2 selingkuh.. padahal selingkuhan2nya itu (maaf) jauh lebih jelek daripada istri2nya.. jawabannya panjang dan beragam hehehe
Hihihi keren mbak…
skak mat!
semoga tidak ada tanding ulang … hehehe
Hmmm..