Ruangan itu senyap. Rasanya hanya detakan jantungku yang dapat terdengar. Dag…dig…dug…
Begitu kencangnya detakan jantungku, hingga dadaku turun naik seiring dengan irama detakan itu. Sama seperti gerakan dada almarhum bapak saat rumah kami didatangi oleh sekelompok polisi.
“Pak Anwar, Bapak kami tahan atas tuduhan tindak pidana korupsi.”
Bapak menatap ibu, aku dan adik dengan pandangan memohon pengertian. Aku yang saat itu masih berseragam putih biru bisa memahami arti tatapan bapak. Bapak tidak bersalah, Nak. Kau tak perlu malu.
Kupandang wajah ibu yang tiada gurat kesedihan. Tatapan ibu terhadap ayah menyiratkan sebentuk pemahaman. Ya, aku sepenuhnya mempercayaimu. Aku akan menjaga anak-anak kita dengan segenap jiwa ragaku.
Bapak berkeras tidak bersalah. Aku yakin para penegak hukum itu buta, karena tidak melihat kesederhanaan keluarga kami.
Kami juga tidak mempunyai uang sabun. Berbeda dengan tahanan lainnya yang bisa keluar karena ada uang jaminan.
Tidak genap hitungan jari aku bertemu dengan bapak. Ingin rasanya sering-sering datang dan berbicara dengan beliau, tetapi tabunganku dan tabungan ibu ludes untuk membayar biaya perjumpaan itu.
“Kamu harus jadi orang besar.” Kata bapak sambil menggenggam erat tanganku.
Bapak meninggal di tahanan beberapa bulan kemudian, saat menjalani proses persidangan yang tiada habisnya.
Cicit…cicit…
Aku tersadar dari lamunan. Sangat menyenangkan sekali dapat mendengar suara selain detak jantungku.
Cicit…cicit…
“Oh, Udin ya? “
Udin menatapku dari sudut ruangan. Ia menggenggam sesuatu dengan kedua kaki depannya. Makanankah?
“Tenang, Din. Aku tak akan merebut makananmu.”
Udin sibuk mengunyah. Sesekali ia menatapku seolah-olah menertawakan ketakberdayaanku. Berbeda dengan suatu kondisi yang berbalikan, bertahun-tahun yang lalu.
“Alhamdulillah, tikusnya kena jebakan. Sudah mati, Bu.” Aku menunjukkan bangkai tikus itu kepada ibu.
“Syukurlah, berkurang satu lagi tukang teror warung ibu.”
Warung kelontongan kecil, menjadi sandaran keluarga kami, selain uang pensiunan bapak. Ibu banting tulang untuk menyekolahkanku dan adik hingga kuliah.
Kampus adalah tempatku untuk berekspresi atas ketidakadilan yang terjadi. Perjuangan-perjuangan yang kulakukan, sayangnya hanya dapat menyentuh lapisan terluar kebobrokan sistem. Aku harus berjuang lebih besar lagi.
Aku bertanya-tanya bagaimana kabar saudara-saudara yang tempo hari kupimpin menyuarakan aspirasi di Istana Negara, atau yang sebelumnya lagi di gedung MPR. Aku yakin mereka konsisten dengan apa yang telah kami pegang selama ini.
Cicit…cicit…
“Ah, Udin. Aku hampir melupakanmu. Apakah kamu juga pernah berdemo? Apakah demo karena kini semakin banyak manusia yang memasang racun tikus?”
Udin tak menyahut. Ia hanya berjalan di sekitar kakiku. Kubiarkan saja ia menciumi ujung sepatuku.
Tiba-tiba kudengar suara gaduh diluar. Empat orang pria masuk sambil membuka pintu dengan kasar. Udin berlari menjauh karena terkejut.
Dag…Dig…Dug…
Jantungku berdegup lebih kencang lagi. Satu diantara mereka maju ke arahku.
“Saudara Rahmad, suasana di luar sudah tenang kembali. Pergerakan yang Saudara lakukan telah selesai.”
“Mmph…” Aku yakin ia tak dapat mendengar ucapanku. Lakban sialan ini hanya dilepas sekali sehari saat menurut mereka aku lapar. Aku tiada daya, karena tangan dan kakiku terikat.
“Saudara tidak perlu berkata apa-apa, karena ini adalah tugas terakhir kami terhadap Saudara.”
Pria itu kemudian memberi kode. Salah seorang rekannya maju dan mengarahkan pistol kepadaku.
Degupan kencang itu tiada terasa lagi. Hanya panas yang menusuk. Basah. Gelap.
Sip dah…
Tengkiyu ya…
nasib Aktivis…
Hmm… semoga nggak beneran terjadi ya…
Amin..
Tapi kykna udah pernah terjadi, di zaman2 orba dulu…
ceritanya bener2 dag dig dug n flash bgt…. sesuai namanya, flash fiction…
sukse trs y
Iya, Mbak. Ceritanyan pendek doang
wuaaahh,
Ajib bgt dahh ceritanya..
Top markotop..
Gud marsogud
keprok keprok … kapan ya saya bisa bikin sebagus ini? *manyun*
Jangan manyun dong, Mbak…
Masih ada 13 hari lagi.
Semangat!
Saleum,
Narasinya ngena buat saya mbak, sipp…
saleum dmilano
Semoga nggak kena tembak ya
bener2 bikin dag dig dug..
sukses ngontesnya Kak
Dipenuhi suara jantung
Pertanyaan saya, kenapa namanya udin?
Hahaha
Karena Udin sudah terkenal dimana-mana…
Hahaha…
FF yg heroik!
Tapi hero-nya mati…
dag dig dug hatiku membaca akhir kisahnya
Sayang sekali akhirnya tidak mengejutkan
Hari ini banyak yang dag-dig-dug…
Besok apa lagi ya???
Iya, Pak Mars, sempat lihat daftar update sahabat kok banyak yang judul postingannya dag-dig-dug. ternyata oh ternyata…
Saya sedang coba menulis flash fiction, tapi tetap saja ngelantur, jadi panjang kali lebar. Hehehe…
Salut untuk ff yang bener-bener bikin dag dig dug ini.
Hehe… susah2 gampang bikin FF. Sering kepanjangan. Harus ngurangin kata2 deh jadinya
Uhuk, menyusul Bapak deh T__T”
Innalillah…
Jedat jedot mbak bacanya
untung tidak sampai tertembak dan dooooooor
Hahaha…
Udah kenalan sama Si Udin, belum?
nasib orang kecil sulit berharap keadilan yang besar
Iya ya, Pak…
hoo, ini ceritanya tentang aktivis gitu ya kak~
semoga gak terjadi pada saya…
Iya nih…
Mencoba meraba-raba apa yang terjadi…
lanjut…kan…
Lanjutkan kemana, hayo…
woowwwww….hanya kata ini yang terlintas…..
Cihuy, sang master flash fiction datang
Dahsyaaaat, Mbaaak!
Bagaikan novel thriller!
Padahal aku gak suka adegan tembak-tembakan e…
kakaAkin lagi ikut kontes lagi ya…:D
Bukan kontes nih…
Cuma seru2an aja kok
hatiku jadi ikutan dag dig dug nih….
Hihihi
Hehehe…
keren keren keren bangets sob
Makasih ya
keren, mantap loh…
semoga menang…
Bukan kontes, Mas
wow….keren kak
singkat, padat, langsung dapat
Memang harus disingkat2in
Assalamu’alaikum mba.
moga sukses ya.
Maaf lama tak berkunjung. habis pindahan rumah jadi sebulanan ga ngeblog.
ini kontes kah mba?
saya ketinggalan banyak berita nih
oo… ternyata pindahan ya…
Bukan kontes nih, cuma untuk update blog aja
jd ikut deg2an… seremnya dunia politik..
sukses di dgn FF nya Kak
Kok yang ini, aku ga paham ya. *garukgaruk*
hiks mati
waaawww! ceritanya ………………….